Dua tahun setelah Nisa dan Reza pindah ke kontrakan, sebuah rumah kecil akhirnya berdiri tidak jauh dari stasiun. Rumah itu tidak semewah yang pernah dijanjikan Toni dan Eneng. Halamannya hanya cukup untuk beberapa pot bunga, sedangkan ruang tamunya menyatu dengan ruang makan. Namun setiap cicilan dibayar dari penghasilan Nisa dan Reza, setelah keputusan dibicarakan bersama.
Pada hari pertama menempati rumah, kedua keluarga berkumpul. Eneng membawa tirai pilihannya, tetapi kali ini bertanya sebelum memasang.
“Warnanya terlalu terang tidak?” tanyanya.
Nisa mengamati kain hijau muda tersebut. “Bagus untuk ruang depan, Bun. Tapi kamar biar Nisa yang pilih.”
“Iya. Bunda cuma menyarankan.”
Kalimat sederhana itu membuat Reza dan Toni saling memandang sambil tersenyum. Eneng masih suka memberi pendapat tentang segala hal. Bedanya, ia mulai memahami bahwa saran bisa ditolak tanpa berarti kasih sayang juga ditolak.
Bu Aisyah membawa peralatan masak lama milik Nisa. Pak Epi membantu Reza memasang rak buku. Anggi datang bersama beberapa tanaman, sedangkan Riri membawa bingkai berisi foto Nisa saat wisuda magister.
“Biar semua orang tahu penghuni rumah ini tidak cuma jago masak,” kata Riri.
Reza menggantung foto itu di ruang tengah. Di sebelahnya ia memasang sertifikat promosi kerjanya sendiri. Tidak ada yang lebih tinggi. Keduanya berdampingan pada dinding yang sama.
Selepas makan siang, sebuah mobil berhenti di depan rumah. Siti turun membawa hadiah kecil. Nisa cukup terkejut karena mereka tidak pernah menjadi teman dekat.
“Saya hanya sebentar,” kata Siti. “Saya mau pindah sekolah bulan depan dan ingin pamit.”
Ia telah menyelesaikan materi etika komunikasi yang ditugaskan kepala sekolah. Dalam prosesnya, Siti meminta maaf kepada Rika melalui surat. Rika tidak membalas, tetapi Siti tidak lagi menuntut pengampunan.
“Saya dulu terlalu suka mencampuri hidup orang,” katanya kepada Nisa. “Mungkin karena hidup saya sendiri terasa sepi.”
“Sepi bukan alasan menyakiti,” jawab Nisa dengan lembut.
“Saya tahu sekarang sekarang.”
Mereka berpisah tanpa janji akan bersahabat. Namun setidaknya, tidak ada lagi kebencian yang dibawa ke tempat baru.
Kabar tentang Dani hanya datang sesekali melalui rekan lama. Ia tetap mengajar di sekolah lain dan melanjutkan terapi. Setahun setelah perceraian, ia pernah mengirim permintaan resmi untuk meminta maaf kepada Rika. Rika menolak pertemuan dan hanya menjawab bahwa ia berharap Dani tidak mengulang pola tersebut kepada siapa pun.
Rika sendiri membuka usaha kecil bersama kakaknya. Ia belum menikah lagi dan tidak merasa perlu membuktikan bahwa hidupnya bahagia melalui pasangan baru. Pada sebuah acara pelatihan, ia bertemu Nisa secara tidak sengaja. Mereka saling menyapa dengan anggukan, tidak hangat tetapi juga tidak bermusuhan.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Rika.
“Baik. Mbak?”
“Sedang belajar baik.”
Itu cukup. Masa lalu tidak hilang, tetapi tidak lagi menentukan seluruh percakapan mereka.
Setelah semua tamu pulang dari rumah baru, Nisa dan Reza duduk di lantai ruang tengah. Kardus masih bertumpuk. Reza membuka kotak paling kecil dan menemukan alat tes kehamilan yang dibungkus kain.
Ia menatap Nisa dengan mata membesar. “Ini?”
Nisa mengangguk. “Sudah periksa ke dokter. Usianya delapan minggu dan kondisinya baik.”
Reza menutup mulut. Air matanya langsung jatuh. Namun sebelum memeluk, ia bertanya, “Kamu senang?”
“Senang. Takut juga.”
“Aku juga.”
Mereka berpelukan sambil menangis. Kehamilan itu bukan hadiah karena pernikahan berhasil, juga bukan pengganti kehilangan sebelumnya. Ia adalah kehidupan baru yang akan mereka sambut tanpa membebankan tugas menyempurnakan keluarga.
