Richard menatap Ayah Mia yang berdiri di luar mobil dengan wajah merah menahan amarah. Dua orang pengawal di belakang lelaki itu membuat keadaan terlihat semakin buruk. Beberapa pengendara yang terpaksa berhenti mulai membunyikan klakson, tetapi Ayah Mia sama sekali tidak peduli.
"Tetap di dalam," kata Richard kepada Yura.
"Dia minta kita berdua keluar."
"Ini urusan gue."
"Nama gue sudah dibawa-bawa. Jadi ini juga urusan gue sekarang."
Tanpa menunggu persetujuan Richard, Yura membuka pintu dan turun. Richard mengumpat pelan sebelum ikut keluar. Ia segera berdiri di samping Yura, bersiap melindunginya jika Ayah Mia kehilangan kendali.
"Om, kita bisa bicara baik-baik," kata Richard.
"Baik-baik?" Ayah Mia mendengus. "Anak saya menghilang tiga hari sebelum pernikahannya, lalu kamu malah berjalan-jalan dengan perempuan lain. Sekarang wajah kalian ada di semua berita dan kamu masih meminta saya bicara baik-baik?"
"Saya bukan perempuan lain," sahut Yura. "Nama saya Nadine Ayura. Saya sahabat Mia dan bagian dari tim yang mengurus pernikahan mereka."
Tatapan Ayah Mia semakin tajam.
"Saya tahu siapa kamu. Mantan kekasih Richard."
Yura terdiam. Ia tak menyangka lelaki itu mengetahui masa lalunya dengan Richard.
"Apa Mia pernah menceritakan saya?" tanyanya.
"Tidak perlu Mia yang bercerita. Orang-orang saya bisa mencari tahu." Ayah Mia mendekat satu langkah. "Kamu menerima pekerjaan pernikahan anak saya, tetapi diam-diam mendekati calon suaminya. Perempuan macam apa kamu?"
"Jaga ucapan Om," potong Richard. "Yura tidak melakukan apa pun. Saya yang datang kepadanya setelah Mia pergi."
"Dan dia langsung menyambutmu?"
"Saya tidak menyambut siapa pun!" Yura mulai tersulut emosi. "Richard datang ke tempat saya dalam keadaan kacau. Saya hanya membantunya sebagai teman. Kalau Om ingin marah karena Mia menghilang, silakan cari tahu alasan Mia pergi. Jangan jadikan saya sasaran hanya karena berita ngawur."
Ayah Mia mengangkat tangan seolah hendak menunjuk wajah Yura, tetapi Richard langsung maju dan menahan pergelangan tangannya di udara.
"Jangan mengancam dia."
"Lepaskan tangan saya!"
"Saya lepaskan kalau Om berhenti menyudutkan Yura."
Keduanya bertukar pandang dengan ketegangan yang membuat Yura menahan napas. Akhirnya Ayah Mia menarik tangannya, lalu memberi isyarat kepada pengawalnya agar memindahkan mobil yang menghalangi jalan. Mereka menepi di halaman sebuah bangunan kosong supaya tidak mengundang lebih banyak perhatian.
"Di mana Mia?" tanya Ayah Mia setelah keadaan sedikit tenang.
Richard menatapnya dalam-dalam. Ia telah meminta asistennya merahasiakan keberadaan Mia, tetapi menyembunyikannya dari keluarga perempuan itu hanya akan memperpanjang masalah. Cepat atau lambat mereka akan tahu juga.
"Dia pergi ke London."
Wajah Ayah Mia berubah. "Apa?"
"Detektif saya menemukannya. Dia terbang dari Bali menuju London."
"Sendirian?"
Pertanyaan itu membuat Richard mengatupkan rahang. Yura memandangnya, lalu menyadari ekspresi yang sama seperti ketika lelaki itu menerima telepon di restoran kemarin malam. Rahang yang mengeras, mata yang menolak berkedip.
"Mia pergi bersama mantan pacarnya semasa kuliah," jawab Richard akhirnya.
Ayah Mia menggeleng cepat, berkali-kali, seperti orang yang menolak mendengar. "Tidak mungkin. Kamu membuat cerita untuk menutupi perselingkuhanmu."
Richard mengeluarkan ponsel dan membuka foto-foto yang dikirimkan detektif. Ia memperlihatkan gambar Mia keluar dari hotel bersama seorang pria, kemudian foto keduanya ketika hendak memasuki area keberangkatan bandara.
Tangan Ayah Mia bergetar saat mengambil ponsel itu. Ia memperbesar salah satu foto dan memandangnya lama.
"Saya mengenal pria ini," katanya lirih. "Namanya Adrian."
"Jadi Om tahu dia mantan Mia?"
"Saya pikir hubungan mereka sudah berakhir bertahun-tahun lalu. Saya bahkan pernah melarang Mia menemuinya lagi."
Untuk pertama kalinya amarah di wajahnya digantikan sesuatu yang lain. Bukan kecewa. Bukan sedih. Yura mengenali raut itu. Rasa takut. Ia menyerahkan ponsel Richard, lalu berjalan beberapa langkah menjauh sambil memijat pelipis.
