Nama Satrio membuat Richard menginjak rem meskipun lampu lalu lintas baru saja berubah hijau. Mobil di belakang mereka membunyikan klakson panjang, tetapi Richard tidak memperdulikannya. Ia membaca ulang foto yang dikirim detektifnya, memperbesarnya sampai wajah itu menjadi kasar oleh titik-titik.
Tidak ada keraguan. Lelaki di samping Mia memang Satrio, sahabatnya sejak masa sekolah dan orang yang paling sering dipercayainya dalam urusan perusahaan.
"Satrio?" Yura ikut terkejut. "Dia yang menemui Mia di London?"
Richard mengangguk pelan. "Dia bilang sedang mengurus keluarganya di luar kota."
"Mungkin dia memang punya urusan di sana."
"Dia tidak pernah pergi tanpa memberi tahu saya. Tidak pernah, sejak kami kuliah."
Yura memandang foto itu lebih lama. Satrio terlihat membawa map hitam yang sama seperti benda yang tampak dibawa Dimas dari ruang arsip. Mia berdiri di sampingnya dengan wajah serius, bahu tegang, jauh dari ekspresi seorang perempuan yang baru meninggalkan calon suaminya tanpa alasan.
"Mereka bekerja sama," kata Yura.
Richard tidak menjawab. Ia kembali menjalankan mobil menuju gudang lama perusahaan. Sepanjang perjalanan, ia beberapa kali mencoba menghubungi Satrio, tetapi ponsel lelaki itu tidak aktif. Yura memperhatikan rahang Richard yang mengeras setiap kali panggilan itu gagal.
Gudang lama tersebut terletak di kawasan industri yang sepi. Jalanan berlubang, pagar-pagar berkarat, dan tidak ada satu pun warung yang buka. Bangunannya sudah lama tidak digunakan sejak perusahaan Richard pindah ke gedung baru, tetapi sebagian dokumen proyek masih disimpan di sana. Ketika mobil berhenti, Richard melihat pintu pagar terbuka dan satu mobil hitam terparkir di dekat pintu masuk.
"Tetap di mobil," katanya kepada Yura.
"Jangan mulai lagi."
"Saya serius."
"Kalau ada Dimas di dalam, lo butuh orang yang bisa mengenali dia."
Richard menghela napas. Ia tahu Yura benar, tetapi ia tetap tidak suka membawanya ke tempat yang mungkin berbahaya.
"Jangan jauh dari saya."
Mereka turun bersama. Richard membawa senter dan ponsel, sementara Yura menggenggam tasnya dengan erat, seolah benda itu bisa melindunginya dari apa pun. Pintu gudang tidak terkunci. Bau debu dan kayu lembap langsung menyambut mereka ketika masuk, bercampur bau besi tua.
"Dimas!" teriak Richard.
Suaranya memantul di langit-langit tinggi, lalu hilang. Tidak ada jawaban.
Mereka berjalan menyusuri rak-rak besi yang dipenuhi kotak. Cahaya matahari masuk lewat celah atap seng, membuat garis-garis terang tempat debu beterbangan. Dari bagian belakang gudang terdengar suara benda jatuh. Richard memberi isyarat agar Yura berhenti, lalu bergerak perlahan mendekati sumber suara.
Tiba-tiba seorang lelaki berlari dari balik rak. Yura mengenalinya sebagai Dimas. Ia membawa tas besar dan menabrak bahu Richard sebelum berusaha melarikan diri.
"Berhenti!" teriak Richard.
Dimas tidak menghiraukannya. Ia berlari menuju pintu samping, tetapi Yura dengan cepat menarik tali pengikat tumpukan kardus di dekatnya. Kardus-kardus itu jatuh tepat di depan kaki Dimas hingga lelaki tersebut tersandung dan terjatuh, tasnya terlempar beberapa meter.
Richard segera menangkap lengannya dan memborgolnya dengan alat pengikat yang diberikan petugas keamanan sebelumnya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Richard penuh amarah.
Dimas terengah-engah. Keringat mengalir di pelipisnya. "Lepaskan saya! Saya tidak mencuri apa pun."
"Tas itu berisi apa?"
Dimas memalingkan wajah. Richard membuka tas tersebut dan menemukan beberapa map, flash drive, serta salinan kontrak proyek cabang perusahaan.
Yura menatap isi tas itu dengan cemas. "Jadi benar kamu mengambil dokumen perusahaan."
"Saya hanya menyelamatkannya."
"Dari siapa?" tanya Richard.
Dimas terdiam.
