Tiga hari sebelum serangan, pusat bantuan berhenti menjadi kantor dan berubah menjadi tempat perlindungan.
Polisi berjaga di setiap pintu, termasuk pintu gudang yang selama ini tidak pernah dipakai. Jendela lantai dasar dilapisi film pengaman. Daftar tamu diperiksa dua kali. Kevin dan Nara mengurung diri di ruang server selama dua malam penuh, memutus satu per satu akses digital yang mungkin dipakai untuk melacak anak-anak — kamera yang tersambung ke jaringan luar, cadangan data di layanan awan, bahkan aplikasi absensi yang ternyata masih mengirim titik lokasi.
"Ketemu tiga pintu belakang," kata Kevin, matanya merah. "Dua ditanam setahun lalu. Satu baru dua minggu."
Dari ruang tahanan, Dina akhirnya bicara. Ia memberi satu informasi, dan informasi itu membuat semua orang di ruang rapat terdiam: Ordo akan menyerang tepat saat acara peresmian gedung baru. Mereka ingin dua hal. Kunci rekening warisan, dan Damar.
"Batalin aja acaranya," kata Raka.
"Enggak," kata Yura.
Semua kepala menoleh.
"Kalau kita membatalkannya, mereka akan mencari kesempatan lain," kata Yura. "Besok, bulan depan, tahun depan. Waktu anak-anak lagi di sekolah, waktu enggak ada polisi, waktu kita udah capek jaga-jaga. Gue enggak mau hidup nunggu giliran."
Ruangan hening sebentar.
"Saya setuju," kata Richard akhirnya. "Tapi acaranya jalan dengan versi kita."
Maka acara itu tetap ada di undangan, tetap ada di berita, tetap ada di spanduk depan. Yang tidak ada di undangan: dua belas petugas berpakaian preman, pintu darurat yang sengaja dibiarkan terlihat mudah dibuka, dan ruang aman di lantai dua yang dindingnya diperkuat sejak malam sebelumnya.
Anak-anak dipindahkan ke ruang aman sejak siang. Para korban dan saksi ditempatkan di lantai bawah, dekat jalur keluar.
Pagi hari acara, Yura menemukan Richard berdiri sendirian di halaman, memandangi kursi-kursi yang baru selesai ditata.
"Kalau ada yang kenapa-kenapa hari ini," kata Richard, "itu karena saya setuju."
"Itu karena mereka yang nyerang," potong Yura. "Bukan karena kita nolak sembunyi."
Acara dimulai sore hari. Langit mendung, dan kursi-kursi plastik di halaman penuh. Media meliput pembukaan pusat bantuan; kamera berjajar di sisi kanan panggung kecil.
Richard naik tanpa teks.
"Saya dibesarkan di keluarga yang menyebut kepatuhan sebagai kasih sayang," katanya. "Butuh tiga puluh tahun buat saya tahu itu bukan hal yang sama. Keluarga dibangun dari kepercayaan, bukan paksaan. Kalau ada yang harus dipaksa supaya tetap tinggal, itu bukan rumah. Itu penjara dengan foto keluarga di dindingnya."
Tepuk tangan belum habis ketika listrik padam.
Semuanya gelap sekaligus. Pengeras suara mati di tengah kalimat berikutnya. Lalu alarm berbunyi, panjang dan memekakkan, dan terdengar bunyi berat dari arah depan: pintu utama mengunci otomatis.
Orang-orang berdiri. Seseorang menjerit.
"Tetap di tempat!" suara Raka memotong kegaduhan. "Semua tetap duduk!"
Beberapa orang bertopeng masuk lewat jalur servis di sisi dapur — jalur yang tidak ada di denah publik. Mereka bergerak rapi, tidak panik, seperti orang yang sudah berlatih di ruangan itu.
Raka memimpin polisi menghadang mereka di koridor tengah.
Yura tidak menunggu aba-aba. Ia menyusuri dinding, menghitung pintu dengan tangan, dan naik ke lantai dua. Anak-anak berkumpul di ruang aman dengan lampu darurat oranye, sebagian menangis, sebagian diam terlalu tenang.
"Kita main tebak suara," kata Yura, duduk di lantai. "Yang bisa nebak paling banyak, besok pilih menu makan siang."
Ada yang tertawa kecil. Itu cukup.
Di luar ruang aman, Damar justru bergerak ke arah lain. Ia menarik lengan Niko.
