Richard membaca pesan dari detektifnya dengan wajah tegang. Mia meminta bertemu malam itu juga dan mengaku memiliki bukti bahwa Satrio bukan dalang utama. Ia ingin berbicara langsung di London, di tempat yang dianggap aman oleh orang-orangnya.
"Kita tidak bisa langsung pergi ke London," kata Yura setelah membaca pesan itu.
"Saya tahu."
"Tapi lo pasti akan pergi."
Richard menatapnya. "Saya harus tahu kebenarannya."
"Kalau itu jebakan?"
"Mia mungkin banyak berbohong, tapi dia tidak akan mengirim pesan seperti ini tanpa alasan."
Yura menatap garis lelah di wajah Richard. Ada sesuatu dalam cara lelaki itu menyebut nama Mia yang membuat hatinya tidak nyaman. Bukan cinta, mungkin. Tetapi juga bukan sekadar urusan bisnis. Richard masih peduli kepada tunangannya, meskipun perempuan itu telah pergi bersama mantannya dan menyeret mereka ke dalam masalah sebesar ini.
"Gue ikut," kata Yura.
"Tidak."
"Mia meminta bertemu lo. Dia juga tahu gue terlibat dalam semua ini. Kalau bukti yang dia punya berkaitan dengan foto atau berita tentang kita, gue berhak mendengar."
Richard hendak membantah, tetapi Yura menatapnya dengan keras kepala yang sudah ia kenal sejak dulu. Ia tahu perdebatan itu tidak akan mengubah keputusan gadis tersebut.
"Kita tidak langsung berangkat," katanya akhirnya. "Saya akan bertemu detektif di tempat netral melalui panggilan video. Kalau informasi itu benar, baru kita susun rencana."
Polisi membawa Dimas ke kantor untuk dimintai keterangan. Satrio juga diamankan dengan tangan terikat dan pelipis berdarah, tetapi lelaki berjas yang bersamanya berhasil melarikan diri. Richard menyerahkan tas berisi dokumen kepada Arman agar diperiksa oleh tim hukum. Sebelum meninggalkan gudang, ia meminta polisi menjaga Yura dan keluarganya.
Mereka kembali ke kantor Richard menjelang malam. Gedung itu tampak lebih sepi dari biasanya, meskipun lampu di beberapa lantai masih menyala. Para pegawai menundukkan kepala ketika Richard lewat, sementara beberapa orang diam-diam memperhatikan Yura dari balik meja mereka. Ada yang berbisik. Ada yang buru-buru menutup layar ponsel.
"Mereka masih percaya berita itu," gumam Yura.
"Biarkan. Kebenaran akan muncul."
"Kebenaran itu lambat, Chad. Berita bohong jalan duluan."
Richard tidak membantah.
Di ruang rapat, Arman menampilkan salinan dokumen yang ditemukan dari gudang di layar besar. Beberapa transaksi besar tercatat melalui perusahaan perantara di Singapura. Dana itu berasal dari proyek cabang yang tanahnya sedang bersengketa.
"Pihak yang mengklaim memiliki sertifikat tanah itu ternyata terhubung dengan perusahaan perantara ini," jelas Arman sambil menunjuk garis penghubung di bagan. "Mereka sengaja membuat sengketa agar nilai proyek turun, lalu membeli saham perusahaan melalui pihak ketiga."
Richard menatap layar. "Siapa pemilik perusahaan perantara?"
Arman menggeser halaman. Nama yang muncul membuat ruangan mendadak sunyi. Bahkan suara pendingin ruangan terdengar terlalu keras.
Yura menatap Richard, tetapi lelaki itu tidak bergerak sama sekali.
Pemilik perusahaan tersebut adalah ayah Mia.
"Tidak mungkin," kata Richard akhirnya.
Arman mengangguk hati-hati. "Kami belum tahu apakah nama ini digunakan sebagai pemilik langsung atau hanya kedok. Tapi aliran dananya jelas masuk ke rekening yang terhubung dengan keluarga Mia."
Yura merasakan perutnya mual. Jadi keluarga Mia mungkin telah merencanakan sesuatu terhadap perusahaan Richard sejak awal. Pernikahan itu bisa saja bukan hanya tentang hubungan dua orang, melainkan bagian dari permainan bisnis yang sudah disusun jauh sebelum undangan dicetak. Dan ia, sebagai wedding organiser, tanpa sadar ikut merapikan jalan untuk semua itu.
"Mia tahu?" tanya Richard.
"Itulah yang harus kita cari tahu," jawab Arman.
