Pernikahan Richard dan Yura digelar sederhana di taman pusat bantuan.
Tidak ada gedung, tidak ada karpet merah, tidak ada undangan tercetak dengan tinta emas. Yang ada hanya rumput yang dipangkas rapi sejak tiga hari sebelumnya, deretan kursi kayu pinjaman, dan kain putih yang diikat di antara dua pohon.
Anak-anak menjadi pembawa bunga. Mereka latihan seminggu penuh dan tetap saja berjalan terlalu cepat di hari H, menyebar kelopak bunga dalam gumpalan besar di tiga titik lalu kehabisan di sisanya. Tidak ada yang protes. Damar berjalan paling belakang, menjaga barisan, wajahnya serius seperti orang yang sedang mengerjakan tugas negara.
Neli mengatur dekorasi dan tidak berhenti mengomel sejak subuh.
"Bunganya miring! Yang kiri! Kiri, bukan kanan!" Lalu ia menoleh ke Yura dan wajahnya langsung berubah. "Kak, sumpah ya, gue udah ngerjain empat ratus pernikahan dan baru sekali ini gue gemeteran."
Mama Yura menangis sejak awal acara. Bahkan sebelum acara, sebenarnya — sejak melihat Yura keluar kamar dengan gaun putih sederhana tanpa ekor panjang, tanpa sulaman rumit, hanya kain yang jatuh rapi dan selendang tipis di bahu.
"Mama belum ngomong apa-apa," kata Yura.
"Mama enggak perlu ngomong."
Yura berjalan sendiri ke altar. Itu keputusannya, dan tidak ada yang membantah. Ayahnya hadir, duduk di barisan keempat dengan kemeja yang terlalu longgar, dan Yura sudah bicara dengannya seminggu sebelumnya.
"Bapak duduk aja," katanya waktu itu. "Bukan hukuman. Cuma, jalan ini gue tempuh sendiri dari dulu. Gue mau nutupnya sendiri juga."
Lelaki itu mengangguk dan tidak protes. Mungkin untuk pertama kalinya.
Richard berdiri di depan altar dengan wajah gugup. Yura melihatnya dari kejauhan dan hampir tertawa: lelaki yang pernah menghadapi ruang sidang penuh wartawan tanpa berkedip itu sekarang tidak tahu harus menaruh tangannya di mana.
Ketika Yura berjalan mendekat, semuanya berhenti. Musik masih jalan, angin masih menggerakkan kain putih di antara pohon, tapi bagi Richard semuanya berhenti.
Ia tersenyum seperti lelaki yang akhirnya menemukan rumah setelah bertahun-tahun tersesat.
Mereka berdiri berhadapan. Tangan Richard dingin, dan Yura menggenggamnya lebih erat supaya lelaki itu berhenti gemetar.
"Napas," bisik Yura.
"Saya sedang berusaha," bisik Richard balik.
Ada yang terkikik di barisan depan. Neli, kemungkinan besar.
"Saya pernah kehilangan kamu karena tidak berani bicara," kata Richard dalam sumpahnya. "Waktu itu saya pikir diam adalah cara melindungi. Ternyata diam cuma cara melindungi diri saya sendiri, dan kamu yang menanggung akibatnya bertahun-tahun. Saya tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi saya bisa memilih untuk jujur setiap hari setelah ini."
Beberapa orang di kursi depan mulai menyeka mata.
Yura memegang tangannya. Ia sempat diam beberapa detik, mengatur napas, karena tenggorokannya terasa sempit.
"Saya pernah membencimu karena pergi tanpa alasan," katanya. "Bertahun-tahun. Sampai kebencian itu jadi kebiasaan, dan saya hampir lupa rasanya hidup tanpa itu. Terus alasannya datang, dan saya kira semuanya bakal langsung beres. Ternyata alasan tidak selalu menghapus luka."
Ia menarik napas lagi.
"Tapi saya belajar bahwa cinta bukan tentang tidak pernah terluka. Cinta adalah memilih untuk sembuh bersama, jika keduanya bersedia."
Mereka mengucapkan janji dan memasangkan cincin. Tangan Yura gemetar sedikit sampai Richard menahan jarinya.
