"Tuan Richard, apa karena nona ini jadi pernikahan anda batal dengan nona Mia?"
"Sejak kapan kalian menjalin hubungan?"
"Apa benar Nona Mia pergi karena memergoki perselingkuhan kalian?"
Pertanyaan demi pertanyaan berhamburan tanpa memberi Richard dan Yura kesempatan untuk menjawab. Beberapa mikrofon nyaris menyentuh wajah Yura.
Kilatan kamera membuat matanya perih. Siang itu matahari sudah tinggi dan aspal di depan gedung memantulkan panas. Yura mundur selangkah, tetapi seseorang di belakangnya malah mendorong tubuhnya ke depan.
"Saya bukan selingkuhan siapa pun!" seru Yura kesal.
Sayangnya, suara Yura tenggelam di antara keributan para wartawan. Seorang reporter perempuan bahkan kembali menanyakan hubungan mereka dengan nada yang lebih mendesak.
Richard langsung berdiri di depan Yura. Tubuhnya menjadi perisai yang menghalangi kamera dan orang-orang yang terus berusaha mendekat. Rahangnya mengeras. Kepalanya sedang kacau karena kabar tentang Mia, dan kini para wartawan malah menyeret Yura ke dalam masalah yang tidak diketahuinya.
"Mundur," kata Richard tegas. "Kalian menghalangi jalan dan membuat dia tidak nyaman. Kalau ada yang ingin ditanyakan, hubungi bagian hubungan masyarakat perusahaan saya. Jangan mengejar orang yang tidak ada hubungannya dengan masalah ini."
"Jadi, Tuan membantah memiliki hubungan khusus dengan perempuan ini?"
Richard terdiam sepersekian detik.
Jawaban sederhana seharusnya bisa mengakhiri semuanya. Satu kata saja. Namun entah kenapa kata tidak terasa sulit keluar dari mulutnya. Yura yang berdiri di belakangnya mencengkeram tali tas dengan gugup.
"Yang saya bantah adalah tuduhan bahwa dia menyebabkan pernikahan saya bermasalah," jawab Richard akhirnya. "Tidak ada perselingkuhan. Jangan membuat berita bohong."
"Lalu kenapa kalian datang bersama?"
"Itu bukan urusan kalian."
Kerumunan semakin gaduh. Beberapa orang berusaha mengabadikan wajah Yura dari sisi lain.
Richard meraih pergelangan tangan Yura dan menariknya kembali menuju mobil. Yura berusaha mengikuti langkah panjang lelaki itu sambil menutupi wajahnya dengan tas.
"Jangan dorong-dorong!" bentak Yura ketika bahunya membentur salah seorang wartawan.
Richard berhenti mendadak dan menatap orang itu dengan sorot mata tajam.
"Saya sudah memperingatkan kalian. Jangan sentuh dia."
Petugas keamanan gedung akhirnya datang dan membuka jalan. Begitu Yura masuk, Richard segera menutup pintu mobil, lalu bergegas mengitari kendaraan dan duduk di belakang kemudi. Suara ketukan pada kaca masih terdengar ketika ia menyalakan mesin.
Mobil melaju meninggalkan kerumunan. Selama beberapa saat, hanya tarikan napas mereka yang memenuhi kabin. Yura menoleh ke belakang dan melihat dua sepeda motor wartawan masih mengikuti mereka.
"Ini gila," gumam Yura. "Dari mana mereka tahu Mia pergi? Bahkan mereka tahu kita datang bersama."
Richard tak menjawab. Ia menggenggam kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Chad, lo dengar gue?"
"Dengar."
"Terus kita sekarang mau ke mana? Kantor gue ada di belakang."
"Kita gak bisa balik ke sana. Mereka bakal nungguin lo."
Yura mendengus tak terima. "Gue ada kerjaan. Gara-gara masalah lo, masa gue harus kabur dari kantor sendiri?"
"Ini bukan cuma masalah gue lagi. Wajah lo sudah diambil. Dalam beberapa menit foto kita bisa tersebar di mana-mana."
Seakan menguatkan ucapan Richard, ponsel Yura berdering bertubi-tubi. Nama Neli muncul di layar. Begitu panggilan diterima, suara panik sahabatnya langsung terdengar.
"Yura! Lo di mana? Di depan kantor ramai wartawan. Ada berita yang bilang lo kekasih gelap calon suami Mia!"
"Kekasih gelap apaan? Gue baru lima menit dikeroyok mereka!"
"Foto lo sama Richard sudah masuk akun gosip. Ada foto waktu kalian di restoran juga. Bahkan ada yang bilang Richard bayar utang keluarga lo sebagai imbalan karena lo mau balikan sama dia."
Wajah Yura seketika pucat. Ia teringat tetangga-tetangganya yang sempat mengambil foto dan video di rumah. Richard sudah meminta mereka menghapusnya, tetapi mungkin ada seseorang yang lebih dahulu menyebarkan kabar.
