"Shea, idung lo." Berdirinya Martin membuat semua orang menatap ke arah Shea termasuk Rarki. Mereka semua terkejut saat mendapati Shea yang hidungnya mengeluarkan cairan kental berwarna merah.
Dengan gerakan kilat, Rarki menangkap tubuh Shea yang tiba-tiba saja terhuyung ke belakang. Shea pingsan. Kepanikan pun melanda para lelaki di sekitarnya. Rarki menatap wajah wanita yang ada di pelukannya saat ini.
"Panggil taksi, cepat! Ke rumah sakit!" Teriakan Rarki membuat Felix langsung meraih HPnya dan segera memesan taksi online ke rumah sakit terdekat.
Rarki membersihkan hidung Shea dengan gerakan spontan menggunakan tangannya, kemudian menggunakan handuknya. Setelah melepaskan tas Shea dari punggungnya, Rarki langsung membopong tubuh gadis itu dan berlari keluar gerbang sambil menenggerkan tas Shea di tangan kanannya. Martin menyusul setelah meraih tasnya dan tas Rarki. Beruntung taksi tiba dengan cepat sehingga begitu keluar gerbang Rarki langsung memasukkan Shea di kursi belakang begitu pula dirinya. Sedangkan Martin langsung duduk di kursi depan setelah membantu Rarki yang sedikit kesulitan memasukkan Shea ke dalam taksi.
Di perjalanan, Rarki membuka tas Shea untuk mencari-cari benda kotak canggih milik gadis itu. Tapi Ia tak menemukannya walau sudah memeriksa di setiap sudut tas Shea. Ia teringat sesuatu, dirabanya rok samping Shea ragu. Benar saja, benda kotak yang disebut handphone itu ada di saku rok nya. Rarki mengambilnya dan untung saja Shea tak mengunci HPnya sehingga Rarki dengan mudah membuka daftar panggilan Shea. Dilihatnya panghilan terkahir yang masuk bertuliskan 'Mama'.
*********
Alis, mata, hidung, bibir, dan dagu. Dengan seksama, sepasang mata milik pria berdagu lancip memperhatikan setiap lekuk wajah seorang wanita yang kini tengah tak sadarkan diri di atas ranjang. Ranjang yang di sekelilingnya ditemani berbagai benda berwarna putih termasuk tirai putih di sisi kanan dan kiri ranjang yang mampu menutupi dua insan itu. Pria itu duduk di sebuah kursi yang memang disediakan di sebelah ranjang masih sambil memandang wajah tenang wanita itu.
Pria itu tak lain adalah Rarki dan tentu saja wanita itu Shea, saat ini mereka berada di salah satu bilik pasien rumah sakit. Sedangkan Martin sudah pulang sejak 15 menit yang lalu karena ada urusan penting.
Baru saja seorang dokter memeriksa keadaan Shea dan pergi setelah menanyakan walinya. Rarki sempat menanyakan apa yang terjadi pada Shea dan dokter itu mengatakan bahwa wanita itu hanya kelelahan. Tapi Rarki merasa dokter itu tidak mengatakan kebenaran padanya, dirinya merasa ada sesuatu yang janggal.
Rarki teringat kejadian di taksi saat dirinya mencari handphone milik Shea dan menemukan pil yang tampak asing. Karenanya Rarki juga menunjukkan obat itu pada dokter sebelum memeriksanya. Sang dokter pun memberinya pada salah satu perawat untuk memeriksa pil apa itu. Di tengah pemeriksaan, perawat itu kembali dan membisikkan sesuatu pada Sang dokter. Jelas Rarki melihat ekspresi dokter itu yang sedikit tertegun.
Rarki juga mengingat salah satu riwayat panggilan di handphone gadis itu ada tertulis 'Dr. Rash'.
"Rarki?" Hingga suara serak itu membuat Rarki tersadar dari lamunannya yang sangat panjang. Dilihatnya Shea kini telah membuka mata menatapnya, kemudian matanya berputar memperhatikan sekelilingnya.
"Udah baikan?" Rarki bertanya sembari membantu Shea yang tampak sedikit kesulitan untuk duduk.
"Yahh gue gapapa. Di rumah sakit ya?" Shea bertanya memastikan apakah tebakannya benar.
"Iyaa."
"Gue cuma pingsan, kenapa sampe dibawa ke rumah sakit sih? Pasti lo khawatir." Shea terkekeh.
"Berapa lama lo kemaren nunggu gue?" Namun Rarki malah memasang wajah dinginnya.