Mereka menunggu beberapa minggu sebelum memberi kabar. Ketika Eneng mengetahuinya, ia hampir menyusun seluruh aturan kehamilan dan rencana tinggal bersama. Reza mengingatkan bahwa keputusan medis mengikuti dokter dan Nisa.
“Bunda boleh membantu kalau kami meminta,” katanya.
Eneng menarik napas panjang. “Baik. Bunda tunggu diminta.”
Ia hanya bertahan dua hari sebelum mengirim daftar makanan sehat. Nisa tertawa saat membacanya, lalu memilih beberapa saran yang berguna dan mengabaikan sisanya tanpa pertengkaran.
Kehamilan Nisa tidak selalu mudah. Ia mengalami mual, kelelahan, dan ketakutan setiap kali perut terasa sakit. Reza menemani pemeriksaan sebisa mungkin. Ketika pekerjaannya mengharuskannya keluar kota, ia tidak membatalkan sepihak ataupun memaksa Nisa tinggal bersama Eneng. Mereka mengatur agar Riri atau Bu Aisyah datang bila Nisa memang menginginkan teman.
Pada bulan ketujuh, dokter meminta Nisa mengurangi aktivitas. Ia mengambil cuti dari sekolah, tetapi tetap mengerjakan rancangan kurikulum dari rumah. Reza mengurus sebagian besar pekerjaan rumah tanpa merasa sedang membantu tugas perempuan. Rumah itu milik mereka; pekerjaannya juga milik bersama.
Anak perempuan mereka lahir pada pagi hari setelah hujan semalaman. Reza mendampingi Nisa dengan wajah lebih pucat daripada istrinya. Ketika tangisan bayi terdengar, ia mengucapkan syukur berkali-kali.
Mereka memberi nama Aira, berarti kehidupan yang mereka harapkan mengalir jernih. Eneng sempat mengusulkan nama lain, tetapi menerima pilihan keduanya.
Beberapa bulan kemudian, Nisa kembali mengajar. Ia tidak meninggalkan seluruh cita-cita demi menjadi ibu, dan Reza tidak dianggap luar biasa hanya karena bergantian menjaga anak. Mereka menyusun jadwal, menerima bantuan keluarga dengan batas yang jelas, serta mengakui bila sama-sama lelah.
Pada suatu sore, Nisa menemukan surat lama Dani ketika membersihkan berkas. Ia membacanya tanpa debar. Kata-kata yang dahulu terasa seperti pusat dunia kini hanya merupakan bagian dari masa lalu seorang perempuan yang belum mengenal dirinya.
Reza masuk membawa Aira yang tertidur di pundak. Ia melihat surat tersebut, tetapi tidak langsung curiga.
“Mau disimpan?” tanyanya.
Nisa berpikir sejenak. “Tidak.”
Ia merobek surat itu, bukan karena membenci Dani atau ingin menghapus kesalahan. Semua akibatnya tetap ada. Namun ia tidak membutuhkan kertas tersebut untuk mengingat pelajaran yang sudah menjadi bagian dirinya.
“Mas,” panggil Nisa setelah membuang sobekan.
“Iya?”
“Terima kasih sudah memilih belajar.”
Reza tersenyum. “Terima kasih sudah tidak menjadikanku pengganti siapa pun.”
Mereka berdiri dekat jendela memandangi hujan. Aira bergerak kecil dalam gendongan, lalu kembali terlelap. Dari dapur terdengar bunyi mesin cuci yang dioperasikan Reza, sementara buku tesis Nisa berjajar di rak ruang tengah.
Cinta pertama Nisa pernah membuatnya percaya bahwa rasa yang kuat dapat membenarkan segala cara. Pernikahan mengajarinya sebaliknya. Cinta bukan alasan untuk berbohong, memiliki, mengendalikan, ataupun melukai orang lain. Cinta membutuhkan kejujuran, batas, dan tanggung jawab—bahkan ketika semua itu tidak terasa romantis.
Nisa tidak melupakan masa lalu. Ia juga tidak lagi hidup untuk menebusnya setiap hari. Ia sudah meminta maaf, menerima akibat, dan memilih jalan yang berbeda.
Di rumah kecil yang dibangun dari keputusan bersama, Nisa menatap suami serta anaknya. Ia tidak sedang bersembunyi dari cinta lama atau bergantung pada janji manis siapa pun.
Untuk pertama kalinya, ia mencintai dengan mata terbuka.
TAMAT