Richard membaca pesan itu dua kali. Jari-jarinya berhenti di atas layar ponsel, sementara suara petugas yang mengamankan rumah Yura terdengar samar di sekelilingnya. Mia berada di London, tidak sendirian, dan seorang pria membawa dokumen yang berkaitan dengan perusahaan Richard.
"Ada apa?" tanya Yura ketika melihat wajah Richard berubah.
Richard tidak langsung menjawab. Ia menunjukkan layar ponselnya kepada Yura. Gadis itu membaca pesan dari detektif dengan dahi berkerut.
"Mia membawa dokumen perusahaan lo?"
"Sepertinya begitu."
"Dokumen apa?"
"Saya belum tahu."
Yura ingin bertanya lebih jauh, tetapi melihat keadaan Richard yang semakin tegang membuatnya menahan diri. Lelaki itu kembali menghubungi detektifnya sambil berjalan ke sudut halaman, menjauh dari petugas.
"Kirimkan lokasi lengkapnya. Jangan mendekat sebelum saya perintahkan. Cari tahu siapa pria yang menemuinya dan apa yang mereka bawa."
"Baik, Tuan."
Richard memutus panggilan, lalu langsung menghubungi Arman. Berita tentang dokumen perusahaan membuatnya melupakan sejenak masalah Ayah Yura. Jika informasi penting jatuh ke tangan orang yang salah, bukan hanya reputasinya yang hancur, tetapi seluruh proyek perusahaan bisa terkena dampaknya. Ribuan karyawan ikut di dalamnya.
"Arman, periksa semua dokumen yang keluar dari kantor selama seminggu terakhir. Saya mau daftar lengkap akses ruang arsip, salinan kontrak, dan orang yang menghubungi Mia."
"Baik, Pak. Tapi dokumen apa yang sedang kita cari?"
"Saya belum tahu. Itu yang membuat saya khawatir."
Yura memperhatikan Richard berjalan menjauh untuk berbicara. Mama Yura duduk di teras bersama petugas, memegang gelas air yang tidak disentuhnya sama sekali. Para tetangga mulai menjauh setelah melihat banyak aparat datang, meskipun beberapa masih mengintip dari balik pagar.
Yura seharusnya mengkhawatirkan Ayahnya yang kembali kabur entah ke mana, tetapi pikirannya terus kembali kepada Richard.
Lelaki itu tampak kelelahan. Kemejanya kusut, lengannya tergulung asal, dan garis di bawah matanya semakin gelap. Sejak Mia pergi, ia tidak tidur cukup, mengurusi utang keluarga Yura, menghadapi wartawan, dan sekarang harus menghadapi kemungkinan pengkhianatan di perusahaannya sendiri. Yura merasa bersalah karena terus berada di dekatnya, tetapi ia juga tidak tahu harus pergi ke mana.
"Yur," panggil Mama.
Yura mendekat. "Mama mau masuk?"
"Mama mau bertanya sesuatu."
Nada suara Mama membuat Yura waspada. Ia duduk di samping perempuan itu, di kursi plastik yang satu kakinya sudah miring.
"Kamu masih sayang sama Richard?"
Pertanyaan itu membuat Yura terdiam. Ia memandang jalan, berharap menemukan jawaban di antara kendaraan yang lewat.
"Aku gak tahu, Ma."
"Kamu membencinya karena dulu dia pergi tanpa penjelasan. Tapi sejak dia kembali, kamu terus memikirkan keadaan dia."
"Itu karena dia sedang bermasalah."
"Kalau dia bukan Richard, apakah kamu tetap akan menolongnya?"
Yura membuka mulut, tetapi kembali menutupnya. Ia tidak bisa menjawab dengan cepat, dan justru kelambatan itu yang menjawab. Mama tersenyum kecil, seolah sudah memahami isi kepala putrinya sebelum kalimatnya selesai.
"Hati-hati, Nak. Jangan mencintai orang yang masih terikat dengan masa lalu."
"Richard sudah tidak mencintai Mia," kata Yura, lalu menyadari dirinya terdengar terlalu yakin.
Mama mengangkat alis. "Kamu tahu dari mana?"
Yura tidak menjawab. Ia sendiri tidak yakin apakah keyakinan itu berasal dari ucapan Richard atau dari harapannya sendiri yang selama ini ia kubur rapat-rapat.
Richard akhirnya kembali. Ia berdiri beberapa langkah dari mereka dengan ekspresi yang lebih terkendali, tetapi matanya masih menyimpan kecemasan.
"Tante, pengacara saya akan membantu mengurus laporan Ayah. Tante jangan pergi ke mana-mana tanpa didampingi."
Mama mengangguk. "Terima kasih, Richard. Kamu sudah terlalu banyak membantu keluarga kami."
