Sore ini seperti biasa Rarki menghabiskan waktu untuk basket bersama teman-teman tim basketnya. Langit yang semakin gelap membuat mereka menghentikan aktivitas latihannya dan memilih beristirahat di pinggir lapangan sambil meminum air mineral masing-masing.
"Pasti hujan lagi nih." Ucap Martin yang merupakan kapten basket SMA negeri itu.
"Yaiyalah, emangnya ga liat tuh langit udah mendung banget?!" Jawab Ando yang kemudian meneguk habis air mineralnya.
"Eh, gue balik duluan ya! Mau jemput cewe gua."
"Gua juga, nyokap daritadi nelpon mulu. Ayo, Ceng!"
Lima orang dari tim sudah pergi, menyisakan empat orang lainnya yang masih nangkreng di sana. Mereka adalah Rarki, Ando, Felix, dan Martin.
"Lo pada gak balik? Entar keujanan!"
"Bentaran lagi, mau ngeringin badan. Gerah."
"Eh, Ki. Gimana hubungan lo sama cewe sekolah sebelah yang kasih mmuach ke Lo kemaren?" Ando memajukan mulutnya dengan seksi. Namun karena pertanyaan itu, spontan Rarki menyemburkan air yang baru diteguknya tepat ke wajah Felix yang duduk di depannya.
"Anjir! Jorok Lu sumpah!" Langsung saja Felix memukul Rarki dengan handuknya sebelum membersihkan wajahnya dengan handuk itu.
"Eh Do, lo tau dari mana?" Bukannya menggubris Felix, Rarki malah fokus menunggu jawaban Ando.
"Yaelah, udah nyebar kali beritanya! Cewe cewe di kelas gue pada ngomongin Elu." Jawab Ando yang memang selalu tau lebih dulu tentang gosip yang lagi trending di sekolah karena sudah menjadi kebiasaannya ikut bergosip ria dengan teman-teman wanita di kelasnya.
"Wahh serius lo si Rarki di mmuach? Cantik kagak Ki cewenya?" Tanya Felix yang baru selesai membersihkan wajahnya. Rarki mencoba mengingat wajah wanita yang menciumnya kemarin.
"Cantik sih.." Tangan panjang pria itu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Body nya gimana? Bagus?" Kali ini Rarki mendelikkan bahu, mengingat tidak mungkin Dia memperhatikan tubuh wanita itu di pertemuan singkat mereka.
"Itunya besar gak?"
"Itunya apa?"
"Ini." Felix membulatkan kedua tangannya di depan d**a.
"m***m lo b*****t!" Kali ini belum sempat Rarki menjawab, Martin yang baru selesai melakukan peregangan akhirnya bersuara sembari memukul kepala Felix, seakan mewakilkan yang ingin Rarki lakukan.
"Nanya doang, elah."
"Uda ah, Gue mau cabut." Rarki berdiri dari duduknya, meraih tas ranselnya, kemudian memasukkan handuk kecil yang bertengger di lehernya ke dalam tas.
"Cepat banget motor Lu udah bener aja?" Martin masih mengelap keringatnya dengan handuk.
"Jelas lah! Ga tahan Dia jauh-jauh dari Gue."
"Lu kata orang?" sarkas Ando yang membuat Rarki berdecih.
"Gue balik ya!"
Sembari menggendong tasnya di bahu kanan, Rarki berjalan pergi meninggalkan teman-temannya menuju tempat parkir sekolah dimana motor kesayangannya diparkir di sana. Dari kejauhan Dia melihat seorang wanita yang tampak tidak asing mengenakan seragam SMA swasta seberang sekolahnya sedang berdiri bersender di dinding depan tempat parkir sambil memainkan tumitnya. Rarki berjalan semakin dekat dan pantas saja wanita itu terasa tidak asing, ternyata Dia adalah wanita yang sama dengan yang menciumnya kemarin.
"Lo? Ngapain di sini?"
"Rarki! Hai.." Menyadari kedatangan Rarki, wanita itu tersenyum sumringah. "Gue nunggu Lo." Lanjutnya lagi.
"Nunggu gue? Ke..napa?" Mengingat kejadian kemarin, Pria itu berjalan mundur dua langkah. Melihat hal itu membuat Shea terkekeh geli.
"Tenang.. Buat hari ini gue ga bakal cium elo kok."
