Pagi yang bisa dibilang cukup cerah di musim hujan ini, matahari pagi cukup menghangatkan orang-orang yang sedang melaksanakan aktivitas di luar rumah termasuk mereka yang berlalu lalang melewati gerbang sekolah SMA Negeri tempat Rarki bersekolah. Tapi saat ini seorang wanita bertubuh ramping menggunakan seragam yang berbeda dari orang-orang di sekitarnya sedang berdiri di dekat gerbang SMA Negeri itu. Tentu saja berbeda karena Dia adalah Shea, siswi dari seberang sekolah.
Seakan menunggu seseorang, mata dan kepalanya berputar ke sana kemari memperhatikan setiap orang yang datang dengan motor. Siapa lagi yang dicarinya kalau bukan Rarki. Diliriknya jam tangan miliknya yang menunjukkan pukul 7 pagi, masih ada sisa waktu sepuluh menit sebelum gerbang sekolahnya ditutup. Tapi orang yang dinantinya masih belum memperlihatkan batang hidungnya. Di tangannya Shea menggenggam payung navy milik Rarki yang dipinjamkan pria itu padanya.
Tak sedikit anak-anak yang berbeda seragam dengannya itu menatap aneh seakan bertanya apa yang dilakukan anak seberang sekolah di gerbang sekolahnya. Beberapa wanita membicarakannya dengan hal-hal negatif layaknya netizen. Tak sedikit pula para pria yang menggodanya. Namun seakan tak memiliki telinga, Shea tetap terjaga mencari pangeran pujaannya tanpa menghiraukan semua itu.
Senyumnya mengembang hingga deretan gigi putihnya terlihat saat melihat orang yang ditunggu muncul dengan motornya dari kejauhan. Tak sabar, Dia berjalan beberapa langkah mendekati jalanan dan langsung mengisyaratkan Rarki untuk berhenti dengan melambaikan tangannya.
"RARKI!" Teriaknya yang langsung menarik perhatian orang-orang sekitar.
Dengan rasa terpaksa akhirnya Rarki menghentikan motor tepat di depan Shea yang berusaha menghalangi jalannya. Ditatapnya wanita dengan tatapan penuh tanda tanya. Pria itu menepi ke pinggir trotoar, diikuti Shea.
"Gue mau kembaliin ini." Tangannya menyodorkan payung Rarki. Namun saat pria itu hendak mengambilnya, Shea menarik kembali benda pelindung hujan yang bisa dilipat itu.
"Biar Gue aja yang masukin ke tas Lo." Tanpa menunggu izin Rarki, Shea langsung bergerak memasukkan payungnya ke dalam tas yang menggantung di belakang punggung pria itu.
Setelah menutup tasnya, Shea kembali berdiri di samping Rarki dengan senyum lebarnya.
"Makasih loh, kemaren udah khawatirin gue."
"Kha- khawatir? Gue?" Rarki menghela nafas lalu menatap wanita di depannya datar. "Terserah Lo aja mau mikir gimana." Seperti dugaannya kemarin, Dia telah melakukan kesalahan dengan memberikan payung pada wanita itu.
"Gawat!" Shea tertegun saat melihat Satpam sekolahnya sudah bergerak akan menutup gerbang.
"Hah?"
"Liat-liat!"
"Astaga! Dia siapa sih!!
"wahh kerenn!"
"Ihhh!!"
Menghentakkan kaki kesal, menutup mulut tak percaya, baper, takjub, bingung bereaksi, kecewa, dan bahkan ada yang sedih sambil berlari memasuki gerbang. Ada apa dengan orang-orang? Kenapa mereka bereaksi seperti itu? Dan ternyata penyebabnya adalah Shea yang saat itu tiba-tiba memeluk Rarki selama beberapa detik. Tentu saja Rarki tertegun karena pelukan singkat itu.
"See you, Rarki!" Shea langsung berlari pergi menuju sekolahnya yang untung saja gerbangnya belum tertutup sepenuhnya.
Meninggalkan Rarki yang masih mengerjap sampai dirinya sadar bagaimana ekspresi orang-orang di sekitarnya. Membuatnya kembali memasang wajah cool lalu melajukan motornya, seakan tak ada yang terjadi. Walau sebenarnya Dia malu karena perlakuan terang-terangan Shea.
*********
"Baik. Sampai jumpa minggu depan. Selamat siang."
"Siang bu.." Ucap para murid serentak. Keluarnya Sang guru mengakhiri kelas bahasa sekaligus menutup pelajaran untuk hari ini, para murid pun mulai berkemas.