Tepuk tangan terdengar dari semua orang yang hadir. Anak-anak bertepuk paling keras, sebagian sambil berdiri di atas kursi, dan Livia tidak sempat melarang karena ia sendiri sedang menangis.
Tidak ada pesta besar, persis seperti yang Yura minta. Makanannya prasmanan sederhana yang dimasak ibu-ibu sekitar yayasan, dan kuenya cuma satu tingkat dengan hiasan bunga asli dari taman.
Setelah acara, ketika orang-orang mulai mengantre makanan dan musik berganti jadi lagu-lagu lama, Yura dan Richard duduk di bawah pohon tua di ujung taman. Sepatu Yura sudah dilepas dan ditaruh di rumput.
Mereka memandang anak-anak bermain di taman, mengejar-ngejar sisa kelopak bunga yang beterbangan. Di seberang, Livia dan Raka berbincang dengan Elena sambil memegang piring kertas.
"Capek?" tanya Richard.
"Banget." Yura memejamkan mata sebentar. "Enak juga ya jadi klien sendiri. Baru kali ini gue boleh duduk."
"Kamu boleh duduk seharian mulai sekarang."
Yura membuka mata lagi dan memandang taman itu — kursi yang berantakan, anak-anak yang berlarian, orang-orang yang setahun lalu belum saling kenal.
"Kita benar-benar melewati semuanya," katanya.
"Dari mantan yang saling membenci sampai menikah."
"Jangan sebut gue mantan lagi."
Richard tertawa. "Baik, istri saya."
Yura menyandarkan kepala di bahunya. Rambutnya yang ditata rapi pagi tadi sudah setengah berantakan, dan ia tidak peduli sama sekali.
"Kalau nanti kita bertengkar?"
"Kita bicara."
"Kalau lo keras kepala?"
"Kamu mengingatkan."
"Kalau gue yang keras kepala?"
"Saya memelukmu sampai kamu tenang."
Yura tersenyum. Matahari sudah turun rendah, warnanya jingga di antara daun-daun pohon tua itu, dan angin sore membawa suara anak-anak dari ujung taman.
Untuk pertama kalinya, masa depan tidak terasa seperti sesuatu yang harus ditakuti.
Di kantor pusat bantuan, sebuah papan nama baru dipasang pagi itu juga, sebelum acara dimulai. Kayunya dipernis, hurufnya diukir tangan oleh salah satu bapak yang dulu kehilangan anak dan menemukannya kembali lewat yayasan itu.
Yayasan Rumah Kedua.
Tidak ada lagi sistem rahasia, kode, atau Ketua yang mengendalikan hidup orang lain. Tidak ada lagi nama samaran, tidak ada lagi surat yang ditandatangani dengan satu kata. Yang tersisa hanyalah orang-orang yang memilih membangun kepercayaan dari awal — pelan, susah, dan kadang gagal, tetapi dipilih sendiri.
Malam turun perlahan. Kursi-kursi dilipat, piring dikumpulkan, dan anak-anak digiring masuk untuk tidur. Neli masih sempat mengomel satu kali lagi soal bunga yang miring.
Richard dan Yura berjalan pulang bersama, menyusuri gang yang sama seperti hari-hari biasa, sepuluh menit dari yayasan ke rumah kecil bercat krem dengan taman di depannya.
Mereka tahu hidup tidak akan selalu mudah. Akan ada tagihan, akan ada pertengkaran, akan ada hari-hari ketika salah satu dari mereka pulang dengan wajah yang tidak mau diajak bicara. Akan ada nama-nama lama yang muncul lagi di berita.
Tetapi kali ini mereka tidak akan menghadapi kesulitan sendirian.
Di depan pagar, Yura berhenti sebentar dan menoleh ke belakang, ke arah lampu yayasan yang masih menyala satu di lantai dua.
"Besok kerja lagi," katanya.
"Besok kerja lagi," jawab Richard.
Lalu mereka masuk, dan pintu itu ditutup dari dalam.
Dan begitulah kisah mereka berakhir—bukan dengan masa lalu yang dilupakan, melainkan dengan masa depan yang dipilih bersama.
TAMAT.