Yura menatap Ayahnya dengan wajah penuh ketidakpercayaan. Lelaki itu masih mencengkeram bahunya, seolah-olah hanya Yura yang dapat menyelamatkannya dari keadaan yang sedang menjerat hidupnya. Di belakang Yura, Richard menutup pintu dan segera mengunci dari dalam.
"Lepaskan Yura," kata Richard dingin.
Ayah Yura menoleh. Wajahnya langsung berubah ketika melihat Richard berdiri di belakang putrinya. Ia mengenal lelaki itu dari kartu nama yang diberikan kepada para preman kemarin, tetapi ia tidak pernah menyangka Richard akan berada di rumahnya.
"Kamu siapa?" tanyanya waspada.
"Orang yang akan memastikan Yura tidak diseret ke masalah Ayahnya."
"Jangan ikut campur urusan keluarga kami!"
"Kalau urusan keluarga Om membuat Yura terancam, saya akan ikut campur."
Yura melepaskan tangan Ayahnya dari bahunya. "Ayah datang dari mana? Kenapa rumah ini kembali berantakan? Mama, apa yang terjadi?"
Mama Yura yang duduk di kursi dekat jendela tampak pucat. Matanya sembap, sementara kedua tangannya terus gemetar memegang ujung kain bajunya.
"Ayahmu datang sekitar dua puluh menit lalu," jawab Mama pelan. "Dia meminta uang. Katanya ada orang yang mengejarnya."
"Kamu harus bantu Ayah, Yur," ulang Ayah Yura. "Ayah tahu kamu dekat dengan Richard. Dia kaya. Minta dia membayar semuanya."
Yura menatapnya seolah baru saja mendengar sesuatu yang paling menyakitkan. "Jadi Ayah datang bukan untuk menanyakan keadaan Mama, tapi untuk meminta uang lagi?"
"Ayah sedang dalam bahaya!"
"Bahaya karena utang yang Ayah buat sendiri."
Ayah Yura terdiam. Ia mengusap wajahnya dengan tangan kotor dan memandang ke arah lain. Richard memperhatikan lelaki itu dengan tatapan tajam. Luka di pelipisnya masih mengeluarkan sedikit darah, sedangkan pakaiannya penuh debu.
"Siapa yang mengejar Ayah?" tanya Richard.
"Orang-orang yang sama dengan preman kemarin?" Yura menyambung.
Ayah Yura menggeleng cepat. "Bukan. Mereka lebih berbahaya. Ayah hanya meminjam uang dari mereka untuk membayar sebagian utang yang lama. Ayah pikir bisa mengembalikan setelah mendapatkan uang dari sebuah proyek. Tapi proyeknya gagal."
"Berapa jumlahnya?" tanya Richard.
Ayah Yura menunduk.
"Satu miliar dua ratus juta."
Mama Yura menutup mulutnya dengan tangan. Yura merasakan kepalanya berdenyut keras. Ia sudah terbiasa mendengar utang Ayahnya, tetapi angka tersebut tetap terasa seperti pukulan baru.
"Dan Ayah kira saya punya uang sebanyak itu?"
"Richard punya."
"Cukup!" bentak Yura. "Jangan terus menjadikan Richard sebagai tempat mengambil uang. Dia sudah membantu melunasi utang yang lain. Dia bahkan baru saja berjanji membayar lima ratus juta dan tiga ratus juta kepada preman yang merusak rumah ini."
Ayah Yura menatap Richard dengan mata membesar. "Kamu benar-benar mau membayarnya?"
"Saya akan menyelesaikan urusan mereka secara hukum," jawab Richard. "Bukan berarti saya akan memberikan uang kepada siapa pun tanpa perjanjian yang jelas."
"Tolong saya, Nak," kata Ayah Yura mendekat. "Kalau saya tertangkap, mereka akan mengambil organ saya. Mereka sudah mengancam."
Yura memejamkan mata. Ia tidak ingin membenci ayahnya, tetapi lelaki itu berkali-kali menyeret Mama dan dirinya ke dalam lubang yang itu-itu juga. Bahkan setelah keluarga mereka bangkrut, Ayahnya tetap berjudi dan mencari jalan pintas.
"Ayah harus pergi ke polisi," kata Yura.
"Polisi tidak bisa melindungi saya dari mereka."
"Setidaknya kita punya bukti."
"Bukti apa? Perjanjian itu ada di tangan mereka. Kalau Ayah melapor, mereka akan mencari Mama dan kamu."
Richard segera mengambil ponselnya. "Saya akan menghubungi pengacara dan orang yang bisa mengurus perlindungan. Tapi Ayah harus menceritakan semuanya dengan jujur. Tidak boleh ada utang lain yang disembunyikan."
Ayah Yura menatapnya ragu. "Kamu mau menolong saya?"
