Hari itu, Nadia kembali ke ruang seni. Ia berdiri di depan rak lukisan, lalu membuka sketchbook lamanya. Di halaman terakhir, ada gambar dua orang duduk di bawah pohon. Tapi kini, ada tambahan: tangan mereka saling menggenggam.
Pintu terbuka. Raka masuk, membawa dua gelas cokelat panas.
“Kamu balik,” katanya.
Nadia mengangguk. “Aku udah pulang.”
Raka menyerahkan salah satu gelas. “Dan… kamu milih siapa?”
Nadia tersenyum, lalu menatap matanya dalam-dalam.
Sudah enam bulan sejak Nadia dan Raka menyatakan cinta mereka. Hubungan mereka berjalan manis, tenang, seperti musim semi yang lembut dan menenangkan. Tapi seperti hidup pada umumnya, bahagia saja tidak cukup untuk menghadapi kenyataan.
Nadia mulai sibuk dengan galeri seninya yang semakin ramai. Ia mendapat tawaran pameran di luar kota. Raka pun makin fokus dengan musik. Lagunya viral di media sosial setelah diunggah oleh salah satu influencer, dan kini ia kebanjiran undangan manggung kecil.
Mereka saling mendukung, saling menguatkan, namun waktu yang mereka miliki bersama semakin sempit.
Suatu malam, Nadia mengirim pesan.
> “Kamu masih bangun?”
> “Iya, baru selesai mixing lagu. Kamu kenapa?”
> “Kangen. Besok kita ketemu sebentar ya? Di taman biasa.”
“Yang nggak pernah ninggalin aku, bahkan saat aku nggak tahu arah.”
Raka terdiam. Lalu pelan-pelan, senyum merekah di wajahnya. Ia menggenggam tangan Nadia—kali ini tanpa ragu.
Dan cinta itu, akhirnya menemukan rumahnya.
Pagi itu, taman kampus sepi. Daun-daun mulai menguning, pertanda musim berganti. Raka sudah duduk di bangku kayu di bawah pohon kenari, menunggu Nadia.
Ia tersenyum saat gadis itu datang, dengan rambut diikat rapi dan membawa dua gelas kopi dari kafe langganan mereka.
“Aku cuma punya waktu sejam,” ucap Nadia sambil duduk.
Raka mengangguk. “Cukup, asal bisa lihat kamu.”
Mereka diam sejenak. Tak ada percakapan rumit. Hanya dua hati yang saling mengisi waktu yang terbatas.
“Kamu takut nggak sih,” tanya Nadia pelan, “kalau kita berubah?”
Raka menatap matanya. “Yang aku takutin itu bukan perubahan. Tapi kalau kamu berhenti cerita ke aku soal perubahan itu.”
Nadia terdiam. Ia menggenggam tangan Raka erat-erat.
“Aku janji nggak akan berhenti cerita.”
---
Sementara itu, di Jakarta, Vino berdiri di depan panggung kecil di sebuah acara sastra. Ia membacakan puisi karyanya sendiri—puisi yang ia tulis setelah kepergian Nadia dari hidupnya.
> “Aku mencintainya dalam diam, lalu mencoba lupa dalam keramaian.
Tapi bayangannya selalu pulang. Bahkan saat aku sudah tak ingin menunggu.”
Tepuk tangan mengisi ruangan. Tapi hati Vino tetap hening. Meski ia kini dikenal sebagai penyair muda berbakat, kekosongan itu tetap tinggal.
Setelah acara, seorang wanita muda menghampirinya.
“Kamu Vino, kan? Puisimu bagus. Aku Mira.”
Vino tersenyum tipis. “Terima kasih. Senang kenal kamu, Mira.”
Mira menatap Vino dalam. Di matanya, ia melihat sosok yang belum selesai dengan masa lalunya.
Dan mungkin, ia ingin jadi masa depannya.
---