'Buat hari ini? Apa maksudnya?' Rarki membatin heran, matanya melirik ke arah papan nama di baju wanita itu dan tertulis Sheana M. Qihara.
'Jadi itu benar-benar namanya' Batinnya lagi.
"Kan kemaren gue bilang see you, berarti kita bakal ketemu lagi. Dan sekarang gue di sini, buat ketemu Elo." Lanjut Shea dengan senyum sumringahnya.
"Oke, terserah." Setelah menghela nafas berat, Pria itu kembali berjalan ke arah motornya karena malas menanggapi wanita itu. Tapi wanita bernama Shea itu malah mengikutinya.
"Rarki, lo mau kemana? Pulang ya? Yauda deh, kalo gitu kita ketemu lagi besok." Lagi-lagi Rarki menghela nafas, kemudian berbalik menghadapnya.
"Denger ya, Gue ga kenal Lo. Jadi jangan sok kenal. Aneh."
"Nama Gue Shea. Lo lupa ya kemaren udah Gue kasih tau?" Kalimat Rarki sama sekali tidak berpengaruh bagi wanita bernama Shea itu yang masih mempertahankan senyumnya.
"Gue ga punya waktu buat ngeladenin Cewek kaya Elo. Mending sekarang Lo balik dan jangan pernah temuin Gue lagi."
"Kalo emang sekarang Lo ga punya waktu, Kita masih bisa ketemu besok, lusa, besoknya, atau besok-besoknya. Gue selalu punya banyak waktu buat Elo kok." Kedua sudut bibir Shea kembali mengembang.
Tanpa menanggapi wanita berambut gelombang itu, Rarki melanjutkan langkah ke arah motornya dan langsung menjalankannya pergi.
"Hati-hati, Rarki!" Walau samar, Rarki bisa mendengar teriakan Shea.
Dia tetap melaju dengan motornya keluar gerbang tentu untuk menuju ke rumahnya yang tidak terlalu jauh dari sekolah jika ditempuh dengan motor. Hingga setetes air hujan membasahi hidungnya yang tak tertutupi helm karena ia memang tak memakainya. Tetes demi tetes hujan mulai jatuh mengenai tubuhnya yang lain, dan semakin banyak. Tiba-tiba di pikirannya terlintas tentang gadis yang kemarin hujan-hujanan demi mengungkapkan perasaan padanya.
'Tuh orang bakal hujan-hujanan lagi ga ya? Bodo amat lah!" Dia bergumam sendiri lalu menggelengkan kepalanya bermaksud mengusir pikiran tentang Shea.
Tapi tiba-tiba Ia teringat pada teman-temannya yang belum pulang terutama pada si m***m Felix. Mungkin saja wanita itu akan hujan-hujanan lagi. Setelah berdecak kesal, tangannya langsung bergerak untuk memutar balik motornya.
Tak membutuhkan waktu lama, ia memelankan kecepatan motornya karena sudah tiba di wilayah sekolah untuk mencari Shea walaupun kini hujan sudah semakin membasahi tubuhnya. Ia tak menemukannya di halte, trotoar, dan akhirnya ia kembali memasuki gerbang sekolahnya. Benar saja, matanya langsung menangkap sosok wanita yang sedang dicarinya. Dia duduk di bangku tempat parkiran menikmati hujan yang membasahinya. Menyadari kedatangan Rarki, membuatnya berdiri.
"Rarki? Kenapa lo balik lagi? Ujan-ujanan gini?"
"Lo sendiri?" Rarki melemparkan payung lipat navy miliknya pada Shea, dengan refleks wanita itu menangkapnya.
"Kenapa payungnya dikasih ke gue? Harusnya elo yang pake!" Rarki langsung memutar balik motornya.
"Pulang sana!" Dan setelah mengatakan hal itu, Rarki melajukan motornya meninggalkan Shea.
Di perjalanan pulang Dia merutuki dirinya sendiri karena mengkhawatirkan dan malah memberikan payung padanya. Pasti wanita itu akan semakin sering mengganggu Rarki jika begini caranya.
