Pengadilan berlangsung berbulan-bulan.
Yura sampai hafal bau ruang sidang itu: campuran pengharum ruangan murahan, kertas lembap, dan keringat orang yang duduk terlalu lama. Ia hafal bunyi kipas angin di sudut yang selalu berdecit di menit kelima puluh. Ia hafal wajah petugas yang memeriksa tasnya setiap pagi dan akhirnya berhenti memeriksa karena sudah kenal.
Satu per satu nama itu dibacakan.
Ayah Mia. Paman Mia. Bagas. Satrio. Hendra. Kartika. Arman. Lalu anggota Ordo, berjajar di kursi terdakwa dengan rompi tahanan yang membuat mereka terlihat lebih muda daripada yang Yura ingat.
Masing-masing menerima hukuman sesuai perannya. Ada yang belasan tahun. Ada yang hanya beberapa. Hakim membacakan pertimbangan dengan suara datar, dan setiap kali palu diketuk, ada yang menangis di bangku pengunjung — kadang keluarga korban, kadang keluarga terdakwa. Kadang keduanya menangis untuk hal yang sama.
Mama Richard mendapat hukuman lebih ringan. Ia menjadi saksi, menyerahkan bukti yang selama bertahun-tahun ia simpan di brankas rumah, dan tidak satu kali pun mencabut keterangannya meski dua kali dikirimi ancaman.
Ardi dan Mara juga memberikan kesaksian penuh. Keduanya bicara tanpa menawar, termasuk soal bagian yang membuat mereka sendiri terlihat buruk.
Raka mendengarkan semuanya dari bangku belakang. Setelah sidang Ardi selesai, Yura menemukannya berdiri di koridor, memandangi lantai.
"Lo baik-baik aja?"
"Enggak tahu." Raka mengangkat bahu. "Gue masih ngunjungin dia. Tiap bulan."
"Lo udah maafin?"
"Belum." Raka tertawa pendek, tanpa senang. "Mungkin enggak akan pernah buat semuanya. Tapi dia satu-satunya keluarga gue yang masih hidup. Gue milih tetap dateng. Dua hal itu bisa jalan bareng, ternyata."
Yura mengangguk. Ia mengerti lebih dari yang bisa ia jelaskan.
Hari Richard bersaksi, ruang sidang penuh sampai ke pintu. Wartawan datang bukan untuk kasusnya, melainkan untuk satu hal: apakah anak lelaki itu akan membela nama ayahnya atau menguburnya.
Richard berdiri di mimbar saksi dengan setelan paling sederhana yang ia punya.
Ia bercerita tentang seorang lelaki yang membangun sistem untuk melindungi orang — jaringan tempat aman, kode, nama samaran, jalur pemindahan anak. Lelaki yang pada awalnya benar-benar menyelamatkan nyawa. Lalu tentang bagaimana sistem itu diambil alih orang lain, dan bagaimana lelaki itu tidak sanggup menghentikannya. Bukan karena tidak tahu. Karena tidak berani.
"Saya tidak ingin nama ayah saya dibersihkan sepenuhnya," katanya. "Dia tetap membuat kesalahan. Namun, kesalahan itu tidak boleh digunakan untuk membenarkan kejahatan orang lain."
Ruangan sunyi.
"Dia membiarkan hal yang salah terus berjalan karena takut kehilangan apa yang sudah dia bangun," lanjut Richard. "Saya tumbuh dengan ketakutan yang sama. Saya juga pernah pergi dari orang yang saya sayangi tanpa memberi penjelasan, dengan alasan melindungi. Saya tahu sekarang itu hanya nama bagus untuk pengecut."
Yura duduk di barisan ketiga. Ia tidak sadar sedang menahan napas sampai Richard turun dari mimbar.
Yura hadir di setiap persidangan. Tidak satu kali pun ia absen, bahkan ketika sidangnya hanya soal berkas administrasi dan berlangsung dua puluh menit. Ia ingin nama-nama itu melihat siapa yang duduk di seberang mereka.
Hari terakhir, keputusan dibacakan sejak pagi sampai lewat tengah hari. Ketika palu terakhir diketuk, Yura tidak merasakan kemenangan. Ia hanya merasa lelah yang aneh, seperti orang yang baru bangun dari demam panjang.
