Mereka pindah ke hotel kecil yang tidak terdaftar atas nama Richard. Bangunannya tua, hanya tiga lantai, terjepit di antara toko roti dan binatu. Detektif memeriksa kamar lebih dulu, membuka lemari, menengok kamar mandi, bahkan menggeser lukisan murah di dinding. Setelah yakin, ia memasang alat komunikasi yang aman di meja.
Yura duduk di dekat jendela dengan secangkir kopi yang belum disentuh. Uapnya sudah lama hilang. Di luar, hujan turun tipis dan orang-orang berjalan cepat dengan payung hitam. Semua terlihat asing. Bahkan cara mereka menyeberang jalan pun berbeda.
"Mia akan datang?" tanyanya.
"Dia bilang akan menghubungi kita."
"Kalau dia tidak datang?"
Richard memandang jalan yang basah oleh hujan. "Kita akan mencari Adrian."
"Lo tahu wajahnya?"
"Dari foto detektif."
"Kota sebesar ini, Chad."
"Saya tahu." Richard menggosok pelipisnya. "Tapi saya tidak punya pilihan lain."
Detektif meletakkan tiga ponsel baru di atas meja. "Mulai sekarang pakai ini. Jangan hidupkan ponsel lama, jangan sambungkan ke jaringan hotel, dan jangan mengirim foto apa pun ke Indonesia. Mereka melacak lebih cepat dari yang Anda kira."
Yura mengambil salah satunya. Benda itu terasa asing di tangannya, seperti semua hal di kota ini.
Yura ingin mengatakan bahwa mereka juga bisa pulang, menyerahkan semuanya kepada polisi dan pengacara, lalu membiarkan dua keluarga kaya itu saling menghancurkan diri sendiri. Namun ia tahu Richard tidak akan mau. Dan lebih dari itu, ia tahu dirinya sendiri pun tidak akan tenang sebelum tahu siapa yang membayar orang-orang untuk menuliskan namanya di berita.
Pintu diketuk tiga kali. Ketukannya pelan, hampir ragu.
Detektif mengangkat tangan, meminta semua orang diam. Ia memeriksa kamera kecil di dekat pintu, memandang layar selama beberapa detik, lalu membuka kunci dari dalam sambil menempatkan tubuhnya di sisi daun pintu.
Seorang lelaki berambut panjang masuk dengan napas terengah. Mantelnya basah kuyup dan sepatunya berlumpur. Yura mengenalinya dari foto Mia yang pernah ia lihat di ponsel detektif.
Itu Adrian.
"Mia dalam bahaya," katanya bahkan sebelum pintu tertutup. "Dia ditahan oleh orang-orang ayahnya."
Richard langsung berdiri. Kursinya berderit ke belakang. "Di mana?"
"Aku tidak tahu lokasi tepatnya. Kami berpindah-pindah sejak keluar dari hotel. Dua malam di apartemen teman, satu malam di stasiun. Kemarin sore mereka menemukan kami di dekat pasar. Mia sempat mendorongku ke arah gang sebelum mereka menariknya."
"Berapa orang?"
"Empat. Dua menunggu di mobil."
"Dan kamu lari."
Adrian mengangkat wajahnya. Matanya merah. "Dia yang menyuruhku lari. Karena aku membawa ini."
Ia merogoh saku dalam mantelnya dan menyerahkan sebuah benda kecil berwarna hitam. Flash drive itu masih hangat dari suhu tubuhnya.
"Dia memberiku ini sebelum kami berpisah."
Richard memasukkannya ke laptop. Jari-jarinya bergerak cepat. Isinya berupa satu berkas rekaman percakapan, berdurasi tujuh menit, antara ayah Mia dan seseorang dari keluarga Richard.
Suara perempuan tua terdengar jelas. Tidak ada yang perlu ditebak. Itu suara Mama Richard.
"Pernikahan harus tetap berlangsung. Kalau Richard membatalkannya, semua saham akan jatuh ke tangan orang lain."
Suara ayah Mia menjawab, "Anakmu harus menandatangani kontrak sebelum tahu isinya."
Yura menutup mulut dengan telapak tangan. Richard memejamkan mata dan tidak bergerak sampai rekaman itu selesai. Ketika suara di laptop berhenti, ruangan terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.
Rekaman itu membuktikan kedua keluarga memang bekerja sama.