Ada yang masih mengobrol, membaca buku, bergosip ria, diskusi kelompok, langsung melaksanakan tugas piket, dan ada pula yang langsung berlari keluar kelas. Lalu termasuk golongan manakah Shea? Tentu Dia bergerak secepat kilat membereskan barang-barangnya dan langsung berlari keluar kelas. Sudah pasti tujuannya adalah menunggu Rarki pulang.
Sebenarnya Shea tidak memiliki teman dekat di sekolahnya, bahkan di kelasnya. Hal itu dikarenakan dirinya yang sering absen dan membuatnya menjadi kurang bergaul. Bahkan di tengah-tengah pelajaran Shea sering kali permisi pulang karena penyakitnya yang tiba-tiba kambuh. Jadi saat berada di kelas satu-satunya temannya adalah HP yang penuh dengan game. Selalu pergi ke toilet sendiri. Dan saat jam istirahat pergi ke kantin dan makan seorang diri sudah biasa Dia lakukan.
Sering kali kesendiriannya itu dijadikan kesempatan oleh kaum pria untuk mendekati dan menggoda gadis bertumbuh tinggi itu. Tapi seorang Shea tak semudah itu, Dia selalu mengabaikan mereka. Bersikap seolah dirinya adalah orang aneh yang selalu menikmati kesendirian, Dia berteriak kesal saat kalah bermain game dan juga bersorak gembira saat dirinya menang. Saat para pria mengajaknya bicara, yang dia lakukan hanyalah menjawab seadanya dan selalu fokus pada kesibukannya sendiri. Hal itu membuat para lelaki itu kesal dan akhirnya pergi dengan sendiri karena merasa tidak dipedulikan.
Tak sedikit pula para netizen berkedpk komentator yang membicarakan dirinya di belakang karena sikap anehnya. Shea sama sekali tak ingin ambil pusing dan selalu memilih diam tanpa merespon merekam.
Seperti saat ini, Dia berlari di antara gerombolan murid yang juga baru keluar dari kelasnya. Mulai dari melewati koridor kelas, menuruni tangga, melewati lapangan basket, melewati koridor lagi, sampai akhirnya Dia keluar dari gerbang sekolah. Wanita itu tersenyum puas melihat SMA seberang sekolahnya itu belum memperlihatkan tanda-tanda kalau mereka sudah pulang. Terlihat dari kesepian yang melanda di seberang sana dan bahkan tak ada seorang pun murid yang berjalan keluar gerbang.
Setelah menunggu beberapa saat, bibir Shea mengembang saat melihat satu-persatu murid dari sekolah seberang mulai keluar. Yang kemudian diikuti semakin banyak murid lainnya yang juga keluar, menandakan kalau bel pulang mereka baru saja berbunyi.
Shea langsung menyeberang jalan dan berdiri di depan gerbang sekolah Rarki. Seperti biasa Dia tak peduli tatapan dan omongan orang-orang terhadapnya. Dia terus menatap ke dalam gerbang mencari-cari siapa tahu hari ini Rarki tidak latihan basket dan memilih langsung pulang. Tapi sepertinya pemikirannya salah, Rarki pasti berlatih basket lagi karena sekolah itu semakin sepi dan pria yang ditunggunya tak kunjung memperlihatkan diri. Kali ini Shea tidak tahu berapa lama Dia harus menunggu Rarki demi bertemu dengan pria yang disukainya itu.
~
Rarki berlari sambil menggiring bola dengan tangannya di lapangan basket. Sekolah sudah sangat sepi, hanya ada beberapa orang yang masih menjalankan aktivitas ekskul masing-masing di sore yang lagi-lagi mendung. Termasuk tim basket sekolah yang sudah sejak satu setengah jam yang lalu masih menetap di sekolah untuk berlatih.
"Ki! Lo seriusan ga mau pulang?! Gue udah cape nih!" Jemmy -salah satu teman basketnya- berteriak di bangku istirahat pinggir lapangan sambil mengelap keringatnya dengan handuk. Tapi yang ditanya sama sekali tak menjawab dan masih fokus pada bola si tangannya. Berulang kali pria itu memasukkan bola ke dalam keranjang.
"Biarin aja Dia, Jem. Kalo Lo mau pulang, duluan aja. Lagian yang lain udah pada pulang juga." Ando yang ada di dekat Jemmy memberi saran.
Tak hanya mereka, Felix, Rangga, dan Fauzi juga hanya menghela nafas melihat dua orang temannya yang masih berada di lapangan basket memainkan bola bersama. Martin dan Rarki. Tak heran tentang Martin yang memang sudah kebiasaannya berlatih lebih lama dari yang lain, karena kegigihan itulah dirinya ditunjuk menjadi ketua basket oleh pelatih dan bahkan sangat disetujui oleh para anggota tim. Tapi sekarang Rarki malah ikut-ikutan berlatih lebih lama. Teman-temanya juga sudah banyak yang berpulangan satu-persatu. Karena biasanya mereka hanya berlatih satu jam setelah jam pulang sekolah, tapi entah ada apa dengan hari ini.