Richard meminta semua orang keluar. Hanya Yura dan Arman yang masih berada di dalam ruangan. Ia berjalan ke jendela, memandang lampu kota yang mulai menyala satu per satu di bawah sana.
"Selama ini saya pikir Mia meninggalkan saya karena menemukan orang lain," katanya lirih. "Ternyata mungkin keluarganya sedang memainkan saya."
Yura berdiri tidak jauh darinya. Ia ingin menyentuh punggung lelaki itu, tetapi menahan tangannya.
"Jangan mengambil kesimpulan sebelum mendengar penjelasan Mia."
"Kamu masih membelanya?"
"Gue membela kebenaran. Kalau Mia terlibat, kita harus punya bukti. Kalau dia dipaksa keluarganya, dia juga harus diselamatkan."
Richard menatap Yura melalui pantulan kaca jendela. "Kamu selalu seperti itu. Bahkan kepada orang yang menyakitimu."
"Jangan mengubah topik."
Sebuah panggilan video dari detektif London masuk. Richard menghubungkannya ke layar besar. Wajah detektif itu muncul dari sebuah kamar hotel yang redup.
"Tuan, saya sudah menghubungi Nona Mia. Ia bersedia berbicara selama Anda merahasiakan lokasinya."
"Sambungkan."
Beberapa detik kemudian, wajah Mia muncul. Rambutnya diikat sederhana, tanpa riasan, dan matanya tampak sembap. Ia melihat Richard, lalu mengalihkan pandangan ketika menyadari Yura juga berada di dalam ruangan.
"Richard, aku tidak punya banyak waktu."
"Kamu pergi tanpa penjelasan. Kamu membawa Satrio dan dokumen perusahaan saya."
"Aku tidak membawa Satrio. Dia yang menemuiku setelah aku sampai di London."
"Kamu tahu tentang dokumen itu?"
Mia menelan ludah. "Aku tahu ayahku merencanakan sesuatu terhadap perusahaanmu. Aku baru menyadarinya beberapa minggu lalu. Aku mencoba mencari bukti sebelum menikah denganmu."
"Kenapa kamu tidak memberitahu saya?"
"Karena aku takut." Suara Mia bergetar. "Ayahku mengancam akan menghancurkan hidupmu dan keluargaku jika aku membongkar semuanya. Dia mengatakan pernikahan kita akan membuat dua perusahaan bergabung, lalu dia bisa menguasai saham terbesar melalui kontrak yang sudah disiapkan."
Richard mengeraskan rahangnya. "Jadi kamu pergi dengan Adrian untuk mencari bantuan?"
"Adrian adalah satu-satunya orang yang masih kupercaya. Dia membantuku mendapatkan salinan kontrak. Tapi Satrio menemukan kami dan mencoba mengambilnya. Aku berhasil melarikan diri membawa bukti lain."
"Kenapa media menuduh Yura?"
Mia menatap Yura melalui layar, dan untuk pertama kalinya sejak panggilan dimulai ia tidak mengalihkan pandangan.
"Karena ayahku ingin semua orang percaya bahwa Richard meninggalkanku demi mantannya. Dia membayar beberapa media untuk membuat cerita itu."
Yura mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Dadanya terasa sesak mendengar pengakuan tersebut. Semua hinaan, semua komentar, semua tatapan orang di kantor tadi, ternyata dibeli dengan uang oleh orang yang bahkan tidak mengenalnya.
"Di mana bukti yang kamu punya?" tanya Richard.
Mia memandang ke belakang, seolah memastikan tidak ada orang lain di ruangan.
"Ada di tempat yang tidak akan dicari ayahku. Tapi aku tidak bisa mengirimkannya melalui internet. Kita harus bertemu langsung."
"Kirimkan alamatnya."
"Datang sendiri, Richard. Jangan bawa Yura."
Yura menatap layar dengan alis terangkat. Richard langsung menjawab tanpa berpikir.
"Yura ikut."
Mia terdiam sejenak. "Kalau begitu, kalian berdua mungkin tidak akan pernah melihat bukti itu."
Panggilan mendadak terputus. Layar berubah gelap dan ruangan kembali sunyi.
Arman masuk membawa kabar baru. "Pak, kami menemukan rekening pembayaran media. Pemiliknya memang perusahaan milik ayah Mia. Tapi ada satu tanda tangan tambahan pada dokumen transfer."
Ia meletakkan berkas di meja. Richard membacanya, lalu wajahnya berubah pucat.
Tanda tangan tersebut milik orang yang selama ini paling ia percaya setelah Satrio.
Namanya adalah Mama Richard sendiri.