Richard memandangi tanda tangan di atas dokumen itu tanpa berkedip. Nama ibunya tercetak jelas di bawah halaman pembayaran media, lengkap dengan tanggal dan nominal yang tidak main-main. Arman berdiri di seberang meja dengan wajah hati-hati, seperti orang yang baru saja meletakkan benda pecah di tangan majikannya. Yura memperhatikan Richard yang mendadak kehilangan warna di wajahnya.
"Ini bisa saja dipalsukan," kata Yura.
"Bisa," jawab Arman. "Tapi cap digitalnya terhubung dengan perangkat di rumah Ibu. Pembayaran dilakukan tiga hari lalu."
"Tiga hari lalu," ulang Yura pelan. "Sehari setelah Mia hilang."
Arman mengangguk. "Benar, Nona."
Richard tidak mengatakan apa-apa. Ia meraih ponselnya dan menghubungi ibunya. Panggilan pertama berdering sampai habis tanpa dijawab. Panggilan kedua langsung ditolak, bahkan sebelum nada sambung selesai satu putaran.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa ibunya sengaja menghindarinya. Perempuan yang selalu menelepon tiga kali sehari hanya untuk menanyakan apakah ia sudah makan, kini menolak panggilannya dalam dua detik.
Richard meletakkan ponselnya di meja dengan hati-hati, seolah takut benda itu pecah. Yura melihat lelaki yang tadi pagi berani berdiri di depan puluhan wartawan kini hanya diam menatap layar yang sudah gelap.
"Saya akan pulang," katanya.
"Gue ikut," ujar Yura.
"Tunggu di sini."
"Tidak. Kalau ibumu terlibat, lo tidak boleh menghadapinya sendirian."
"Yur, ini keluarga saya."
"Justru itu." Yura melangkah mendekat. "Orang paling gampang dibohongi sama keluarganya sendiri, Chad. Karena gak ada yang mau percaya."
Richard ingin membantah. Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Sejak semua ini dimulai, orang-orang di sekelilingnya berguguran satu per satu seperti daun kering. Mia pergi. Satrio mengkhianatinya. Dimas mencuri. Dan sekarang ibunya sendiri menolak panggilannya. Hanya perempuan yang paling ia sakiti dulu yang masih berdiri di ruangan ini, memaksa ikut ke tempat yang seharusnya bukan urusannya.
"Ayo," katanya akhirnya.
Di rumah keluarga Richard, suasana jauh lebih sepi dari biasanya. Lampu taman menyala, tetapi rumah utama hanya diterangi lampu ruang tengah. Tidak ada pembantu yang lalu lalang, tidak ada suara televisi. Ibunya sedang duduk di ruang tengah dengan sebuah cangkir teh di tangan, punggungnya tegak seperti biasa. Ketika melihat Richard datang bersama Yura, senyumnya langsung menghilang.
"Kenapa kamu datang?" tanyanya.
Richard tidak menjawab salamnya. Ia berjalan ke meja dan meletakkan dokumen di atasnya, tepat di samping cangkir teh yang masih mengepul.
"Apa Mama melakukan pembayaran kepada beberapa media?"
Ibunya menatap kertas tersebut. Hanya sekilas, tetapi cukup lama untuk membuat Yura yakin perempuan itu mengenali isinya. Tangannya bergetar saat meletakkan cangkir, meskipun ia berusaha menyembunyikannya dengan menyilangkan jari di pangkuan.
"Siapa yang memberikan ini kepadamu?"
"Jawab pertanyaan saya."
"Richard, kamu tidak mengerti urusan perusahaan."
"Ini perusahaan saya, Ma."
"Perusahaan ini dibangun ayahmu. Mama menjaganya lebih lama dari umurmu."
"Dan saya yang menjalankannya delapan tahun terakhir."
"Menjalankan bukan berarti mengerti."
Yura berdiri di belakang Richard, tidak berani bergerak. Ia melihat bagaimana hubungan ibu dan anak itu berubah menjadi percakapan penuh kecurigaan, seperti dua orang asing yang saling menimbang siapa yang lebih dahulu berbohong. Jam dinding besar di sudut ruangan berdetak terlalu keras.
"Mama membayar media untuk menyebarkan berita tentang Yura?" tanya Richard.
Ibunya menghela napas panjang. "Saya hanya ingin melindungi keluarga kita."
"Dengan menghancurkan nama Yura?"
"Perempuan itu kembali ke hidupmu saat pernikahanmu tinggal beberapa hari. Semua orang tahu dia masih mencintaimu."