Dengan keringat yang terus menetes Rarki menerima passing bola dari Martin, berlari sedikit dan dengan mudah memasukkan bola ke dalam ring.
"Wahhh!! Rarki emang paling Kerenn!!!"
Sorakan dan tepuk tangan yang terdengar tiba-tiba itu membuat semua orang menatap ke sumber suara, termasuk Rarki yang mengerutkan dahi saat melihatnya. Seorang wanita berambut panjang tengah berdiri di pinggir lapangan dengan memamerkan deretan gigi putihnya.
"Hai Rarki!" Siapa lagi wanita pemberani itu kalau bukan Shea.
"Eh, eh, tuh cewek yang kemaren Do." Felix berkata pelan sambil menoyor kepala Ando.
"Biasa aja lo njir!" Tak mau kalah, Ando balas menoyor kepala temannya itu.
"Siapa? Cewek barunya ya?" Rangga pun ikutan kepo. Hingga akhirnya para Pria yang duduk di pinggir lapangan itupun bergosip ria.
Shea melangkah ke lapangan basket sambil tersenyum, mengeluarkan botol minuman dari tasnya, lalu menyodorkannya pada Rarki. Sekilas Rarki menatap botol itu kemudian kembali menatap Shea dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Ngapain Lo di sini?" Tanya Rarki sinis.
"Mau.. ketemu Lo." Tentu itu pertanyaan yang mudah bagi Shea.
"Ambil Ki! Sok cuek lo!" Mendengar teriakan Felix akhirnya membuat Rarki meraih botol itu acuh tak acuh.
"Kayaknya kalian berdua udah latian lama banget, engga istirahat dulu?" Shea menatap bergantian Rarki dan Martin.
"Gue udahan Ki." Dan seketika tatapan itu menghipnotis Martin hingga dirinya langsung meninggalkan lapangan setelah mengambil bola dan bergabung bersama yang lain.
"Yuk, Lo juga harus udahan." Shea tersenyum dan langsung menarik tangan Rarki yang berkeringat untuk membawanya ke tempat duduk bersama teman-teman yang lain.
"Diminum dong. Sini Gue bukain."
"Gue bisa sendiri." Dengan mudah Rarki membuka tutup botol dan meneguk air dingin pemberian wanita itu.
Menyadari banyak pasang mata yang melihatnya, Shea tersenyum ke arah teman-teman Rarki dan mulai menyapanya.
"Haii.. kenalin Gue Shea, calon pacar Rarki." Tapi nyatanya perkenalan itu membuat Rarki menyemburkan air yang diminumnya, untungnya kali ini tak mengenai siapapun. Dengan cepat Shea menepuk-nepuk punggung Rarki. Sedangkan yang lainnya terkekeh melihatnya.
"Kenalin Shea, gue Felix." Dengan gerakan cepat, Pria berbibir tipis itu mengulurkan tangannya sehingga keduanya berjabat tangan. Tindakan Felix membuat yang lain ikut memperkenalkan diri.
"Ohiya, Gue sering liat kalian juga. Setiap pertandingan basket. Karna satu tim sama Rarki. Kalian semuanya hebat banget waktu." Shea melanjutkan.
"Lo suka basket ya?" Tanya Jemmy.
"Ehm.. Lebih tepatnya, suka Rarki. Jadi Gue selalu nonton basket." Semua orang kaget mendengar jawaban terang-terangan Shea yang menjawab tanpa ragu, bahkan sambil menatap Rarki. Sedangkan yang ditatap hanya membuang pandangan ke arah lain.
"Eh, Ki. Keringet lo dilap ngapa, entar Shea kebauan lagi." Fauzi menyadari tubuh Rarki yang masih sangat berkeringat.
"Engga tuh, Gue suka bau keringet Rarki." Dan pernyataan Shea itu membuat Martin yang kali ini menyemburkan air dari mulutnya.
Dengan segera Rarki mengambil handuk dari tas dan langsung mengelap keringatnya. Sambil tersenyum Shea memperhatikan setiap gerakan pria itu. Baginya sangat menyenangkan bisa bersamanya seperti ini. Namun entah mengapa perlahan wajah Rarki memburam. Dia mengedipkan matanya beberapa kali tapi tetap sama, semua yang dilihatnya mulai menggelap.
"Shea, idung lo.."
Entah siapa yang mengatakannya, Shea tak tahu karena setelah mendengar itu semua menjadi gelap.
TBC