Hal yang paling ditunggu-tunggu oleh sebagian besar anak sekolah yang merasa sudah jenuh di jam-jam terkahir, bunyinya bel pulang. Termasuk Shea yang saat ini sudah mengembangkan senyumnya, mengemas semua bukunya ke dalam tas ransel, dan segera berdiri dari kursinya untuk berlari keluar kelas. Setelah kemarin dirinya dilarikan ke rumah sakit, Shea tetap bersikeras untuk datang ke sekolah walau orang tua dan Kakak tercintanya sudah membujuknya dengan alasan ada Rarki yang akan menjaganya.
"Shea!" Namun kali ini panggilan nyaring itu menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kelas. Diputar tubuh nya tepat 180°, menatap bingung wanita berkacamata yang biasa dijuluki 'Mak Lampir' oleh teman sekelasnya tengah menatap kesal ke arah Shea. Maria.
"Hari ini jadwal lo piket, lo mau pulang lagi? Udah empat kali lo ga piket, mau gue laporin ke Bu Siska?" Maria adalah wakil ketua kelas yang bertugas untuk mengkoordinir setiap siswa di kelasnya, dipilih langsung oleh Bu Siska yang merupakan wali kelas mereka. Bisa dibilang dialah tangan kanan Bu Siska melebihi Ketua kelas yang merupakan tangan kirinya, membantu pekerjaan tangan kanan.
Sekilas Shea melihat jam tangannya, menggigit bibir bawahnya, dan kembali menatap Maria dengan cengiran khasnya. "Oke, apa yang perlu gue kerjain?".
Dengan gerakan cepat Shea mulai mengerjakan tugasnya setelah mendengar perintah Maria, merapikan meja. Ia langsung berlari keluar setelah semua meja sudah tertata rapi mengikuti barisannya.
'Semoga hari ini Rarki latian basket lagi. Please, jangan pulang dulu Rarki.' Batinnya menggerutu dalam perjalanannya keluar gerbang sekolah. Sempat dirinya menghela nafas kecewa melihat SMA di seberang sana sudah mulai sepi, menandakan sudah lumayan lama sejak kepulangannya. Namun dirinya masih tetap berlari keluar gerbang, berharap pria yang dicarinya masih ada di sana.
" Shea!" Langkahnya terhenti tepat saat dirinya bersiap untuk menyeberang jalan. Kali ini suara berat yang memanggil namanya membuat Shea memutar kepalanya 90°.
Sempat tertegun, tapi akhirnya kedua sudut bibirnya mengembang dengan sempurna. Dilihatnya seorang pria menggunakan seragam yang berbeda dengannya. Rarki. Hari ini pria itu menunggu Shea keluar di pinggir jalan dengan motor kesayangannya. Langsung saja gadis itu berjalan menghampiri Rarki.
"Lo ga latian Ki?"
"Hari ini ga perlu nunggu gue. Seterusnya juga jangan pernah lagi." Shea mengerjap beberapa kali untuk berpikir apa maksud dari perkataan Rarki, tapi sekeras apapun mencoba Ia tetap tak akan mengerti.
"Kenapa?" Akhirnya Shea menyerah.
"Sini HP lo." Tanpa rasa ragu Shea memberi apa yang Rarki minta. Entah apa yang Rarki ketik di handphone nya, Ia tak tahu. Tapi tak sampai setengah menit, Rarki sudah mengembalikannya.
"WA gue, bilang kalo ada apa-apa." Shea menatap layar handphone nya yang ternyata Rarki mengetik nomornya di sana.
"Bener juga, gue ga kepikiran. Harusnya dari awal gue minta ya." Dengan senyuman Shea mengetik nama untuk menyimpan nomor Rarki, lalu menunjukkannya pada si empunya nomor. Rarki hanya bisa menghela nafas memaklumi saat Shea menyimpan kontaknya dengan nama 'Calon pacar'.
"Udah, cepat naik. Gue anter."
"Wahh.. Beneran?"
"Iya, buruan." Entah apa yang merasuki Rarki hari ini, tapi percayalah dirinya sudah memikirkan semua ini sejak kemarin.
Pada akhirnya dia melibatkan diri dengan wanita agresif yang tak bisa dihentikannya dengan kata-kata itu. Dia merasa harus bertanggung jawab melihat bagaimana kemarin wanita bermata coklat itu pingsan karena lama menunggu dirinya. Bisa saja kejadian yang lebih parah akan menimpanya dan itu akan membuat seorang Rarki merasa bersalah terutama kepada kedua orang tuanya.
