Ia menyimpan rekaman itu dan mengirimkannya ke Nadia tanpa teks apa-apa. Hanya suara dan hati.
Nadia mendengarnya saat hujan turun di sore hari. Ia memejamkan mata, meresapi setiap bait. Air matanya menetes. Ia tahu itu suara Raka, dan ia tahu isi hatinya. Tapi… hatinya kini juga mengenal nama lain: Vino.
Vino bukan tanpa rahasia. Di balik senyum dan ketenangannya, ia menyimpan luka dalam. Cintanya yang lalu—Lintang—pernah mengajarinya arti mencinta sepenuh hati dan kehilangan dalam sekejap.
Suatu malam, Nadia dan Vino duduk di rooftop gedung tua kampus, memandangi bintang-bintang.
“Aku pernah mencintai seseorang,” ujar Vino lirih. “Namanya Lintang. Kami rencanakan segalanya. Tapi dia pergi. Bukan karena mati… tapi karena dia memilih orang lain. Tanpa pamit.”
Nadia terdiam. “Aku… aku nggak tahu harus bilang apa.”
“Kamu nggak perlu bilang apa-apa. Aku cuma ingin kamu tahu. Jadi kalau suatu hari aku terlihat menjauh… itu bukan karena kamu. Tapi karena aku belum sepenuhnya sembuh.”
Nadia menggenggam tangan Vino. “Kita semua punya masa lalu. Yang penting kita nggak lari dari masa depan.”
Sejak malam itu, hubungan mereka semakin dalam. Raka pun perlahan menjauh, memilih diam dan memberi ruang. Ia tahu ia mencintai Nadia. Tapi ia juga tahu, cinta tak bisa dipaksakan.