Richard menatap pesan Mia lama sekali, seolah kalimat itu bisa berubah kalau cukup lama dipandangi. Ia kemudian menunjukkan layar kepada Yura. Gadis itu membaca kalimat singkat tersebut dan menghela napas.
"Jadi kita benar-benar pergi ke London?"
"Ya."
"Kapan?"
"Malam ini."
Yura mengira Richard hanya mengatakannya karena panik. Orang yang baru saja mengetahui ibunya membayar media untuk menghancurkan nama orang lain tentu boleh berkata sembarangan sekali dua kali. Namun satu jam kemudian Arman sudah mengurus penerbangan, penginapan, dan pengawalan. Tiket dikirim ke ponsel Yura. Nomor kursi, jam keberangkatan, nama hotel yang tidak terdaftar atas nama siapa pun.
Semua bergerak terlalu cepat hingga Yura tidak sempat memikirkan perasaannya sendiri.
Baru ketika ia berdiri di depan lemari dan bingung harus membawa baju apa ke negara yang tidak pernah ia bayangkan akan ia datangi, Yura sadar betapa anehnya hidupnya dalam tiga hari terakhir. Empat hari lalu ia masih sibuk memilih warna taplak untuk resepsi Mia. Sekarang ia mengemasi koper untuk mencari perempuan itu.
Sebelum berangkat, Yura kembali ke rumah untuk menemui Mama. Ayahnya belum ditemukan. Ponselnya mati, dan tidak ada satu pun temannya yang mengaku melihatnya sejak siang. Petugas masih menjaga sekitar rumah, berdiri di dekat pagar sambil sesekali menyapa tetangga yang lewat. Neli datang membawa pakaian dan dokumen penting dalam koper kecil.
"Lo yakin mau pergi?" tanya Neli sambil melipat baju terakhir.
"Gue harus membantu Richard mencari bukti."
"Richard lagi?"
Yura tersenyum lelah. "Jangan mulai."
"Gue gak mulai apa-apa. Gue cuma ngitung." Neli duduk di tepi ranjang. "Sejak dia muncul lagi, lo dikejar wartawan, difitnah jadi pelakor, dituduh mencuri dokumen, dan sekarang mau terbang belasan jam ke negara yang gak pernah lo datangi. Itu bukan bantuan namanya, Yur. Itu kena imbas."
"Nama gue yang dipakai, Nel. Bukan nama dia."
"Justru itu. Lo bisa bersihin nama lo dari sini. Ada pengacara, ada pernyataan resmi."
"Gue gak percaya sama pernyataan resmi. Gue pengin lihat sendiri orangnya, dengar sendiri alasannya."
"Terus kenapa tetap pergi?"
Yura tidak menjawab. Ia menutup ritsleting koper, dan bunyi itu terdengar seperti jawaban yang sengaja disembunyikan.
Neli menatapnya serius. "Gue cuma takut lo kembali terluka."
Yura tetap tidak menjawab. Ia juga takut hal yang sama, hanya saja mengatakannya dengan suara keras membuat ketakutan itu jadi nyata.
Mama memeluknya sebelum ia berangkat. Pelukan itu lebih lama dari biasanya, dan Yura bisa merasakan tulang bahu ibunya yang semakin menonjol.
"Jangan mengambil keputusan besar hanya karena merasa berutang kepada Richard."
"Aku tahu, Ma."
"Kalau kamu ingin pergi karena mencintainya, akui pada dirimu sendiri. Jangan bersembunyi di balik alasan menolong. Yang paling melelahkan itu bukan mencintai orang yang salah, Nak. Tapi berpura-pura tidak mencintai siapa pun."
Yura mengeratkan pelukan supaya ibunya tidak melihat matanya berair. Nasihat itu mengikuti pikirannya sampai ia masuk ke mobil Richard, duduk di sebelah lelaki yang selama tiga tahun ia bilang paling ia benci.
Di bandara, mereka melewati jalur khusus. Beberapa petugas mengenali Richard dan mengangguk hormat. Tidak ada wartawan, tidak ada kilat kamera, dan untuk pertama kalinya sejak pagi Yura bisa bernapas normal. Richard terlihat tenang di luar, tetapi jemarinya terus mengetuk sandaran tangan dengan irama yang sama, berulang-ulang.