"Tidak apa-apa, Tante."
"Tapi tolong jangan melibatkan Yura lebih jauh. Dia sudah cukup menderita karena urusan ini."
Richard menatap Yura sebentar sebelum menjawab. "Saya juga tidak ingin dia terlibat."
Ucapan itu terasa menusuk dada Yura, meskipun ia tahu itu kalimat yang paling masuk akal di dunia. Ia menunduk, pura-pura memeriksa ponsel. Richard mungkin benar. Semakin dekat ia dengan Richard, semakin banyak masalah yang datang. Namun, sebagian dirinya tidak mau pergi.
Arman menelepon kembali. Richard mengangkatnya sebelum dering kedua.
"Pak, kami menemukan sesuatu. Dua hari lalu ada akses ke ruang arsip menggunakan kartu pegawai bagian keuangan. Kartu itu milik Dimas."
Richard mengernyit. "Dimas?"
Nama itu tidak asing bagi Yura. Dimas adalah salah satu orang yang pernah bekerja sama dengan tim wedding organiser mereka dan cukup dekat dengan Richard. Ia juga pernah membantu menangani beberapa dokumen acara pernikahan, bahkan mengantar berkas ke kantor Yura sendiri.
"Dia masih bekerja di perusahaan?" tanya Richard.
"Mengundurkan diri tadi pagi, Pak. Suratnya masuk sebelum jam kerja. Kami kira itu hanya kebetulan, tapi ada salinan berkas proyek cabang yang hilang dari arsip."
Richard terdiam beberapa detik. "Kirimkan rekaman CCTV."
"Sudah kami kirim."
Richard membuka lampiran. Dalam rekaman yang buram, seorang lelaki bertopi masuk ke ruang arsip pada malam hari. Gerakannya cepat dan tidak ragu, seperti orang yang tahu persis letak barang yang dicarinya. Postur tubuhnya tampak seperti Dimas. Ia keluar membawa map hitam.
"Cari alamat Dimas sekarang," perintah Richard.
"Baik, Pak."
Richard memandang Yura. "Gue harus ke kantor."
"Karena Dimas?"
"Dia mungkin bekerja sama dengan Mia."
Yura segera berdiri. "Gue ikut."
"Tidak."
"Gue tahu Dimas. Kalau dia pernah berhubungan dengan tim kami, mungkin gue bisa membantu mengenalinya atau mengingat percakapan terakhir kami."
"Yur, ini bisa berbahaya."
"Hidup gue sudah berantakan sejak kemarin. Jangan perlakukan gue seolah gue gak bisa berpikir."
Richard menatapnya lama. Ia tahu Yura tidak akan mundur. Selain itu, membawa Yura bersamanya mungkin lebih aman daripada membiarkannya menghadapi wartawan sendirian di rumah yang alamatnya sudah tersebar.
"Baik. Tapi kamu harus mengikuti semua yang saya katakan."
Yura mendengus. "Jangan panggil gue kamu kalau lagi sok bos."
Richard hampir tersenyum, tetapi ekspresinya kembali serius. Ia meminta seorang petugas menjaga Mama Yura, kemudian membawa Yura menuju mobil.
Di dalam perjalanan, Yura menerima pesan dari Neli. Foto baru dirinya dan Richard tersebar. Kali ini judulnya lebih buruk: mantan kekasih Richard diduga membantu membocorkan dokumen perusahaan untuk membalas sakit hati kepada Mia.
Yura membaca berita itu dengan tangan gemetar.
"Chad, mereka menuduh gue terlibat dalam pencurian dokumen lo."
Richard melirik layar ponselnya. Wajahnya mengeras.
"Berarti ada yang sengaja membuat narasi ini."
"Mereka ingin menjadikan gue kambing hitam."
"Tidak akan saya biarkan."
"Tapi kalau mereka punya bukti palsu? Orang gak akan peduli aslinya, Chad. Mereka cuma baca judul."
Richard menghentikan mobil di lampu merah dan menatap Yura.
"Saya tahu kamu tidak melakukannya."
"Lo yakin?"
"Seratus persen."
Jawaban sederhana itu membuat Yura terdiam. Ada sesuatu yang menghangat di dadanya, dan ia benci menyadarinya. Sebelum ia sempat mengatakan apa pun, ponsel Richard berbunyi lagi. Pesan dari Arman masuk bersama sebuah alamat.
Dimas terlacak berada di gudang lama milik perusahaan, tepat di pinggir kota. Detektif Richard juga mengirim satu foto dari London. Pria yang menemui Mia ternyata bukan Adrian, melainkan seseorang yang selama ini Richard kenal baik.
Namanya Satrio.