Apakah semua ini hanya perasaan iba? Setelah mendengar cerita menyedihkan tentang Shea dari Ibunya? Mungkin begitu. Walau dirinya masih bingung apa yang membuat seorang Shea begitu sangat menyukai dirinya? Dan kenapa dia muncul secara tiba-tiba menyatakan perasaannya? Bagaimana dia bisa mengenalnya? Begitu banyaknya pertanyaan yang membuat Rarki penasaran, tapi dia tak ingin menanyakan tentang perasaan itu. Takut kalau-kalau wanita itu akan berpikir Rarki ingin mengetahui lebih banyak tentangnya.
"Ini artinya lo udah suka sama gue ya?" Begitu naik ke kursi belakang, Shea langsung mendekatkan mulutnya ke telinga Rarki yang belum menggunakan helm dan berbicara dengan antusias.
"Turun." Jawaban singkat, padat, jelas itu berhasil membuat Shea terkekeh.
"Becanda doang.. Berangkatt.."
Dilihatnya tangan Shea yang kini melingkar di pinggangnya erat dengan maksud berpegangan. Tanpa mengatakan apapun lagi, Rarki melajukan motornya. Walau dirinya masih bertanya-tanya apakah Ia melakukan hal benar? Bukankah perilakunya akan membuat wanita itu semakin bertambah menyukainya? Tapi dirinya hanya bermaksud memastikan wanita itu tiba di rumah dengan selamat, mengingat bagaimana khawatirnya orang tua Shea kemarin.
*********
"Siapa sih? Kayanya daritadi tuh HP getar mulu?" Di antara kebisingan TV, suara Rhoni yang duduk di samping Rarki terdengar begitu jelas di telinganya. Ya, Rhoni Kakak kandung Rarki. Malam ini mereka sedang menonton film action yang baru dibeli Rhoni. Salah satu film yang baru keluar di pasaran setelah beberapa minggu tayang di bioskop negara asing.
"Ga ada, spam doang." Dengan wajah datar Rarki menatap handphonenya yang sejak tadi terus bergetar menandakan notifikasi masuk. Notifikasi dari WA yang sekali masuk langsung bertubi-tubi, begitu banyak huruf 'p' yang dikirimkan. Bukan dari grup melainkan satu kontak bertuliskan 'Shea'.
Di awal Rarki membalas setiap pesan dari Shea, tapi lama-kelamaan Ia hanya melihat notifikasi tanpa membukanya. Rarki bukanlah tipe orang yang betah untuk saling mengirim pesan dalam waktu lama, terlebih jika harus duduk berjam-jam untuk saling membalas pesan. Dirinya lebih suka jika langsung berbicara lewat telpon dan hanya membicarakan hal seadanya, sekedar bertanya sesuatu yang penting, atau apapun itu yang pasti takkan mengobrol hingga berjam-jam. Jika ingin mengobrol panjang lebar dia lebih memilih untuk bertemu dan saling bertatap muka secara langsung.
Jadi yang bisa dilakukannya saat ini adalah mengabaikan setiap pesan dari Shea yang tentu membahas tentang hal-hal tak penting. Seperti menanyakan apa yang sedang Rarki lakukan, bersama siapa, dan pertanyaan sejenisnya. Lagipula saat ini Ia sedang menikmati film yang sudah lama dinanti-nantikan, bahkan sebelum trailernya keluar.
Sementara di sisi lain Shea yang tengah berbaring dengan posisi tengkurap di kasur kamar tidurnya masih antusias membuat jarinya menari di atas HPnya. Ia tak merasa kecewa sedikitpun walau Rarki tak membalas pesannya dan tetap tersenyum. Dirinya tahu kalau Rarki pasti merasa terganggu dengan pesannya yang sebanyak itu, tapi dirinya tetap melakukan.
-Yauda deh, selamat malam calon pacar^_^ Jangan kangen, besok kita ketemu lagi kok. Entar mimpiin aku yaa.-
Begitulah bunyi pesan terakhir yang Shea kirimkan pada Rarki. Merubah posisinya menjadi telentang, mengangkat HP tepat di atas wajahnya, dipandanginya foto profil Rarki lalu tersenyum. Cukup lama hingga Shea melempar HPnya asal di tempat tidur, matanya berputar menelusuri kamarnya yang bernuansa orange, kemudian membuang nafas lelah setelah menghirupnya dalam-dalam. Ditutup matanya dan mulai bergelayut dalam pikirannya.
'Setidaknya aku sudah melakukan yang aku mau, jadi nanti bisa pergi tanpa rasa menyesal'.
TBC