"Pintu darurat sayap timur cuma bisa dibuka dari dalam," katanya. "Aku tahu grendelnya. Kalau enggak dibuka, orang di bawah enggak bisa keluar."
Dua anak itu menerobos koridor gelap dan membuka pintu besi itu bersama-sama, mendorongnya dengan seluruh berat badan mereka sampai udara sore masuk dan orang-orang di lantai bawah punya jalan keluar.
Tidak semua penyerang tertahan. Satu orang berhasil menembus sampai ruang arsip.
Richard sampai di sana ketika lelaki itu sudah memegang kotak bukti — kotak logam berisi dokumen asli yang tidak pernah digandakan.
Pengejaran berlangsung lewat tangga darurat, naik, naik terus, sampai pintu atap terbanting terbuka dan angin menampar wajah mereka.
Lelaki itu berbalik dan melepas topengnya.
Richard mengenalinya. Salah satu anak yang dulu tinggal di pulau. Wajahnya sudah dewasa, tetapi bekas luka di alisnya masih sama.
"Kalian mengambil hidup kami," katanya.
"Kami memberi kalian pilihan untuk hidup bebas."
"Bebas?" Lelaki itu tertawa tanpa suara. "Aku enggak tahu caranya hidup di luar aturan. Kalian robohkan satu-satunya tempat yang pernah menampung aku, lalu kalian bilang itu hadiah."
"Saya enggak bilang itu gampang," kata Richard. "Tapi kotak itu bukan milik kamu."
Pertarungan berlangsung singkat. Mereka bergulat di dekat tepi atap, kotak itu jatuh dan terbuka, kertas-kertas beterbangan. Richard menekan lengan lelaki itu ke lantai beton dan berhasil merebut kotaknya kembali.
Tapi lawannya lebih cepat berdiri. Ia berlari, melompat ke atap gedung sebelah dengan jarak yang seharusnya mustahil, dan hilang di balik tangki air.
Richard tidak mengejar. Ia berlutut, mengumpulkan lembar demi lembar dokumen itu dengan tangan yang berdarah.
Di lantai bawah, Yura menemukan seorang perempuan berdiri diam di depan panel listrik utama. Senter Yura menyorot wajahnya.
Selina.
"Kamu mengatur serangan ini?"
Selina menggeleng. "Saya datang untuk menghentikannya. Ordo sudah tidak mendengarkan saya."
"Kenapa gue harus percaya?"
"Kamu tidak harus." Perempuan tua itu menunjuk dinding di belakang lemari arsip. "Tapi mereka punya ruang komando di bawah gedung ini sejak sebelum kalian membelinya. Dan dari sana, semua bisa dihapus."
Ada pintu di balik lemari itu. Sempit, berdebu, menurun.
Di ujung tangga, layar-layar menyala di ruangan tanpa jendela. Dan di layar tengah, angka merah berjalan mundur: penghapusan seluruh rekening, seluruh catatan, seluruh jejak kejahatan jaringan itu dalam hitungan menit.
"Kevin!" Yura berteriak ke radio.
Kevin dan Nara datang berlari. Keduanya duduk berdampingan, mengetik tanpa bicara, saling melempar potongan kalimat yang tidak dimengerti siapa pun di ruangan.
"Kabel utama," kata Nara. "Jangan software. Fisik."
Hitungan tinggal beberapa detik ketika Kevin mencabut jalur jaringan dari dinding.
Angka merah itu berhenti.
Polisi menangkap sebagian besar anggota Ordo malam itu. Pemimpin lapangan mereka lolos lewat atap dan belum ditemukan, tetapi semua bukti selamat.
Setelah keadaan aman, Selina berjalan sendiri ke arah mobil polisi dan menyerahkan diri. Sebelum masuk, ia menoleh kepada Yura.
"Satu permintaan. Jangan pisahkan anak-anak itu dari orang yang mereka percayai. Itu kesalahan saya dulu."
Yura memandang ke jendela lantai dua, tempat lampu darurat masih menyala oranye.
"Gue akan bangun rumah perlindungan buat mereka," katanya. "Permanen. Bukan titipan. Dan bukan rahasia."
Pintu mobil polisi ditutup. Hujan yang sejak sore ditahan langit akhirnya turun, dan Yura berdiri di bawahnya sampai basah tanpa berniat berteduh.