"Kenapa Om melarang hubungan mereka?" tanya Yura.
Ayah Mia menoleh tajam. "Itu urusan keluarga kami."
"Kalau berkaitan dengan hilangnya Mia, Richard berhak tahu," kata Yura. "Mereka hampir menikah."
"Hampir," ulang Ayah Mia penuh penekanan. "Dan pernikahan itu tetap harus berlangsung."
Richard tertawa hambar, tanpa sedikit pun geli di dalamnya. "Setelah dia pergi dengan mantannya?"
"Kamu tidak tahu masalah yang sebenarnya. Bawa Mia pulang dan selesaikan semuanya. Media tidak boleh mengetahui hal ini."
"Kenapa reputasi selalu lebih penting daripada perasaan Mia?" Yura bertanya tanpa bisa menahan diri.
Ayah Mia menatapnya dingin. "Kamu tidak mengenal keluarga kami. Jangan ikut campur."
"Saya juga tidak ingin ikut campur. Tapi sejak wartawan menyebut saya selingkuhan Richard, hidup saya sudah ikut dihancurkan oleh masalah keluarga Om. Klien saya membatalkan pertemuan. Ibu saya membaca berita yang menyebut suaminya punya utang miliaran. Jadi tolong, jangan suruh saya diam."
Ucapan itu tepat mengenai sasaran. Ayah Mia tidak langsung membalas. Ia menarik napas, lalu memerintahkan salah satu pengawalnya menghubungi orang kepercayaannya di London.
"Saya akan mencari Mia sendiri," katanya. "Richard, kamu harus datang ke rumah saya malam ini. Kita akan membuat pernyataan bersama."
"Pernyataan seperti apa?"
"Katakan pernikahan tetap berjalan dan perempuan ini tidak lebih dari penyelenggara acara."
Yura tersenyum sinis. "Perempuan ini punya nama."
"Om tidak bisa memaksa saya berbohong," kata Richard. "Saya tidak tahu apakah pernikahan itu masih ada atau tidak. Saya akan bicara setelah Mia memberi penjelasan langsung."
"Kalau kamu membatalkan pernikahan ini, kerja sama dua perusahaan kita juga berakhir."
"Jangan mengancam saya dengan bisnis."
"Saya hanya mengingatkan akibat keputusanmu."
Ayah Mia masuk ke mobilnya dan pergi bersama para pengawal. Debu beterbangan di belakang ban. Richard tetap berdiri sambil menatap kendaraan itu hingga menghilang dari pandangan. Yura memperhatikan wajahnya yang kembali muram.
"Lo masih mau menikah sama Mia?" tanyanya pelan.
Richard tidak segera menjawab. Ia memasukkan kedua tangan ke saku celana dan menatap jalan raya yang ramai.
"Gue cuma mau tahu kenapa dia pergi."
"Itu bukan jawaban."
"Gue sendiri belum tahu jawabannya, Yur."
Yura mengangguk kecil. Entah kenapa jawaban Richard membuat dadanya terasa sedikit sakit, seperti tertekan benda tumpul. Ia seharusnya tidak peduli apakah Richard masih ingin menikahi Mia atau tidak. Namun, setelah semua yang terjadi sejak mantannya itu kembali, batas antara rasa benci dan rasa yang lain mulai kabur.
"Ayo," kata Richard. "Gue antar lo ke tempat yang aman dulu."
"Gue mau ketemu Mama."
"Wartawan mungkin sudah ada di rumah lo."
"Justru itu. Mama sendirian."
Richard tak lagi membantah. Mereka kembali masuk ke mobil dan melaju menuju rumah Yura. Benar saja, dari ujung jalan sudah tampak beberapa orang berdiri membawa kamera, berteduh di bawah pohon mangga tetangga. Richard meminta Yura menunduk, kemudian menghentikan mobil di gang belakang yang sempit.
Mereka berjalan kaki melewati rumah-rumah warga. Ada ibu-ibu yang menghentikan cucian dan memandangi mereka. Ketika tiba di pintu belakang rumah Yura, terdengar suara benda pecah dari dalam. Yura panik dan segera membuka pintu.
"Mama!"
Ruang tengah kembali berantakan. Pecahan gelas berserakan di dekat meja. Namun kali ini bukan preman atau wartawan yang berada di sana. Seorang lelaki kurus dengan pakaian kusut berdiri di hadapan Mama Yura. Wajahnya dipenuhi memar, sementara satu tangannya menggenggam tas besar.
Yura berhenti di ambang pintu. Darahnya seolah membeku ketika mengenali lelaki itu.
"Ayah?"
Ayah Yura menoleh. Bukannya lega melihat anaknya, lelaki itu justru berlari mendekat dan mencengkeram bahu Yura.
"Kamu harus bantu Ayah," katanya dengan napas memburu. "Mereka mau membunuh Ayah!"