Raka menyimpan rasa itu terlalu lama. Sudah bertahun-tahun ia hanya menjadi “sahabat”. Ia tahu kapan Nadia ulang tahun, makanan kesukaannya, bahkan mimpi-mimpi kecil yang belum pernah dia ungkap ke siapa pun. Tapi ia juga tahu satu hal: Nadia tidak pernah melihatnya sebagai seseorang yang bisa dicintai.
Malam itu, Raka berdiri di depan cermin kamarnya. Ia menatap dirinya sendiri, mencoba berbicara.
“Nadia, aku suka kamu…” gumamnya pelan. Lalu ia tertawa pahit. “Ah, nggak mungkin…”
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Nadia masuk.
> “Kak Dika, besok ikut ke pameran seni ya. Aku mau tunjukin sesuatu.”
Hatinya berdebar. “Tentu,” jawabnya cepat.
Keesokan harinya, Raka mendampingi Nadia ke galeri kecil di pinggir kota. Di sana, terpampang sebuah lukisan besar—lukisan abstrak dengan perpaduan warna biru dan merah. Di sudutnya tertulis kecil: Untuk dua hati yang ragu.
Raka menatap Nadia. “Ini maksudnya?”
Nadia tersenyum lembut. “Kadang cinta itu ada, tapi dua-duanya nggak berani ngomong.”
Raka ingin berkata sesuatu. Tapi saat itu juga, Vino datang dengan segelas kopi di tangan.
“Nadia, ini buat kamu.”
Dan momen itu hilang.
Hari-hari berlalu dan segalanya berubah perlahan namun pasti. Kampus kini menjadi medan rasa yang tak terucap. Nadia merasa hidupnya penuh warna. Ada Raka yang selalu mengerti, dan ada Vino yang membawa kejutan. Seperti berjalan di dua jalan berbeda, tapi keduanya sama-sama membuatnya nyaman.
Sementara itu, Raka mulai menghabiskan lebih banyak waktu di studio musik kampus. Ia kembali menulis lagu—hal yang dulu ia tinggalkan. Suatu malam, ia duduk sendiri, memetik gitar sambil menyanyikan lirik yang baru ia tulis:
> “Kita di tempat yang sama, tapi tak saling tatap
Hatiku ingin bicara, tapi selalu terlambat
Bila kau tahu, mungkin aku tak perlu menunggu
Tapi diamku… adalah bentuk cinta yang paling kaku.”