Nadia berada di tengah. Ia tidak ingin menyakiti siapa pun. Tapi ia sadar, dua hati kini menunggu keputusannya. Raka dengan cintanya yang tenang, dan Vino dengan perasaannya yang dalam namun rapuh.
Di sebuah pertemuan seni, Nadia tampil membacakan puisi karyanya sendiri. Semua yang hadir terpukau. Termasuk Raka dan Vino, yang duduk di dua sisi ruangan.
Puisi itu berjudul: “Di Antara Dua Cinta.”
> Aku berdiri di ujung jalan bercabang
Satu penuh kenangan, satu penuh harapan
Keduanya indah
Keduanya tulus
Tapi hatiku… hanya bisa memilih satu
Setelah penampilan itu, suasana hening. Raka menunduk. Vino menghela napas panjang. Dan Nadia? Ia meninggalkan panggung dengan hati yang semakin berat.
Beberapa minggu berlalu. Raka memilih untuk menjaga jarak. Ia tidak pernah benar-benar menghilang, tapi kini lebih sering menghindar. Ia tidak lagi menunggu Nadia di ruang seni, tidak lagi mengirim lagu-lagu kecilnya, dan tidak lagi mengingatkan untuk makan siang bersama.
Nadia merasakannya. Hatinya berat, namun ia tidak bisa menyalahkan Raka. Ia tahu, dalam diamnya, Raka sedang menyembuhkan diri.
Sementara Vino semakin terbuka. Ia mulai menulis lagi, bahkan membuat proyek kolaborasi seni dengan Nadia. Mereka sering terlihat bersama—berjalan di taman kampus, berdiskusi hingga larut malam, tertawa di tengah hujan kecil.
Namun, setiap kali Nadia merasa bahagia, ada bayangan Raka yang muncul dalam pikirannya.
“Kenapa kamu sering melamun?” tanya Vino suatu sore saat mereka duduk di kafe.
Nadia tersenyum samar. “Aku cuma… rindu seseorang.”
Vino menatapnya dalam, namun tidak berkata apa-apa. Ia tahu. Dan itu menyakitkan.
---
Bagian 8: Keputusan
Suatu malam, Nadia duduk sendiri di ruang seni. Ia menatap dua lukisan yang berdiri berdampingan. Yang satu lukisan pohon besar dengan dua orang duduk di bawahnya—karya lama yang terinspirasi dari Raka. Yang satu lagi lukisan langit malam dengan bintang jatuh, simbol dari Vino.
Ia menulis surat. Dua surat, sebenarnya.
Satu ditujukan untuk Raka.
> “Raka,
Terima kasih untuk segala cinta yang kau beri diam-diam.
Kau selalu ada, bahkan saat aku tidak meminta.
Tapi aku juga tahu, diam tak selalu cukup.
Maaf jika aku pernah membuatmu menunggu dalam sepi.”
Dan satu lagi untuk Vino.
> “Vino,
Kau datang bagai hujan setelah kemarau panjang.
Kau ajarkan aku tentang keberanian untuk merasa.
Tapi aku juga belajar, cinta tak bisa hanya dipilih karena baru.
Harus ada ruang untuk sembuh sepenuhnya.”
Besoknya, ia memberikan surat itu kepada mereka berdua. Di tempat yang berbeda. Dengan waktu yang berbeda. Lalu ia pergi sejenak ke luar kota, menenangkan diri.
---
Bagian 9: Hati yang Kembali
Dua minggu berlalu. Raka duduk di studio musik, memainkan gitar dengan perasaan campur aduk. Surat dari Nadia masih ia simpan di dompet. Ia membacanya berulang kali. Dan setiap kali membaca, ia merasa lebih mengerti.
Vino, di sisi lain, memilih pergi dari kota. Ia menerima tawaran magang di Jakarta. Dalam pesan singkatnya kepada Nadia, ia menulis:
> “Aku tidak menyesal pernah mencintaimu. Tapi aku sadar, hatiku masih belum pulih. Aku harus sembuh dulu sebelum bisa mencintai lagi dengan utuh.”
Nadia tersenyum membaca pesan itu. Ia tahu, Vino adalah pelajaran yang indah. Tapi bukan tujuan akhirnya.