Mereka keluar dari gedung pengadilan bersama-sama. Siang itu terang sekali, dan tangga depan penuh kamera.
"Akhirnya selesai," kata Yura.
"Sebagian besar."
Yura menoleh. "Masih ada?"
"Memulihkan perusahaan dan hidup kita."
Yura tersenyum. "Itu bagian yang paling sulit."
"Perusahaan gue aja masih ngos-ngosan," lanjut Yura. "Tiga klien mundur gara-gara nama gue kepajang di berita."
"Mereka akan kembali."
"Belum tentu."
"Kalau begitu kita cari yang baru," kata Richard. "Yang datang karena kerja kamu, bukan karena bapaknya siapa."
Mereka melewati kerumunan wartawan tanpa berhenti. Baru di parkiran Richard bicara lagi.
"Ada yang mau saya tunjukkan. Kalau kamu tidak terlalu capek."
"Ke mana?"
"Rumah."
Rumah itu berdiri di ujung gang, sepuluh menit jalan kaki dari pusat bantuan, di tanah yang dulu kosong. Mereka membangunnya pelan-pelan selama sidang berlangsung, kadang hanya sanggup menambah satu dinding sebulan.
Tidak mewah. Satu lantai, cat krem, pagar kayu rendah. Tetapi ada taman kecil di depan dengan tanah yang sudah ditanami, dan di dalamnya ada satu ruangan yang pintunya sengaja dibuat paling lebar.
Richard membuka pintu itu.
Ruang kerja. Meja panjang menghadap jendela. Rak untuk sampel kain dan katalog. Papan gabus sepanjang dinding. Colokan di mana-mana, karena Yura selalu mengeluh kekurangan colokan.
Yura berdiri di ambang pintu dan tidak bisa bicara beberapa saat.
"Kamu membuat ruang ini?"
"Saya ingin kamu memiliki tempat untuk bekerja tanpa harus memikirkan utang atau berita."
Yura masuk perlahan. Ia menyentuh permukaan meja, lalu berhenti.
Di atas meja itu berjajar foto-foto tim Cantika Wedding Organiser. Foto hari pertama kantor dibuka, waktu mereka cuma bertiga dan mejanya pinjaman. Foto Neli yang tertangkap sedang mengomel di belakang panggung. Foto seluruh tim berbaju seragam ungu di pernikahan pertama yang nyaris gagal karena hujan.
Dan di dinding, di antara papan gabus dan jendela, tergantung satu foto lama.
Dua remaja berseragam putih abu-abu, berdiri kaku di depan tembok sekolah. Yang perempuan memaksakan senyum. Yang laki-laki tidak sempat siap ketika tombolnya ditekan.
"Dari mana lo mendapatkan ini?"
"Mama saya menyimpannya."
Yura memandang foto tersebut lama sekali.
Ia menunggu rasa itu datang — sesak yang biasa muncul setiap kali masa SMA disebut, marah yang selama bertahun-tahun ia pelihara seperti binatang peliharaan yang rajin ia beri makan. Ia menunggu. Rasa itu tidak datang.
"Gue benci banget sama anak cowok yang di sebelah kanan ini," kata Yura pelan, menunjuk foto itu.
Richard berdiri di belakangnya. "Saya tahu."
"Bertahun-tahun. Tiap kali ada yang nyebut nama lo, gue ganti topik."
"Saya tahu itu juga."
"Mau saya turunkan?" tanya Richard setelah beberapa saat.
Yura menggeleng. Ia menurunkan tangannya dan mundur selangkah, memandangi seluruh dinding itu sekaligus — foto tim, papan gabus, jendela yang menghadap taman kecil, dan dua remaja kaku di sudut kiri atas.
"Biarin aja di situ," katanya. "Gue mau tiap pagi lihat dari mana gue mulai."
Di luar, matahari sore masuk lewat jendela dan jatuh tepat di permukaan meja kosong yang menunggu diisi pekerjaan.
Masa lalu mereka tidak lagi terasa seperti luka yang terbuka, melainkan bagian dari perjalanan yang akhirnya membawa mereka kembali.