Hari sidang tesis Nisa tiba hampir setahun setelah ia dan Reza pindah ke kontrakan. Bu Aisyah, Pak Epi, Riri, dan Reza menunggu di luar ruang ujian. Eneng ingin ikut, tetapi Nisa meminta semua keluarga menunggu kabar dari rumah agar lorong kampus tidak terlalu penuh.
“Bunda pasti marah,” kata Reza ketika mereka berangkat.
“Bunda boleh kecewa. Hari ini aku butuh suasana tenang.”
“Aku sudah jelaskan begitu.”
Nisa tersenyum. Mereka tidak lagi mengukur kemajuan dari ada atau tidaknya pertengkaran, melainkan dari kemampuan mempertahankan batas setelah pertengkaran terjadi.
Ujian berlangsung hampir dua jam. Nisa keluar dengan wajah pucat dan langkah lambat. Semua orang berdiri menunggu.
“Bagaimana?” tanya Bu Aisyah.
Nisa sengaja diam beberapa detik, kemudian senyum lebar muncul. “Lulus dengan revisi.”
Riri langsung memeluknya. Pak Epi mengucapkan syukur berulang kali. Reza berdiri paling belakang sambil menangis terang-terangan.
“Mas, kenapa malah nangis?”
“Aku bangga. Dulu aku pikir punya istri berpendidikan cuma bagus untuk diceritakan kepada orang lain. Sekarang aku tahu berapa banyak malam kamu belajar.”
Ia menyerahkan bunga kecil yang dibeli dari pedagang dekat kampus, bukan rangkaian mahal pilihan Eneng. Di kartu tertulis: Untuk Nisa, yang keberhasilannya bukan milik siapa pun selain dirinya.
Malamnya mereka merayakan di rumah orang tua Reza. Eneng sudah menyiapkan terlalu banyak makanan dan mengundang beberapa kerabat tanpa bertanya. Nisa sempat kesal, tetapi menyadari mertuanya sedang belajar mengekspresikan bangga dengan cara yang ia kenal.
“Lain kali bilang dulu kalau mengundang orang, ya Bun,” kata Nisa.
Eneng hampir menyahut, lalu mengangguk. “Iya. Bunda terlalu semangat.”
Di depan kerabat, Eneng beberapa kali menyebut gelar Nisa. Namun ketika salah seorang tamu mengatakan Reza beruntung mendapat istri yang bisa mengurus rumah sekaligus kuliah, Reza langsung membetulkan.
“Kami mengurus rumah bersama. Nisa bukan belajar setelah semua pekerjaan selesai sendirian.”
Ucapan itu sederhana, tetapi membuat Nisa semakin yakin perubahan suaminya tidak hanya muncul saat mereka berada di ruang pendampingan.
Setelah lulus, Nisa ditawari posisi koordinator kurikulum di sekolah. Gajinya lebih baik dan tanggung jawabnya lebih besar. Ia ragu menerima karena khawatir Reza merasa tersaingi.
“Kenapa aku harus merasa tersaingi?” tanya Reza.
“Karena penghasilanku mungkin lebih besar.”
“Bagus. Berarti kita bisa menabung lebih cepat.”
Nisa tertawa. “Mas serius?”
“Aku memang anak Bunda, tapi tidak semua pikiran lama harus diwarisi.”
Reza sendiri mulai berubah di tempat kerja. Ia tidak lagi menunggu ayahnya membantu setiap ada kesulitan. Ketika mendapat tawaran promosi yang mengharuskannya mengikuti pelatihan luar kota, ia mendiskusikannya dengan Nisa sebelum menjawab.
“Aku akan pergi tiga minggu,” katanya. “Kamu keberatan?”
“Aku akan rindu. Tapi kalau Mas mau, ambil.”
“Kamu yakin bisa sendiri?”
“Aku hidup sendiri sebelum menikah.”
“Benar juga.”
Jarak tiga minggu menjadi ujian baru. Reza menelepon secara teratur tanpa meminta laporan setiap menit. Nisa mengabarkan jadwalnya tanpa merasa diawasi. Suatu malam seorang rekan perempuan Reza mengangkat telepon karena Reza sedang mandi. Ketakutan lama muncul dalam diri Nisa, mengingat bagaimana Dani selalu beralasan tentang rekan kerja.
