Setelah acara di Jakarta usai, Nadia memutuskan untuk pulang ke Bandung lebih cepat. Namun saat hendak memesan tiket kereta, ponselnya berdering. Nama di layar: Vino.
Ia ragu, tapi akhirnya menjawab.
“Halo?”
“Boleh kita ngobrol sebentar? Bukan untuk mengungkit masa lalu… cuma ingin menutupnya dengan benar.”
Nadia diam sejenak. “Di mana?”
---
Bab : Percakapan Terakhir
Mereka bertemu di sebuah taman kecil, tidak jauh dari stasiun. Duduk berseberangan di bangku kayu yang dingin karena hujan baru saja reda.
“Aku sudah lama ingin bilang sesuatu,” ujar Vino. “Tentang malam itu. Tentang perasaan yang belum sempat kubungkus rapi waktu kamu pergi.”
Nadia menunduk, tangannya menggenggam tali tas erat-erat.
“Aku mencintaimu,” lanjut Vino. “Tapi aku juga tahu, cinta nggak harus memiliki. Setelah semua ini… aku akhirnya bisa benar-benar melepaskan.”
Nadia menatap matanya, dan untuk pertama kalinya, ia melihat ketenangan.
“Terima kasih, Vino. Karena pernah membuatku merasa dicintai. Dan karena berani menyudahi, tanpa menyalahkan siapa pun.”
Mereka berpelukan singkat. Hangat tapi ringan. Tak ada sisa beban.
Ketika Nadia naik kereta, ia merasa dadanya lebih lega. Ia tahu, kini hatinya hanya berpulang pada satu nama.
---
Bab : Raka yang Lelah
Raka sedang berada di studio musik saat Nadia kembali ke Bandung. Ia tampak murung, kurang tidur, dan suaranya serak saat menyanyi. Saat Nadia menemuinya, ia bahkan nyaris tidak tersenyum.
“Maaf aku telat pulang,” ucap Nadia hati-hati.
Raka mengangguk. “Gak apa-apa.”
“Tapi kayaknya… kamu marah.”
“Aku gak marah,” jawab Raka cepat. “Aku cuma… capek. Aku mikir, kita ini pasangan atau sekadar teman yang saling ngabarin?”
Perkataan itu menghantam Nadia seperti petir. Tapi ia menahan air mata.
“Kamu tahu aku sayang kamu. Tapi aku juga perempuan yang punya mimpi.”
“Aku tahu. Tapi kadang, aku takut. Kita terlalu sibuk ngejar mimpi masing-masing sampai lupa kita dulu saling punya.”
---
Bab : Menemukan Keseimbangan
Beberapa hari setelah percakapan itu, Nadia menulis surat untuk Raka—bukan karena ingin menjauh, tapi karena ia takut bicara langsung hanya akan membuat mereka saling menyakiti.
> “Raka,
Kita sama-sama belajar mencintai dalam riuh dunia yang sibuk.
Kita sama-sama takut kehilangan satu sama lain.
Tapi aku percaya, cinta yang dewasa bukan yang selalu ada…
Tapi yang bisa saling menunggu, dan saling memahami.”
Surat itu ia selipkan di buku sketsa Raka. Dan saat Raka membacanya, untuk pertama kalinya setelah lama, ia menangis. Bukan karena kehilangan, tapi karena merasa dicintai tanpa syarat.