Selina ternyata tinggal di sebuah rumah tua di kaki bukit, tiga jam dari kota, dengan pagar besi yang catnya mengelupas dan halaman yang terlalu rapi untuk ukuran perempuan yang tinggal sendirian.
Ia menyambut polisi di pintu tanpa terkejut sedikit pun. Rambutnya putih seluruhnya, diikat rapi ke belakang. Ia mempersilakan mereka masuk, lalu menuang teh untuk semua orang, termasuk untuk dua petugas yang datang membawa surat penggeledahan.
"Saya bukan pemimpin apa pun," katanya tenang. "Saya perempuan tua yang berkebun."
Yura duduk di kursi paling ujung dan memperhatikan tangan perempuan itu. Tidak gemetar. Sama sekali.
Penggeledahan berlangsung empat jam. Di ruang kerja lantai dua, di balik lemari buku yang bisa digeser, polisi menemukan dua kardus berisi buku catatan, daftar nama, dan tumpukan cetakan pesan yang dikirim selama belasan tahun. Perintah pemindahan anak. Instruksi kepada dokter. Nama-nama pejabat beserta tanggal mereka "diingatkan".
Semua ditandatangani dengan satu kata yang sama.
Ibu.
Selina melihat kardus itu diangkat keluar dan wajahnya baru berubah.
"Itu bukan perintah," katanya. "Itu surat."
"Surat yang bikin rumah orang dibakar," kata Richard.
Mereka duduk berhadapan di ruang tamu. Richard tidak menaikkan suaranya sama sekali, dan justru itu yang membuat ruangan terasa dingin.
"Saya membentuk Ordo untuk melindungi mereka," kata Selina. "Kamu tidak tahu bagaimana keadaannya dulu. Anak-anak itu diculik, dijual, ditukar. Tidak ada yang mencari mereka. Tidak ada negara, tidak ada polisi, tidak ada keluarga. Saya kumpulkan mereka. Saya beri nama, beri tempat tidur, beri alasan untuk bangun pagi."
"Lalu?"
"Lalu mereka dewasa." Selina memandang ke luar jendela. "Anak yang tumbuh dengan rasa takut tidak berhenti takut hanya karena badannya besar. Mereka mulai membuat aturan sendiri. Mereka bilang aturan itu untuk menjaga. Saya percaya. Saya sudah tua, dan saya percaya pada anak-anak saya."
"Kapan Anda tahu kehilangan kendali?"
"Waktu saya melarang sesuatu, dan mereka tetap melakukannya." Suaranya melemah untuk pertama kali. "Setelah itu mereka tetap memanggil saya Ibu. Tapi mereka tidak lagi bertanya."
Ia menaruh cangkirnya.
"Saya hanya ingin memberi mereka keluarga," katanya.
Richard menjawab, "Keluarga tidak memaksa anggotanya berbohong atau membakar rumah orang lain."
Selina tidak membantah. Ia justru menunduk, lama sekali, dan ketika mengangkat wajahnya, ia meminta pena.
Perempuan itu menulis di halaman kosong buku catatan polisi: nama-nama anggota inti. Sebelas nama. Ia menulisnya dari ingatan, satu per satu, tanpa ragu, seperti orang menyebut daftar anaknya sendiri.
Yura membaca dari balik bahu penyidik. Sampai matanya berhenti di baris keenam.
Ia harus membacanya tiga kali sebelum percaya.
"Dina," katanya. Suaranya nyaris tidak keluar. "Dina staf administrasi gue."
Perempuan yang setiap pagi menaruh daftar kehadiran anak-anak di mejanya. Yang tahu semua jadwal, semua nomor kamar, semua nama wali. Yang tahun lalu menjahit kostum Damar untuk pentas Agustusan sampai lewat tengah malam.
Yura berdiri terlalu cepat sampai kursinya jatuh.
Telepon ke pusat bantuan tidak diangkat tiga kali. Di panggilan keempat, Livia yang menjawab, dan suaranya sudah panik.
"Kak, Damar enggak ada. Dina juga. Mobil operasional dibawa."
Di meja Dina ada satu kertas, dilipat rapi, ditindih cangkir.
Anak itu satu-satunya yang bisa membuka rekening warisan jaringan. Jangan cari kami. Ini untuk anak-anak yang lain.