Sedangkan Shea masih di tempat yang sama saat Rarki meninggalkannya, Dia tersenyum lembut melihat payung navy milik Rarki ada di tangannya. Dibukanya payung itu untuk melindungi tubuhnya dari hujan yang belum terlalu deras. Dengan senyuman sumringah ia berjalan keluar dari gerbang SMA Negeri itu. Tanpa disadari ada tiga pasang mata yang memperhatikan kedua insan berbeda gender itu, tak lain mereka adalah Ando, Felix, dan Martin.
"Jadi itu ceweknya.. Lumayan cantik, tapi body bagus oy." Felix mengangkat salah satu alisnya dan tersenyum miring ke arah Ando yang juga menanggapinya dengan ekspresi sama sambil menganggukan kepala setuju. Sedangkan Martin hanya memutar mata bosan melihat tingkah dua temannya yang kepo itu dan berpikir kenapa dia juga harus ikut-ikutan sembunyi begini.
*********
Di sore yang sama rintik hujan masih turun membasahi payung berwarna Navy milik Rarki yang saat ini digunakan Shea untuk melindungi dirinya dari hujan. Ia berjalan seorang diri di pinggir komplek sambil bersenandung menyanyikan lagu kesukaannya tentu menuju ke arah rumahnya. Baru saja Ia turun dari bus di halte terdekat komplek rumahnya. Namun tak membutuhkan waktu lama ia sudah tiba di gerbang rumahnya dan langsung menuju pintu belakang. Masih sambil bersenandung Shea meletakkan payung milik Rarki di depan pintu dengan maksud mengeringkannya di sana. Bibirnya sempat mengembang melihat payung milik pria yang disukainya sebelum masuk ke dalam rumah.
"Ara pulang.." Salam Shea sembari melepaskan sepatunya lalu diletakkan di rak sepatu untuk bergabung bersama sepatu lainnya. Lalu siapa Ara? Tentu saja itu adalah nama panggilannya saat berada di rumah yang berasal dari namanya sendiri, Qihara.
"Eh non Ara udah pulang." Orang pertama yang dilihatnya adalah Bi Inna yang saat ini sedang mencuci piring di dapur karena jika masuk lewat pintu belakang, ruangan yang lebih dulu dilewatinya adalah dapur.
"Iya nih. Bi, kalo boleh itu payung yang di luar tolong sambil diliatin ya. Kalau entar udah kering bilang ke Ara."
"Iya beres non. Hayo.. itu Payung dari siapa hayoo.. Dari pacar non yaa.." Yah begitulah Bi Inna, pekerja rumah tangga yang sudah sangat lama bekerja bersama keluarga Shea sehingga Shea sendiri sering menganggapnya sebagai teman.
"Bi Inna tau aja deh.. Ohiya, Mama ma-"
"Araaaa..." Belum sempat Shea menyelesaikan pertanyaannya orang yang Ia cari langsung datang ke arahnya, Mama Shea--Fany.
"Tuh, Non Ara kaya ga tau aja.." Ujar Bi Inna yang sedikit terkekeh, diikuti diriku.
"Kamu udah pulang Sayang.. Ya ampun Kok basah gini? Kamu ujan-ujanan lagi ya? Kan Udah Mama bilang kamu itu ga boleh ujan-ujanan, entar bisa sakit. Udah mending sekarang kamu mandi bilas badan Pakai air anget ya terus entar rambutnya langsung di keringin biar engga masuk angin." Langsung saja orang yang disebut Shea 'Mama' itu memberinya nasehat bertubi-tubi, padahal berkat payung Rarki hari ini dirinya tak terlalu basah, tapi Mamanya itu memang selalu berlebihan.
"Iyaa Mama sayang.. Kak Irvan di kamarnya kan Ma?"
"Irvan belum pulang, Katanya hari ini dia replace kuliah. Udah sekarang Buruan kamu mandi entar keburu masuk angin, biar mama bikinin s**u hangat buat kamu." Mengenai Irvan? Dia adalah Kakak laki-laki Shea. Sedangkan mengenai Papa Shea tentu masih bekerja di kantor saat ini.
Seperti yang Fany perintahkan, dirinya langsung melangkah ke kamarnya untuk menyiapkan baju dan meraih handuk miliknya sebelum menuju ke kamar mandi. Ia sempat berhenti di cermin kamarnya, melihat pantulan dirinya di cermin. Tangannya merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Tapi kemungkinan besar hidupnya tidak akan lama lagi."
Tiba-tiba saja kata-kata itu terngiang di kepala Shea.
TBC