Richard membuka salah satu map. Di dalamnya terdapat sertifikat tanah, laporan keuangan, dan dokumen yang menunjukkan adanya pembayaran besar kepada sebuah perusahaan luar negeri. Nama perusahaan itu tidak pernah ia kenali, padahal ia hafal setiap mitra yang pernah menandatangani kontrak dengannya.
"Apa ini?" Richard menekan map ke dada Dimas.
"Tanyakan kepada Satrio."
Richard membeku. "Apa hubungan Satrio dengan semua ini?"
"Dia yang meminta saya mengambil dokumen tersebut."
Yura merasakan tengkuknya meremang. Satrio selama ini terlihat seperti orang yang paling loyal kepada Richard. Ia bahkan sering membantu Richard menyelesaikan urusan perusahaan ketika Mia mulai sibuk dengan pekerjaannya sebagai model. Yura pernah bertemu lelaki itu di kantornya, tersenyum ramah sambil menanyakan kabar timnya.
"Kenapa Satrio membawanya ke London?" tanya Richard.
Dimas tertawa pahit. "Karena dia ingin menjual proyek itu kepada pesaing perusahaan. Mia membantu menghubungkan dia dengan orang-orang di London."
Richard menggenggam kerah Dimas. "Jangan berbohong."
"Saya tidak berbohong! Satrio punya utang besar akibat perjudian. Dia meminjam uang dari orang-orang yang sekarang menagihnya. Dia menjanjikan informasi perusahaan sebagai pembayaran."
Yura menatap Richard. "Berarti hilangnya Mia bukan cuma tentang pernikahan."
Richard masih terpaku pada dokumen di tangannya. "Mia mungkin tahu tentang rencana Satrio."
"Atau dia ikut terlibat," kata Yura pelan.
Dimas menunduk. "Saya tidak tahu apakah Mia ikut mencuri. Tapi dia meminta saya menghapus rekaman CCTV dan mengirim salinan dokumen kepada Satrio."
Richard segera menghubungi Arman dan meminta petugas datang menjemput Dimas. Namun sebelum panggilan tersambung, suara tepuk tangan terdengar dari lantai atas gudang. Pelan, teratur, dan mengerikan justru karena tenangnya.
"Hebat, Richard. Akhirnya kamu tahu juga."
Richard mengangkat kepala. Satrio berdiri di balkon besi dengan sebuah pistol di tangannya. Di sebelahnya terdapat seorang lelaki berjas yang tidak dikenal Yura.
"Turunkan senjatamu, Sat," kata Richard.
Satrio tersenyum. "Kamu masih suka memberi perintah. Padahal perusahaan itu seharusnya bisa menjadi milikku sejak lama."
Yura mundur selangkah. Richard bergerak sedikit menutupi tubuhnya.
"Turun dan kita bicara."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan. Semua sudah selesai. Dokumen-dokumen itu akan berpindah tangan malam ini, dan kamu tidak akan bisa mencegahnya."
"Mia terlibat?"
Satrio memandang Richard tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Mia hanya ingin bebas dari pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Saya memberinya jalan keluar."
"Kamu memanfaatkan dia."
"Saya memanfaatkan semua orang yang bisa membantu saya bertahan hidup. Termasuk kamu."
Tiba-tiba suara sirene terdengar dari luar gudang. Satrio menoleh panik. Arman ternyata berhasil melacak lokasi mereka dan mengirim polisi lebih cepat dari perkiraan.
Satrio mengangkat pistolnya ke arah Richard. Yura menahan napas sampai dadanya sakit.
"Kalau saya jatuh, semua salinan dokumen akan dikirim ke media," ancamnya.
Richard menatapnya tajam. "Kamu sudah kalah, Sat."
Satrio hendak menarik pelatuk, tetapi lelaki berjas di sampingnya justru merampas tangannya. Mereka bergumul di balkon, sepatu mereka berdentang di lantai besi. Dalam kekacauan itu, Dimas menendang tas dokumen ke arah Richard.
"Bawa Yura pergi!" teriak Dimas.
Richard menarik tangan Yura dan berlari menjauh dari bawah balkon. Polisi memasuki gudang tepat ketika Satrio terjatuh ke lantai, sedangkan lelaki berjas itu kabur melalui pintu darurat.
Di luar, Yura masih gemetar. Richard memegang kedua bahunya.
"Lo terluka?"
Yura menggeleng. "Gue baik-baik saja."
Richard menatapnya lega, tetapi sebelum sempat berkata apa-apa, ponselnya berdering. Pesan baru dari detektif di London masuk.
Mia meminta bertemu Richard malam itu juga. Ia mengaku memiliki bukti bahwa Satrio bukan dalang utama.