"Nel, tolong jelaskan ke semua orang di kantor kalau berita itu bohong. Tunda pertemuan klien gue. Jangan ada yang kasih keterangan ke wartawan."
"Oke. Tapi lo hati-hati. Mia gak bisa dihubungi dan keluarganya juga sedang mencari dia."
Setelah panggilan berakhir, Yura membuka salah satu tautan yang dikirimkan Neli. Sebuah foto dirinya dan Richard saat keluar dari restoran terpampang jelas. Judul beritanya menyebut Richard meninggalkan calon pengantin demi cinta lamanya. Di bawahnya terdapat foto buram ketika Richard berdiri di rumah Yura yang berantakan.
"Sial!" Yura memukul pahanya. "Mereka bawa-bawa utang Ayah gue. Mama bisa syok kalau baca ini."
Richard melirik layar ponselnya sekilas, lalu segera menghubungi asistennya melalui sambungan di mobil.
"Arman, turunkan semua berita yang mencatut nama Nadine Ayura dan keluarganya. Siapkan pernyataan resmi. Tegaskan tidak ada perselingkuhan dan beri peringatan hukum untuk media yang menyebarkan data pribadi keluarga Yura."
"Baik, Pak. Bagaimana dengan kabar mengenai Nona Mia?"
Richard terdiam. Bayangan Mia berjalan masuk ke pesawat bersama mantan kekasihnya kembali mengusik pikirannya.
"Jangan katakan apa pun tentang keberadaannya. Cukup sebut pernikahan ditunda karena persoalan pribadi."
"Baik, Pak. Ada satu hal lagi. Dewan direksi meminta Bapak datang. Berita ini mulai memengaruhi proyek dan mitra perusahaan."
"Saya ke kantor sekarang."
Richard memutus sambungan, lalu membelokkan mobil. Yura menatapnya tak percaya.
"Turunin gue dulu."
"Lo ikut gue."
"Buat apa? Biar semua orang di kantor lo makin yakin gue selingkuhan lo?"
"Kalau gue turunin lo sekarang, wartawan akan mengejar lo sendirian."
"Gue bisa jaga diri."
"Tadi saja lo hampir jatuh."
Yura membuka mulut untuk membantah, tetapi tidak menemukan kalimat yang tepat. Ia akhirnya menyandarkan tubuh dengan kesal, kemudian kembali membaca komentar-komentar buruk yang terus bermunculan. Sebagian orang mencaci dirinya sebagai perebut calon suami sahabat. Ada pula yang menuduhnya sengaja menerima pekerjaan pernikahan Mia hanya untuk mendekati Richard.
"Mereka gak tahu apa-apa, tapi gampang banget menghina orang," kata Yura lirih.
Richard menoleh sebentar. Rasa bersalah menyergapnya ketika melihat mata Yura mulai berkaca-kaca.
"Jangan dibaca."
"Nama gue sudah jelek, Chad. Bisnis tempat gue kerja juga bisa kena. Siapa yang mau pakai jasa wedding organiser yang dituduh merebut calon pengantin kliennya sendiri?"
"Gue akan beresin."
"Semua masalah gak bisa selesai hanya karena lo punya uang."
Ucapan itu membuat Richard membisu. Yura benar. Ia bisa membayar utang, menyewa pengacara, atau menekan media, tetapi ia tidak bisa menghapus luka yang sudah telanjur diterima Yura.
Ponsel Richard kembali berdering. Kali ini nama Mama muncul di layar. Richard menarik napas panjang sebelum menjawabnya.
"Kamu di mana?" suara Mamanya terdengar tajam. "Mama baru melihat berita. Siapa perempuan yang bersamamu itu? Di mana Mia?"
Richard melirik Yura yang segera memalingkan wajah ke jendela.
"Aku akan jelaskan nanti, Ma."
"Tidak. Kamu pulang sekarang dan bawa perempuan itu. Keluarga Mia sudah ada di rumah. Mereka menuntut penjelasan."
"Dia tidak terlibat."
"Kalau begitu, biarkan dia mengatakannya sendiri di depan kami."
Panggilan diputus sepihak. Richard mengumpat pelan. Belum sempat ia memutuskan akan pergi ke kantor atau menemui keluarganya, sebuah mobil hitam mendadak berhenti melintang di depan mereka. Richard menginjak rem sekuat tenaga. Tubuh Yura terhentak ke depan, tetapi sabuk pengaman menahannya.
Pintu mobil hitam itu terbuka. Seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun turun bersama dua orang pengawal. Yura mengenal wajahnya dari foto keluarga Mia yang pernah ia lihat saat mengurus dokumen pernikahan.
Itu Ayah Mia.
Lelaki tersebut berjalan mendekat dan mengetuk kaca mobil Richard dengan keras. Tatapannya beralih kepada Yura, penuh amarah dan tuduhan.
"Keluar kalian!" bentaknya. "Saya mau tahu apa yang sudah kalian lakukan sampai anak saya menghilang!"