Richard memutarnya sekali lagi dari awal. Yura ingin memintanya berhenti, tetapi tidak jadi. Ada hal-hal yang memang harus didengar dua kali supaya bisa dipercaya.
"Mia merekam ini?" tanya Richard. Suaranya serak.
Adrian mengangguk. "Dia meletakkan ponselnya di bawah taplak meja waktu ayahnya menerima tamu. Dia ingin menghentikan mereka. Tapi ayahnya mengetahui rencana kami."
Richard menatap Adrian dengan curiga yang tidak disembunyikannya. "Kenapa saya harus mempercayaimu? Kamu mantan pacarnya. Kamu yang menemaninya kabur tiga hari sebelum pernikahan kami."
"Karena kalau aku ingin menjual bukti ini, aku sudah melakukannya sejak awal," jawab Adrian tenang. "Ada orang yang menawar dua ratus ribu pound untuk berkas itu kemarin. Aku tidak menjawab."
Richard tidak berkata apa-apa lagi.
Detektif menerima panggilan dari nomor tidak dikenal. Ia mengangkatnya, mendengarkan sebentar, lalu menyerahkan ponsel itu kepada Richard sambil berbisik, "Nona Mia."
Suara Mia terdengar di seberang, tercekat, seperti orang yang berbicara sambil menutupi mulutnya.
"Richard, jangan mencari aku. Mereka tahu kamu sudah datang. Pulanglah sebelum keluargamu menghancurkanmu."
"Di mana kamu?"
"Aku tidak bisa bilang."
"Mia, dengarkan saya. Kami akan menemukanmu."
"Tidak." Napasnya terdengar berat. "Kamu harus memilih apakah akan mempertahankan perusahaan atau menyelamatkan orang-orang yang kamu cintai. Mereka sudah menyiapkan perangkap."
"Mia—"
Panggilan terputus. Richard memukul meja dengan telapak tangan sampai cangkir kopi Yura bergetar.
Yura berdiri dan menyentuh lengannya. "Kita akan menemukannya."
Richard menatap tangan Yura di lengannya, tangan kecil yang beberapa hari lalu masih ingin menamparnya. Lalu ia mengangguk.
Detektif membuka peta kota di layar dan menandai beberapa lokasi yang mungkin digunakan untuk menyembunyikan seseorang. Gudang kosong, rumah sewa yang dibayar tunai, bangunan lama dekat air.
"Ayah Nona Mia punya kepentingan di dua kawasan ini," katanya. "Dekat air, karena barang mudah dipindahkan."
"Barang," ulang Yura pelan. "Kalian menyebut orang begitu?"
Detektif tidak menjawab, dan diamnya sudah cukup menjadi jawaban.
Mereka membagi tim. Richard, Yura, dan Adrian menuju bangunan tua dekat dermaga, sedangkan detektif memeriksa gudang lain di sisi utara bersama dua orang rekannya.
Hujan turun semakin deras ketika mereka tiba. Air menggenang di antara batu jalan dan bau sungai menyengat. Bangunan itu berdiri sendirian, jendelanya pecah sebagian, dan tidak ada satu pun lampu menyala di dalamnya.
Pintu bangunan terbuka. Tidak terkunci, tidak rusak, hanya terbuka.
Richard masuk lebih dulu. Di dalam, lantainya penuh debu yang sudah terinjak banyak sepatu. Mereka menemukan kursi terbalik di tengah ruangan dan selembar kain yang memiliki noda darah, masih setengah basah.
Yura merasakan kakinya melemas dan harus berpegang pada dinding.
"Mia!" teriak Richard. Suaranya memantul di ruangan kosong. "Mia!"
Tidak ada jawaban. Hanya suara hujan di atap seng.
Adrian berjalan ke sudut dan menemukan sebuah ponsel pecah di lantai. Ia memungutnya dengan ujung jari, lalu menekan tombolnya. Layar retak itu masih menyala, menampilkan foto Richard dan Yura dari berita Indonesia. Foto yang diambil di depan restoran.
"Kenapa mereka menyimpan foto ini?" bisik Yura.
"Supaya orang yang menjaga tempat ini tahu wajah siapa yang sedang mereka tunggu," jawab Adrian.
Adrian membalik ponsel itu. Di bagian belakangnya, seseorang menempelkan secarik kertas kecil dengan tulisan tangan.
"Kamu membawa perempuan yang salah."