Hidup Nadia selalu tenang. Ia bukan tipe yang menyukai keramaian atau sorotan. Di kampus, ia dikenal sebagai gadis yang kalem, cerdas, dan menyukai seni. Setiap hari, Nadia menghabiskan waktunya di ruang seni Universitas Taruna Mulya, menggambar, mendesain, atau sekadar menikmati musik dari ponselnya.
Raka, sahabatnya sejak kecil, adalah bagian dari kesehariannya. Mereka tumbuh di lingkungan yang sama, bersekolah di tempat yang sama, dan akhirnya masuk universitas yang sama pula. Orang-orang sering mengira mereka berpacaran, tapi mereka hanya tersenyum dan tidak pernah memberi klarifikasi. Yang tahu kebenarannya hanya mereka berdua—dan mungkin juga hati Raka.
“Aku suka sketsamu yang ini,” kata Raka suatu sore, menunjuk gambar pohon besar dengan dua orang duduk di bawahnya. “Kayak kita.”
Nadia tersenyum, “Kamu romantis juga, ya.”
Raka tertawa kecil. “Aku cuma jujur.”
Dalam hati, Nadia merasa hangat. Raka memang selalu begitu. Hangat. Menenangkan. Tapi bukan berarti hatinya
tidak pernah goyah.
Hari itu, cuaca cerah. Angin sepoi-sepoi meniup rambut panjang Nadia saat ia duduk di bawah pohon kenari di taman kampus. Di tangannya ada sketchbook dan pensil mekanik. Ia sedang menggambar langit dan awan ketika seorang pria tinggi dengan rambut ikal dan wajah tegas menghampirinya.
“Hai, kamu Nadia, ya?” tanyanya dengan suara berat namun ramah.
Nadia menoleh. “Iya. Kamu siapa?”
“Vino. Mahasiswa pindahan dari Yogyakarta. Dosen bilang kamu bisa bantu aku adaptasi di sini.”
“Oh,” Nadia tersenyum sopan. “Silakan duduk.”
Vino duduk di sampingnya, memperhatikan sketsanya. “Kamu jago juga. Aku suka seni juga, tapi lebih ke puisi.”
Nadia menatap Vino, penasaran. Tatapan pria itu dalam, seolah menyimpan banyak cerita. Berbeda dengan Raka yang transparan dan terbuka, Vino terasa seperti teka-teki.
Hari-hari berikutnya, Vino makin sering terlihat bersama Nadia. Ia mengajaknya diskusi sastra, menemaninya saat pameran seni, bahkan menuliskan puisi-puisi kecil yang membuat pipi Nadia memerah.
Raka mulai merasa terpinggirkan. Ia bukan tipe yang cemburu membabi buta, tapi hatinya tak bisa membohongi diri. Ia mencintai Nadia, dan kini ada orang lain yang juga mulai mengambil tempat dalam hidup gadis itu.
Hari-hari mereka berlalu seperti biasa: kuliah, mengerjakan tugas bersama, makan siang di kantin, dan bercanda di ruang seni. Semua terasa stabil. Sampai seseorang datang dan mengubah segalanya.