Yura duduk di sampingnya di ruang tunggu.
"Lo masih memikirkan Mia?" tanya Yura.
"Saya memikirkan kebenaran."
"Itu jawaban rapat direksi. Gue nanya sebagai orang yang duduk di sebelah lo sekarang."
Richard diam beberapa saat. "Saya memikirkan semuanya. Mia. Satrio. Mama. Kamu."
Yura menoleh cepat, tetapi Richard sudah memandang lurus ke depan, seolah nama terakhir itu tidak sengaja lolos dari mulutnya.
"Kalau setelah ini Mia ternyata tidak bersalah, lo akan kembali kepadanya?"
Richard menatap Yura. Pertanyaan itu menggantung di antara mereka, cukup lama sampai terdengar panggilan boarding dari pengeras suara.
"Saya tidak tahu."
Yura mengalihkan pandangan ke jendela besar tempat pesawat-pesawat berjajar. Jawaban itu lebih menyakitkan daripada penolakan. Penolakan setidaknya punya bentuk, punya ujung. Ini tidak.
Pesawat lepas landas beberapa jam kemudian. Yura mencoba tidur, tetapi suara Richard yang meminta pengacara memeriksa dokumen terdengar berulang dari kursi sebelah, kadang dalam bahasa Indonesia, kadang dalam bahasa Inggris. Ketika lampu kabin diredupkan dan sebagian besar penumpang sudah menyelimuti diri, Richard akhirnya menutup laptop dan menoleh kepadanya.
"Kamu belum tidur."
"Lo juga."
"Saya takut kalau tidur, saya akan melewatkan sesuatu."
"Tidak semua hal harus lo kendalikan."
Richard tersenyum tipis. "Dulu kamu selalu mengatakan itu."
"Dulu lo tidak pernah mendengarkan."
"Sekarang juga belum tentu."
Mereka tertawa pelan, hati-hati supaya tidak mengganggu penumpang lain. Untuk beberapa detik, ketegangan di antara mereka menghilang, dan yang tersisa hanya dua orang yang pernah saling mengenal sampai ke kebiasaan paling kecil. Yura lupa bahwa ia seharusnya membenci lelaki ini.
"Chad."
"Hm?"
"Kalau nanti semuanya selesai, dan lo balik jadi orang paling sibuk sedunia lagi, jangan hilang gitu aja. Sekali itu sudah cukup."
Richard tidak menjawab. Tetapi ia juga tidak membantah.
Namun, ketika Yura akhirnya tertidur dengan kepala miring ke arah jendela, Richard memandang wajahnya dengan perasaan bersalah yang menumpuk. Ia yang menariknya ke dalam semua ini. Ia yang datang ke kost Yura malam itu, membawa kekacauannya sendiri, lalu membiarkan perempuan ini menanggung sebagian. Ia tahu perjalanan ini bisa menyeret Yura lebih jauh ke dalam bahaya, dan ia tetap membiarkannya ikut.
Richard melepas jaketnya dan menyelimutkannya ke tubuh Yura, lalu kembali membuka laptop.
Di London, udara dingin menampar wajah mereka begitu pintu bandara terbuka. Langit masih kelabu meskipun jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Yura menarik jaket Richard yang masih tersampir di pundaknya lebih rapat. Ia belum sempat mengembalikannya, dan Richard belum sempat memintanya. Detektif menjemput mereka menuju apartemen aman di sebuah kawasan yang tenang, dengan pintu bercat hijau dan tangga sempit berderit.
Mia tidak berada di sana.
"Nona Mia seharusnya menunggu di sini sejak semalam," kata detektif sambil memeriksa ruangan. Di atas meja terdapat cangkir yang masih separuh penuh dan selembar kertas terlipat.
Mia meninggalkan pesan baru bahwa seseorang telah membuntutinya sejak ia keluar dari stasiun.
"Kita harus pindah tempat," kata detektif.
Richard mengangguk. Ia mulai memasukkan kembali laptop ke dalam tas, sementara Yura berjalan ke jendela dan menyibak tirai sedikit.
Di seberang jalan, sebuah mobil hitam berhenti dengan mesin yang masih menyala.