"Saya menolong Yura dan Mamanya. Jangan salah mengartikan."
Richard menghubungi Arman dan menjelaskan keadaan secara singkat. Ia meminta asistennya mengirim pengacara ke rumah Yura, sekaligus menghubungi aparat yang dapat menangani kasus pemerasan dan pinjaman ilegal. Selama Richard berbicara di dekat pintu, Yura duduk di samping Mama dan menggenggam tangan perempuan itu.
"Ma, Mama baik-baik saja?"
"Mama tidak apa-apa. Tapi kamu jangan ikut menanggung semua masalah Ayahmu."
"Aku anak Mama. Aku gak bisa membiarkan Mama sendirian."
"Menolong itu boleh, tapi bukan berarti kamu harus mengorbankan hidupmu."
Kalimat itu membuat Yura terdiam. Ia tahu Mama sedang berbicara tentang Richard, tentang utang, dan mungkin juga tentang perasaan lama yang belum sepenuhnya padam.
Di luar rumah terdengar suara motor berhenti. Ayah Yura langsung menegang. Wajahnya kehilangan warna.
"Mereka datang," bisiknya.
Richard berjalan mendekati jendela dan mengintip melalui celah tirai. Dua sepeda motor berhenti di depan pagar. Empat lelaki turun. Salah satunya adalah preman yang kemarin dipukul Richard.
"Mereka sudah menemukan saya," kata Ayah Yura panik. "Saya harus pergi."
"Jangan keluar dari pintu depan," kata Richard. "Arman sedang mengirim bantuan."
Salah satu lelaki di luar memukul pagar besi.
"Buka pintunya! Kami tahu kamu di dalam!"
Mama Yura memeluk dirinya sendiri. Yura berdiri, tetapi Richard segera menahan lengannya.
"Tetap di sini."
"Saya tidak akan bersembunyi di rumah sendiri."
"Ini bukan soal berani atau tidak. Mereka sedang mencari alasan untuk menyentuh kalian."
Pukulan berikutnya membuat pagar bergetar. Ayah Yura memandang pintu belakang yang mengarah ke gang sempit.
"Ada jalan keluar lewat dapur," katanya. "Ayah bisa pergi dari sana."
"Ayah mau kabur lagi?" Yura menatapnya kecewa.
"Kalau Ayah tertangkap, mereka akan menyakiti kalian."
Richard berpikir cepat. Ia tidak mungkin menghadapi empat orang tanpa mengetahui apakah mereka membawa senjata. Ia juga tidak bisa membawa Yura dan Mamanya ke luar sebelum bantuan tiba.
"Kita semua keluar lewat belakang," katanya. "Mobil saya ada di gang."
"Tapi pintu belakang bisa terlihat dari rumah sebelah," ujar Mama Yura.
"Saya akan mengalihkan perhatian mereka."
Richard meraih sapu panjang dan berdiri di dekat pintu depan. Yura menatapnya cemas.
"Chad, jangan melakukan sesuatu yang bodoh."
"Gue cuma mau memastikan mereka tidak masuk."
Pagar kembali dipukul. Kali ini suara preman terdengar lebih keras.
"Richard! Keluar kalau memang mau membayar! Jangan sembunyikan diri di balik perempuan!"
Richard membuka pintu sedikit, tetapi tetap menahan rantainya. "Saya akan membayar melalui jalur hukum. Kalian tidak boleh masuk ke rumah ini."
"Kami tidak takut polisi!"
"Tapi kalian harus takut pada rekaman kamera yang sudah saya kirim ke pengacara saya. Setiap gerakan kalian sejak kemarin sudah direkam."
Para preman itu saling pandang. Richard sebenarnya tidak yakin kamera di depan rumah berfungsi, tetapi ucapannya berhasil membuat mereka ragu.
Di belakangnya, Yura membantu Mama keluar melalui pintu dapur. Ayah Yura mengikuti dengan tergesa-gesa. Baru saja Yura hendak menutup pintu, terdengar suara sirene dari ujung jalan.
Para preman itu panik dan berusaha kembali ke motor. Dua mobil berhenti di depan rumah, disusul beberapa petugas dan seorang lelaki berkemeja rapi yang langsung menghampiri Richard.
"Pak Richard, kami dari tim hukum perusahaan. Polisi sudah menerima laporan dan siap mengamankan lokasi."
Richard mengangguk lega. Namun saat ia berbalik, Ayah Yura sudah tidak terlihat di gang belakang.
Yura menatap jalan kosong itu dengan dada sesak.
"Ayah pergi lagi," katanya pelan.
Di saat yang sama, ponsel Richard berdering. Pesan dari detektifnya muncul di layar.
Mia baru saja terlihat di sebuah apartemen di London. Ia tidak sendirian. Seorang pria lain datang menemuinya, membawa dokumen yang berkaitan dengan perusahaan Richard.