"Ehm.. Satu jam?" Shea tampak berpikir untuk mengingat sebelum menjawabnya.
"Lo berdiri di sana satu jam? Hari ini juga?" Shea mengangguk tanpa ragu untuk menjawab pertanyaan Rarki.
"Dan karna lo ga keluar juga makanya gue masuk ke seko-"
"Lo b**o ya? Kenapa lo ngelakuin itu?!" Belum sempat Shea menyelesaikan kalimatnya, Rarki sudah memotongnya. Kali ini wajahnya tampak marah membuat Shea diam beberapa detik.
"Karna gue mau ketemu elo Ki. Gue suka sa-"
"Justru itu lo malah buat gue jadi ga nyaman!" Lagi, Rarki memotongnya dengan suara yang mulai meninggi.
Shea diam menatap pria bermata tajam di depannya yang sekarang benar-benar marah. Tapi entah apa yang merasuki gadis itu hingga sekarang dirinya memeluk tubuh pria itu untuk kedua kalinya di hari yang sama.
"Gue seneng lo ngekhawatirin gue. Makasih Ki." Rarki tak bergerak, berusaha mencerna setiap kata yang dilontarkan gadis itu di saat dirinya sedang marah. Belum lagi kenyataan bahwa gadis itu memeluknya.
"ARA!" Hingga teriakan itu membuat Rarki refleks berdiri dari duduknya dan otomatis pelukan Shea terlepas. Dilihatnya seorang Pria tinggi menatap marah ke arahnya di ujung ranjang Shea.
"Apa yang lo lakuin ke Ara!" Pria itu melangkah cepat dan langsung meraih kerah baju Rarki. Tentu hal itu membuat Rarki terkejut.
"Lo siapa!" Rarki bertanya.
"Kak Irvan! Lepasin, dia Rarki." Mendengar pernyataan dari Shea, Sang Kakak pun mulai melonggarkan tarikannya di kerah baju Rarki.
"Jadi lo Rarki?" Setelah tersadar, tatapan Irvan langsung beralih pada Shea dan langsung menghampiri adik tercintanya itu. "Ara, lo gapapa? Ada yang luka?" Tanyanya panik menangkup kedua pipi adiknya dan memeriksa untuk memastikan tidak ada luka di tubuh Shea.
Rarki masih berdiri di tempatnya, berpikir segala kemungkinan yang membuat hatinya merasa bingung. Kenapa pria yang disebut Kakak oleh Shea langsung berhenti saat Shea menyebut nama Rarki.
"Araaaa..." Belum selesai Rarki berpikir, tiba-tiba datang dua orang paruh baya yang sedikit berlari memasuki bilik itu. Tapi kali ini dirinya langsung berpikir bahwa kedua orang itu sudah pasti adalah Ayah dan Ibu Shea.
"Ara, kamu gapapa? Kamu ini, udah Papa bilang jangan pulang sendiri, telpon Irvan minta jemput!" Keluarga itu langsung mengerubungi Shea membuat Rarki hanya berdiri di sudut, tak tahu harus melakukan apa. Sampai dirinya tertegun saat Mama Shea menatap dirinya.
"Kamu yang tadi telpon Tante ya? Kamu juga yang bawa Ara ke sini?" Fany berjalan mendekati Rarki yang sudah mengerti bahwa Ara adalah nama panggilan Shea di rumah.
"I.. Iya Tante.." Namun dirinya menjadi canggung saat menyadari kini tatapan semua orang beralih padanya.
"Makasih banyak ya.. Astaga.. Tante ga tau lagi kalo tadi ga ada kamu yang langsung bawa anak Tante ke sini." Tangan hangat Fany menggenggam lembut tangan Rarki, sehingga Sang pemilik tangan tersenyum tulus menatap manik wanita di depannya.
"Ma, Pa, kenalin. Dia Rarki." Dengan senyum sumringah Shea bersuara.
"Kamu Rarki? Astagaa.. Ternyata kamu yang namanya Rarki. Bener kata kamu Ra, dia ganteng. Tante udah banyak banget denger tentang kamu tau.." Seketika Fany menjadi histeris, kemudian mencubit gemas pipi tirus milik Rarki, membuat Pria itu membesarkan mata tak menyangka.
"Masih gantengan Papa kan Ma.. Tapi kamu tinggi juga ya." Dimas -Papa Shea- ikut bicara. Sekarang Rarki tahu dari mana asalnya sikap Shea yang begitu terus terang.
