Nadia dan Raka kini tinggal bersama di sebuah rumah kecil di pinggiran kota. Bukan rumah mewah, tapi cukup untuk menampung cinta dan mimpi mereka.
Nadia membuka studio seni di belakang rumah. Sementara Raka mengubah ruang tamu menjadi mini studio rekaman.
Mereka sibuk, tapi kali ini sibuk bersama.
Sore hari, mereka sering duduk di teras, menyeruput teh hangat, dan mendengarkan musik.
“Kadang aku takut,” kata Nadia pelan.
Raka menoleh. “Takut apa?”
“Kalau semua ini terlalu indah… dan akan cepat hilang.”
Raka mengelus rambutnya. “Kalau memang hilang, kita bikin lagi dari awal. Bareng.”
---
Bab : Ujian Baru
Namun hidup tak selalu lunak. Suatu hari, Nadia kehilangan kontrak galeri besar karena pemiliknya ingin mengganti konsep dengan gaya lebih “komersial”.
Sementara Raka ditipu oleh manajer musik yang membawa kabur uang royalti lagu-lagunya.
Mereka kembali ke titik nol. Tekanan mulai terasa.
Malam itu, mereka bertengkar untuk pertama kalinya sejak tinggal bersama.
“Kenapa kamu selalu menahan semuanya sendiri?!” seru Nadia.
“Karena aku gak mau kamu makin terbebani!” balas Raka.
Mereka terdiam. Lalu Nadia berkata pelan, “Aku nggak butuh kamu kuat setiap saat, Ka. Aku cuma butuh kamu jujur.”
---
Bab : Bersama Lagi
Keesokan harinya, Raka menulis lagu. Ia menuliskannya bukan untuk dirilis, tapi untuk Nadia.
Judulnya: “Rumah dalam Hatimu”.
Ia memainkannya malam itu di ruang tamu, sementara Nadia duduk bersandar di kusen jendela.
> Kita bukan kisah sempurna
Tapi kita rumah satu sama lain
Aku jatuh dan bangkit,
Di pelukan yang nggak pernah menolak pulang.
Nadia menangis. Ia berjalan mendekat dan memeluk Raka.
“Kita bisa lewati ini semua,” ucapnya.
Raka mengangguk. “Selama kita masih saling genggam.”
---
Bab : Surat untuk Masa Depan
Beberapa bulan kemudian, saat studio mereka mulai stabil lagi, Nadia punya ide.
“Aku pengen kita nulis surat untuk diri kita sendiri di masa depan. Kita buka lima tahun lagi.”
Mereka menulis masing-masing satu surat. Lalu menyimpannya di dalam kotak kayu kecil, yang dikunci dan dikubur di bawah pohon kenari di halaman belakang.
Isi surat itu tak pernah mereka bocorkan satu sama lain. Tapi saat menguburnya, mereka saling berjanji:
“Kalau satu dari kita lupa,” kata Nadia,
“Yang lain harus ingetin,” sambung Raka.
Dan mereka tertawa. Dalam tawa itu, ada cinta yang terus tumbuh. Tanpa drama. Tanpa keraguan.