Beberapa minggu kemudian, Nadia mendapat tawaran beasiswa seni ke Perancis selama satu tahun. Itu bukan sekadar impian lama—itu cita-cita masa kecilnya. Namun, dalam kebahagiaannya, ada kecemasan.
Ia membicarakan itu dengan Raka di sebuah warung kopi kecil langganan mereka.
“Kalau aku berangkat, kita bakal LDR. Setahun.”
Raka menatap meja. “Aku pengen bilang ‘pergi aja, aku dukung’, tapi… aku juga takut kehilangan kamu.”
Nadia menggenggam tangannya. “Aku gak mau pergi ninggalin kamu. Tapi aku juga gak mau nyesel karena nolak mimpi.”
Raka menarik napas dalam. “Kita bisa bikin janji. Untuk saling percaya. Dan saling tunggu.”
Nadia menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Kamu yakin bisa?”
Raka tersenyum. “Gak ada yang pasti. Tapi cinta harus berani ambil risiko, kan?”
---
Bab : Kepergian
Hari keberangkatan tiba. Di bandara, Raka mengantar Nadia sampai ruang tunggu. Mereka berdiri berhadapan dalam keheningan yang berat tapi manis.
“Aku akan tulis surat buat kamu tiap minggu,” kata Raka.
“Dan aku akan kirim foto semua tempat yang aku kunjungi. Mungkin sambil cerita soal orang-orang aneh yang kutemui,” jawab Nadia, tersenyum.
Raka memeluknya lama. “Jangan jatuh cinta sama orang Prancis, ya.”
“Kalau dia nggak bisa main gitar dan bikin lagu cinta absurd, aku gak tertarik.”
Mereka tertawa kecil. Lalu saling berpandangan—lama. Sampai suara pengumuman memanggil Nadia naik ke pesawat.
Dengan berat hati, mereka melepaskan tangan satu sama lain.
---
Bab : Satu Tahun Kemudian
Setahun berlalu. Dunia berubah. Vino kini menikah dengan Mira, dan puisi-puisinya mulai berbicara tentang kedamaian. Raka merilis album perdana, dan salah satu lagunya berjudul “Tunggu”.
Nadia menggelar pameran tunggal di Lyon. Ia menyebutnya: “Je T’attendrai”, yang artinya Aku Akan Menunggu.
Di akhir pameran, ia membuka live video call dengan Raka. Tersambung. Wajah Raka muncul di layar, tersenyum lebar.
“Aku beli tiket besok. Aku mau datang langsung buat pameran kamu yang kedua.”
Nadia tertawa sambil menahan air mata. “Aku tunggu.”
---
Bab : Cinta yang Tumbuh Bersama
Tiga bulan kemudian, mereka bertemu lagi di bandara. Kali ini bukan perpisahan. Tapi pertemuan dua hati yang bertahan melalui jarak, ragu, dan waktu.
Mereka tak banyak bicara, hanya saling menatap dan saling memeluk.
“Aku nggak janji semuanya bakal lancar,” ucap Raka.
“Tapi kita janji buat tumbuh bersama,” sahut Nadia.
Mereka berjalan keluar bandara, beriringan. Dunia masih penuh ketidakpastian, tapi mereka tahu: cinta sejati bukan soal siapa yang hadir paling awal, atau paling lama. Tapi siapa yang bertahan saat segalanya diuji.