Satu tahun berlalu.
Pusat bantuan yang dulu hanya ruko dua lantai dengan papan nama dicetak seadanya kini berkembang menjadi yayasan resmi. Aktanya ada, izinnya ada, laporan keuangannya diaudit dan bisa diminta siapa saja. Yayasan itu mengurus tiga hal: anak-anak korban jaringan, para saksi yang tidak bisa pulang ke tempat asal, dan keluarga yang kehilangan rumah.
Damar tumbuh lima sentimeter dalam setahun dan berubah menjadi kakak bagi anak-anak lain. Dialah yang menyeret mereka mandi sore, yang mengajari cara mengikat tali sepatu, yang duduk di samping anak baru pada malam pertama — karena ia paling tahu bagaimana rasanya tidur di ranjang asing.
Livia bekerja sebagai pengelola arsip. Semua dokumen kasus, semua kesaksian, semua salinan berkas anak ada di tangannya, dan tidak ada satu lembar pun yang boleh keluar tanpa tanda tangan.
Raka membuka jasa penyelidikan sendiri. Kantornya kecil, papan namanya miring, dan separuh kliennya tidak membayar karena memang tidak dimintai bayaran — korban yang mencari orang hilang tidak ditagih sepeser pun.
"Gue jadi enggak kaya-kaya," katanya suatu hari.
"Lo juga enggak pernah kaya," balas Yura.
"Setidaknya sekarang gue enggak kaya dengan alasan yang bagus."
Richard mengubah perusahaannya dari dalam. Semua kontrak kini diaudit secara terbuka. Tidak ada lagi keputusan besar yang dibuat tanpa persetujuan dewan independen — termasuk keputusannya sendiri. Tiga direktur lama mengundurkan diri karena tidak tahan, dan Richard membiarkan mereka pergi.
Yura mengembangkan Cantika Wedding Organiser. Timnya bertambah dari tujuh orang menjadi sembilan belas, kantornya pindah ke tempat yang punya lift, dan namanya mulai disebut di daftar vendor besar.
Ia masih turun sendiri ke lapangan setiap akhir pekan, masih mengecek jumlah kursi satu per satu, masih marah kalau ada tim yang datang terlambat lima menit. Sembilan belas orang, dan Yura hafal nama anak-anak mereka semua.
Richard pernah menawarkan penggabungan. Sekali. Yura menolak tanpa berpikir dua kali.
"Kita harus tetap punya pekerjaan masing-masing," katanya. "Gue enggak mau jadi divisi di perusahaan lo. Gue mau jadi perusahaan."
"Saya setuju."
"Serius? Enggak ngeyel?"
"Tidak," kata Richard. "Kerja sama boleh. Kontraknya profesional, ada nilainya, ada tanda tangannya. Tapi perusahaan kamu tetap milik kamu."
Hubungan mereka tumbuh perlahan. Tidak ada janji besar yang dibuat terburu-buru. Tidak ada malam dramatis yang menentukan segalanya. Yang ada hanya kebiasaan kecil yang pelan-pelan berubah: Richard belajar memberi penjelasan sebelum pergi, sekalipun hanya pergi tiga hari ke luar kota. Ia mengirim pesan tentang ke mana, dengan siapa, sampai kapan — bukan karena diminta, melainkan karena ia tahu persis luka apa yang dulu ia tinggalkan.
Dan Yura belajar hal yang jauh lebih sulit baginya: bahwa mempercayai seseorang tidak berarti kehilangan kendali atas hidupnya.
Suatu sore, Mama Yura datang ke yayasan sambil menggendong bayi yang dulu hampir diculik. Anak itu sekarang sudah bisa berjalan sambil berpegangan, pipinya gemuk, dan tertawanya terlalu keras untuk badan sekecil itu. Ia selalu mencari Damar begitu diturunkan.
"Dia manggil Damar 'Ama'," kata Mama Yura sambil tertawa. "Belum bisa lengkap."
Ayah Yura menjalani hukuman, lalu terapi kecanduan. Ia belum sepenuhnya berubah — Yura tahu itu dan tidak berpura-pura tidak tahu. Tetapi lelaki itu mulai bertanggung jawab atas utang-utangnya, menyicilnya dari upah kerja di bengkel, dan berhenti menelepon hanya ketika butuh uang.
