Seiring berjalannya waktu, kesibukan mulai menggerogoti hubungan Nadia dan Raka. Mereka masih saling mencinta, tapi mulai kesulitan menyisihkan waktu untuk berbicara dari hati ke hati.
Suatu malam, Nadia pulang larut setelah diskusi dengan kurator galeri seni di Bandung. Ia membuka ponsel, melihat pesan dari Raka.
> “Kamu di mana? Udah malam.”
> “Baru selesai. Maaf, aku lupa kabarin.”
Raka tak membalas. Ia sibuk mengedit video klip barunya. Namun, di sudut hatinya, ia merasa kehilangan.
Sementara itu, Vino di Jakarta mulai dekat dengan Mira. Mereka sering berdiskusi, menulis puisi bersama, dan terlibat dalam komunitas sastra. Tapi tak satu pun puisi Vino yang membicarakan Mira. Semuanya masih tentang Nadia—secara samar, tapi nyata.
---
Bab : Pertemuan Tak Disengaja
Hari itu, Nadia diundang menjadi pembicara di pameran seni nasional di Jakarta. Tak disangka, acara itu juga menampilkan sesi puisi dari Vino dan Mira.
Saat Nadia tiba di venue, matanya langsung bertemu tatapan Vino. Waktu seolah membeku sesaat. Mereka berdiri saling mematung, lalu Vino tersenyum kecil.
“Hai,” sapanya.
Nadia mengangguk. “Lama nggak ketemu.”
Mira yang berdiri di samping Vino merasakan kejanggalan. Tapi ia tetap sopan, menyodorkan tangan.
“Saya Mira. Teman sekaligus partner Vino di komunitas.”
“Nadia,” jawabnya singkat, lalu segera pergi menuju ruang pembicara.
Vino memperhatikan langkahnya. Ada perasaan yang belum benar-benar selesai.
---
Bab : Konfrontasi Diri
Malam itu, Nadia menatap dirinya sendiri di cermin hotel. Ia merasa gundah. Pertemuan dengan Vino mengguncang stabilitas hatinya. Bukan karena ia masih mencintainya, tapi karena ia sadar: ia belum selesai sepenuhnya berdamai.
Sementara di Bandung, Raka merasa semakin jauh. Ia menelepon Nadia, tapi hanya masuk ke voicemail.
Ia membuka galeri ponselnya, melihat foto-foto lama mereka berdua. Lalu mengirim pesan:
> “Kamu baik-baik aja, kan? Aku kangen.”
Nadia membaca pesan itu tengah malam, dan hanya bisa menangis dalam diam.
---