Ketika Reza menelepon kembali, Nisa tidak menuduh. “Aku merasa takut waktu perempuan lain mengangkat ponselmu.”
Reza menjelaskan bahwa ponselnya tertinggal di ruang rapat dan rekan tersebut hendak menyerahkan. Ia juga tidak mengejek kekhawatiran Nisa.
“Terima kasih sudah bilang,” katanya. “Besok aku akan lebih hati-hati menyimpan ponsel. Bukan karena kamu harus memeriksa, tapi karena aku tahu pengalamanmu.”
Sebaliknya, Reza pernah cemburu ketika melihat Nisa berdiskusi dengan guru lelaki selepas jam sekolah. Nisa memperkenalkan mereka dan menjelaskan proyek yang dikerjakan, tetapi menolak ketika Reza meminta ia menghindari semua rekan lelaki.
“Kepercayaan bukan berarti mengurung,” katanya.
Reza membutuhkan waktu untuk menerima. Mereka bertengkar malam itu, lalu kembali bicara setelah emosi turun. Pernikahan mereka tidak berubah menjadi dongeng tanpa masalah. Hanya saja, tidak ada lagi panggilan rahasia, ancaman cerai, atau orang tua yang dipakai sebagai hakim.
Pada ulang tahun pernikahan pertama, mereka kembali ke rumah makan tempat pertemuan pendampingan pertama dilakukan. Reza membawa dua lembar kertas lama berisi alasan menikah.
“Aku menyimpannya,” katanya.
Nisa membaca jawabannya sendiri dan merasa malu. “Aku menulis ingin melupakan Dani.”
“Aku menulis ingin punya istri yang mengurus.”
Mereka tertawa, kemudian mengambil kertas baru.
“Kita tulis alasan bertahan?” tanya Reza.
Nisa mengangguk.
Ia menulis: Karena bersama Reza, aku belajar bahwa cinta tidak menghapus tanggung jawab dan tidak meminta aku kehilangan diri.
Reza menulis lebih lama: Karena Nisa bukan milikku untuk diatur. Dia pasangan yang memilih berjalan bersamaku, dan aku ingin terus pantas menerima pilihan itu.
Mereka bertukar kertas. Mata Nisa menghangat.
“Aku dulu mengira Mas Dani adalah cinta pertamaku,” katanya. “Mungkin memang benar dalam arti orang pertama yang membuatku tergila-gila.”
Reza menahan napas, tetapi mendengarkan.
“Sekarang aku tahu cinta pertama bukan selalu cinta yang harus dipertahankan. Ada cinta yang datang untuk menunjukkan kelemahan kita. Ada juga cinta yang dibangun setelah kita belajar.”
“Dan aku yang mana?”
“Cinta yang sedang kubangun.”
Reza tersenyum. “Tidak terdengar terlalu romantis.”
“Tapi jujur.”
“Aku lebih suka yang jujur.”
Ketika pulang, mereka melihat pengumuman bahwa kontrakan di sebelah akan dijual. Reza mengusulkan mengambil cicilan rumah dari kantor, tetapi Nisa meminta mereka menghitung lebih dahulu.
Malam itu keduanya duduk di lantai dengan kalkulator dan catatan tabungan. Tidak ada rumah hadiah dari Eneng, tidak ada keputusan sepihak. Setelah menghitung kemampuan, mereka sepakat menabung enam bulan lagi sebelum membeli rumah kecil.
Mereka mungkin belum sampai pada semua impian. Namun kini, setiap tujuan memiliki dua suara yang sama-sama didengar.
Sebelum tidur, Nisa menempelkan kedua kertas alasan bertahan itu di dalam lemari, bukan untuk dipamerkan kepada siapa pun. Mereka sepakat membacanya lagi setiap tahun dan menggantinya bila sudah tidak jujur. Sebab cinta, bagi mereka, bukan satu kalimat yang cukup diucapkan ketika akad. Cinta adalah keberanian untuk terus memeriksa apakah keduanya masih berjalan tanpa saling menyeret.