Yura menahan napas. Kalimat itu dilemparkan begitu saja, seolah dirinya tidak sedang berdiri tiga meter dari sana. Richard mengepalkan tangan sampai kukunya menekan telapak.
"Yura tidak bersalah."
"Kamu tidak tahu apa yang dia inginkan. Dia datang dari keluarga bermasalah dan sekarang menggunakanmu untuk melunasi semuanya. Delapan ratus juta, Richard. Mama tahu."
"Jangan bicara tentang keluarga saya seperti itu," potong Yura. Suaranya gemetar, tetapi tidak pelan. "Saya memang punya ayah yang berutang. Saya tidak pernah memintanya. Dan saya sudah bilang akan mengembalikan semuanya kepada Richard."
Ibu Richard menatapnya dingin. "Kalau kamu tidak ingin dibicarakan, jangan berada di antara anak saya dan masa depannya."
Richard bergeser, berdiri di depan Yura. "Cukup, Ma. Saya tidak akan membiarkan siapa pun merendahkannya."
"Kamu membela dia bahkan setelah Mia pergi?"
"Saya membela orang yang tidak bersalah."
Ibunya terdiam. Dalam tatapan itu Richard melihat sesuatu yang lebih dari sekadar rasa tidak suka. Bukan marah, bukan gengsi. Ada ketakutan di sana, jenis ketakutan yang tidak pernah ia lihat pada perempuan itu, bahkan ketika ayahnya meninggal.
"Mama hanya membayar media untuk mengalihkan perhatian," katanya akhirnya, suaranya jatuh satu tingkat. "Ayah Mia sedang menghancurkan perusahaan kita. Kalau berita tentang kegagalan pernikahan menyebar, saham akan jatuh. Saya harus membuat orang percaya bahwa masalahnya berasal dari hubungan kalian. Skandal cinta lebih murah daripada skandal bisnis."
Yura merasa perutnya dingin. Jadi begitu cara orang-orang seperti mereka berhitung. Nama seseorang dipakai sebagai tumbal, dan harganya bahkan disebut lebih murah.
"Jadi Mama melempar nama orang lain supaya saham kita selamat."
"Mama melempar apa saja supaya kamu tidak kehilangan segalanya."
"Kenapa Mama tahu tentang rencana keluarga Mia?"
Ibunya tidak menjawab. Ia mengambil cangkir tehnya kembali, lalu meletakkannya lagi tanpa diminum.
"Ma."
Tetap tidak ada jawaban. Hanya detak jam, dan suara napas Yura di belakangnya.
Richard mengambil dokumen itu dari meja dan mundur selangkah. "Mulai malam ini, Mama tidak lagi memiliki akses ke rekening perusahaan. Pengacara akan mengurus pemeriksaan internal."
Wajah ibunya memucat. "Kamu akan menghancurkan keluarga sendiri?"
"Saya sedang menyelamatkannya."
"Richard!"
Ketika Richard dan Yura meninggalkan rumah, ibunya berteriak memanggilnya dari ambang pintu. Sekali. Dua kali. Suaranya retak di panggilan ketiga. Richard tidak berhenti, tidak juga menoleh, meskipun Yura melihat bahu lelaki itu menegang setiap kali namanya disebut.
Di dalam mobil, Richard duduk cukup lama tanpa menyalakan mesin. Ia menatap jalan dengan pandangan kosong.
"Lo yakin Mama lo hanya membantu mengalihkan perhatian?" tanya Yura.
"Tidak."
"Berarti dia tahu lebih banyak."
Richard mengangguk pelan. "Dia tidak kaget waktu saya bilang ayah Mia menghancurkan perusahaan. Dia sudah tahu sejak lama. Dan dia memilih diam."
"Mungkin dia dipaksa."
"Atau dia ikut menyusun." Richard menyalakan mesin. "Dan saya akan mencari tahu semuanya."
Yura ingin mengatakan sesuatu yang menghibur, tetapi tidak ada kalimat yang cukup. Ia teringat Mamanya sendiri yang tadi memeluknya di rumah yang berantakan itu, dan untuk pertama kalinya ia sadar bahwa dirinya lebih beruntung daripada lelaki di sebelahnya. Rumah Yura kehilangan uang. Rumah Richard kehilangan kepercayaan. Ia hanya meletakkan tangannya sebentar di lengan Richard, lalu menariknya kembali.
Ponsel Richard berbunyi. Pesan dari Mia masuk: "Jangan percaya siapa pun dari keluarga kita. Bukti ada di London. Datang sebelum ayahku menemukanku."