Mama Richard keluar dari tahanan setelah masa hukumannya berkurang. Ia tidak kembali ke rumah besar. Ia tinggal di rumah kecil di pinggir kota dan datang tiga kali seminggu ke yayasan untuk membantu mengelola keuangan. Ternyata ia memang pandai soal angka; laporan yayasan tidak pernah serapi itu sebelumnya.
Richard masih membutuhkan waktu untuk memaafkan. Ia bisa duduk semeja, bisa bicara soal pekerjaan, bisa mengantar pulang. Tetapi ada jarak yang belum hilang, dan ia tidak memaksa dirinya menutupnya buru-buru.
Yang pasti, ia tidak lagi membenci ibunya. Dan itu sudah lebih jauh dari yang ia kira mungkin.
Mia pergi ke luar negeri untuk memulai hidup baru. Sebelum berangkat, ia mengirim surat kepada Yura. Bukan pesan singkat, bukan surel — surat, ditulis tangan, dengan tinta yang tembus ke belakang kertas.
"Terima kasih karena tidak menjadikan kesalahan kami sebagai alasan untuk membenci dirimu sendiri. Semoga kamu dan Richard menemukan kebahagiaan yang dulu tidak bisa kami jaga."
Yura membacanya dua kali, lalu melipatnya kembali. Ia menunggu kemarahan itu datang seperti dulu, dan sekali lagi kemarahan itu tidak datang. Ia menyimpan surat tersebut di laci mejanya tanpa rasa marah.
Hari itu hari biasa. Tidak ada tanggal istimewa, tidak ada perayaan apa pun. Yura pulang dengan kaki pegal sehabis mengurus pernikahan di gedung yang pendinginnya mati, dan rambutnya masih bau hairspray.
Malam itu, setelah anak-anak tidur dan lampu yayasan dimatikan, Richard mengajak Yura berjalan di taman rumah mereka. Udara sehabis hujan, tanah masih basah, dan jangkrik bersahutan di balik pagar kayu.
Richard membawa kotak kecil. Ia tidak langsung membukanya. Ia menggenggamnya cukup lama sampai Yura menyadarinya.
"Apa ini?" tanya Yura.
"Sebuah pilihan."
Richard membuka kotak itu. Di dalamnya ada cincin sederhana. Tidak ada batu besar, tidak ada ukiran rumit. Hanya lingkaran tipis yang memantulkan cahaya lampu teras.
"Saya tahu kamu tidak suka tekanan dan janji berlebihan," kata Richard. Suaranya tidak setenang biasanya. "Saya tidak akan meminta kamu melupakan masa lalu. Saya tidak akan bilang saya sudah jadi orang yang lebih baik, karena itu kamu yang menilai. Saya hanya ingin bertanya apakah kamu mau berjalan bersama saya mulai sekarang."
Yura menatap cincin itu, lalu Richard. Lelaki itu berdiri terlalu kaku, dan tangannya yang memegang kotak sedikit gemetar.
"Kalau jawaban gue tidak?"
"Saya tetap akan bekerja di pusat bantuan dan menunggu sampai kamu yakin."
"Berapa lama?"
"Sampai kamu yakin," ulang Richard. "Saya tidak punya batas waktu buat itu."
Yura tertawa sambil menangis. Tawa dan tangis itu keluar bersamaan sampai ia harus menyeka wajahnya dengan punggung tangan.
"Lo sudah belajar banyak."
"Dari kamu."
Yura mengulurkan tangan. Jari-jarinya terbuka, telapaknya menghadap ke atas, dan untuk beberapa detik tidak ada suara apa pun selain jangkrik.
Richard memasangkan cincin itu. Ukurannya pas. Entah dari siapa ia tahu, dan Yura memutuskan untuk tidak bertanya.
"Saya mau. Tapi tidak ada pesta besar."
"Kita bisa mengaturnya."
"Dan jangan pernah meninggalkan gue tanpa penjelasan."
"Tidak akan pernah."