*********
Hujan kembali mengguyur, kali ini bukannya di bawah lindungan payung, melainkan di dalam sebuah mobil. Rarki yang masih menggunakan baju sekolahnya tengah bersama keluarga yang tak memiliki hubungan darah apapun dengannya, keluarga Shea. Rarki yang sebelumnya mengenakan baju basket sudah menggantinya dengan kaos hitam yang ada di tasnya saat di rumah sakit tadi. Hari sudah begitu sore dan Shea sudah boleh pulang saat kedua orang tuanya datang serta berbicara pada dokter.
Tentu keluarga itu menawarkan tumpangan pada Rarki dan bahkan mengajak makan bersama mengingat Shea yang belum makan siang. Walau sudah menolak beberapa kali dengan alasan arah rumahnya berlawanan dengan arah rumah mereka, Seluruh keluarga itu tetap memaksanya. Hingga Dia pun berakhir duduk di kursi tengah berama Irvan dan Shea.
Mobil itu kini berhenti di depan gerbang yang di dalamnya terdapat sebuah rumah, rumah Rarki.
"Makasih banyak ya Om, Tante."
"Kita yang makasih ke kamu Nak Rarki."
"Kalo gitu Saya permisi ya Om, Tante." Rarki tersenyum lalu menatap Shea dan Irvan di sebelahnya bermaksud permisi melalui tatapan itu, sebelum akhirnya Dia keluar dari mobil berwarna hitam itu menggunakan payung navy nya.
"Sampai ketemu besok Rarki.." Sempat didengarnya suara Shea sebelum dirinya menutup pintu mobil.
Setelah membunyikan klakson, mobil itu pergi. Rarki mulai melangkah berjalan memasuki rumahnya. Sempat dilihat motor kesayangannya sudah terparkir di teduhan belakang rumahnya. Artinya Ando dan Felix melakukan tugasnya dengan baik mengantar motornya ke rumah.
"Udah pulang Den? Sore amat? Hari ini Bibi masak ikan kesukaannya Den Rarki loh." Seperti biasa, di jam ini satu-satunya orang di rumahnya adalah Bi Muna.
"Rarki udah makan Bi, entar aja sekalian makan malem Rarki abisin ikannya bareng Bang Rhoni."
Rhoni adalah saudara laki-laki kandung Rarki yang saat ini masih bekerja dan akan kembali ke rumah pukul 6 sore. Ayah Rarki sering sekali pergi keluar kota karena urusan pekerjaan dan pulang paling cepat seminggu sekali. Sedangkan Ibunya sudah meninggal di umurnya yang masih satu tahun. Jika tak ada foto, mungkin Dia tak akan mengetahui bagaimana rupa Sang Ibu. Jadi tak pernah Ia rasakan hangatnya tangan seorang Ibu yang menggenggam tangannya. Hanya Bi Munalah yang selama ini mempersiapkan segala kebutuhannya. Mulai dari makan, pakaian, sampai odol pun harus Bi Muna yang menyiapkannya.
"Yauda, berarti sekarang Den mau mandi dulu kan?"
"Iya Bi, tolong nyalain air panasnya ya."
***
"Ara sakit, sejak umur 3 tahun. Fisiknya lemah, tapi dia ga pernah mengeluh dan selalu ceria. Pernah waktu umur 10 tahun Ara ga sadarkan diri sampai beberapa bulan. Di situ Tante takut banget, ga hanya Tante. Papah dan Kakaknya juga. Setelah sadar, Ara seperti kehilangan penyakitnya. Dia ga pernah lagi pingsan dan mulai pergi ke sekolah, tempat yang ga pernah dia didatangi. Tapi karena kecelakaan penyakitnya kambuh lagi, di pertengahan semester kelas dua SMP."
***
Di bawah guyuran shower, Rarki menutup mata merasakan hangatnya air menjatuhi wajahnya yang mendongak. Pikirannya kembali mengingat setiap kata yang diucapkan oleh Fany empat mata bersamanya saat berada di rumah sakit. Berusaha mengerti bagaimana penderitaan gadis ceria yang baru dikenalnya dalam waktu beberapa hari itu. Hingga Sang Ibu menceritakan semuanya dengan suara bergetar.
***
"Memang Ara ga pernah ngeluh. Tapi saat menceritakan tentangmu dia menjadi jauh lebih bersemangat, Rarki. Seperti Ara yang sehat tanpa adanya penyakit."
***
Kini kepalanya tertunduk, membuka mata perlahan. Dilihatnya jari-jari kakinya sebelum menghembuskan nafas pelan. Hari ini merupakan hari yang sangat panjang baginya.
TBC