Raka yang menemukan jejaknya lebih dulu. Mobil operasional ditinggalkan di pelataran stasiun kota, pintunya tidak dikunci, kunci masih menggantung.
Perjalanan ke sana terasa paling panjang seumur hidup Yura. Ia duduk di depan, memegang ponsel dengan dua tangan, dan tidak berhenti menyalahkan dirinya sendiri.
"Gue yang ngerekrut dia," katanya. "Gue yang naikin jabatannya. Gue yang kasih dia kunci gudang arsip."
"Kamu enggak bisa tahu," kata Richard, matanya tetap di jalan.
"Justru itu kerjaan gue, Chard. Tahu."
"Kalau kamu bisa tahu semuanya, kamu enggak butuh siapa-siapa." Richard menyalip satu truk. "Sekarang bukan waktunya menghukum diri sendiri. Anak itu masih di depan."
Mereka sampai empat puluh menit kemudian. Stasiun sedang penuh — sore menjelang malam, orang-orang pulang kerja, pengeras suara memanggil keberangkatan susul-menyusul, dan di antara ratusan kepala itu harus dicari satu anak.
Raka menemukan mereka lewat rekaman kamera: peron tiga, bangku paling ujung.
Yura melihatnya dari kejauhan dan langsung tahu ada yang salah. Damar tidak duduk seperti anak yang pergi dengan sukarela. Bahunya naik, punggungnya kaku, dan pergelangan tangannya dipegang Dina terlalu erat untuk disebut menggandeng.
Anak itu menoleh ke pintu keluar berkali-kali.
"Jangan didekati langsung," kata Raka pelan. "Perempuan itu bisa nekat kalau kaget."
"Terus gimana?"
Richard menunjuk ruang operator di ujung peron.
Satu menit kemudian, suara Yura keluar dari seluruh pengeras suara stasiun, memantul di langit-langit besi yang tinggi.
"Damar. Ini Kak Yura."
Anak laki-laki itu berdiri. Kepalanya berputar mencari asal suara. Dina menariknya kembali ke bangku.
"Kakak enggak akan teriak-teriak nyuruh kamu lari," kata Yura. Suaranya bergetar, dan ia membiarkannya bergetar. "Kakak cuma mau ngingetin satu hal. Kamu masih punya pilihan, Damar. Selama ini orang dewasa terus-terusan mutusin hidup kamu. Sekarang enggak. Mau kamu jalan ke sini, atau kamu naik kereta itu, itu pilihan kamu. Kakak tetap nyariin kamu sampai ketemu."
Peron itu hening aneh. Orang-orang berhenti bergerak.
Damar menoleh kepada Dina.
"Kamu bilang aku enggak punya pilihan," katanya.
Dina membuka mulut, tapi tidak ada yang keluar.
Anak itu merogoh saku jaketnya. Sebuah kunci kecil berwarna kuningan, benda yang selama berbulan-bulan diperebutkan orang-orang dewasa sampai ada rumah yang dibakar karenanya, jatuh berdenting di lantai peron.
Lalu Damar berlari.
Ia menabrak Yura sampai perempuan itu hampir jatuh. Yura memeluknya, menekan kepala anak itu ke bahunya, dan baru saat itu ia sadar tangannya sendiri gemetar hebat.
Dina tidak melawan waktu ditangkap. Ia bahkan mengulurkan kedua tangannya sendiri.
"Kalian pikir ini sudah selesai," katanya ketika dibawa melewati Yura.
"Sudah," kata Yura.
"Belum." Dina menoleh, dan matanya tenang dengan cara yang membuat bulu kuduk berdiri. "Mereka sudah menyiapkan yang terakhir. Bukan buat kamu. Buat tempat itu. Buat pusat bantuan."
"Kapan?"
Dina tidak menjawab sampai ia sudah berada di dalam mobil.
Kereta yang seharusnya membawa mereka berangkat tepat waktu. Yura memandangi gerbong terakhir menghilang di tikungan sambil masih memeluk Damar, dan anak itu tidak mau melepaskan pegangannya sampai mereka tiba di mobil.
Malam itu, di ruang rapat pusat bantuan, tiga benda tergeletak di meja di hadapan Richard: daftar sebelas nama anggota inti, kunci rekening warisan yang dijatuhkan Damar di peron, dan selembar catatan waktu.
Ordo akan bergerak tiga hari lagi.