Enam bulan masa pisah Rika dan Dani berakhir pada pagi yang mendung. Selama waktu itu, Dani mengikuti terapi dan tidak lagi menghubungi Nisa. Ia juga mematuhi pembinaan sekolah, meski beberapa kali hampir mendapat pelanggaran karena mencoba mencari tahu kabar istrinya melalui teman.
Rika tidak kembali ke rumah. Ia menyewa tempat kecil dekat kantornya dan mulai melakukan hal-hal yang lama ditunda: mengikuti kursus, mengunjungi ibunya lebih sering, serta bertemu sahabat tanpa harus menjelaskan keberadaan Dani.
Mereka berjumpa di kantor konsultan hukum. Dani datang lebih awal dengan kemeja rapi dan wajah yang terlihat lebih kurus. Ia membawa map berisi catatan terapi, seolah bukti perubahan dapat mengubah keputusan Rika.
“Aku tidak pernah selingkuh lagi,” katanya setelah mereka duduk.
“Enam bulan tidak selingkuh seharusnya bukan prestasi, Mas.”
Dani menunduk. “Aku tahu. Maksudku, aku benar-benar berusaha.”
“Aku percaya kamu berusaha.”
Harapan muncul di wajahnya. “Berarti kamu pulang?”
Rika menggeleng. “Aku mengajukan gugatan cerai.”
Dani membeku. “Kenapa? Bukankah kamu memberi waktu enam bulan supaya aku berubah?”
“Aku memberi waktu kepada diriku untuk berpikir. Perubahanmu bukan pembayaran yang mewajibkanku kembali.”
“Tapi aku melakukan semua yang kamu minta.”
“Karena kamu memang perlu melakukannya untuk dirimu sendiri.”
Dani berdiri, berjalan ke jendela, lalu kembali duduk. Ia tidak merayu seperti biasanya. Terapi mengajarinya bahwa air mata dan janji dapat berubah menjadi cara menekan bila digunakan untuk membuat orang lain bertahan.
“Apa kamu sudah tidak mencintaiku?” tanyanya.
“Masih ada bagian yang mencintai. Tapi aku tidak lagi aman bersamamu. Setiap ponsel berbunyi, tubuhku langsung tegang. Setiap kamu terlambat, aku membayangkan perempuan lain. Aku tidak mau menghabiskan hidup menjadi penjaga.”
“Aku bisa menunggu sampai kamu percaya.”
“Dan aku tidak mau kamu menunggu dengan harapan aku berutang kepulangan.”
Rika menyerahkan salinan dokumen. Ia meminta proses berjalan tanpa saling mempermalukan. Harta bersama dibagi sesuai hukum, dan mereka tidak memiliki anak yang harus diperebutkan.
Dani membaca halaman pertama dengan mata berkaca. “Jadi ini benar-benar selesai?”
“Pernikahan kita selesai. Tanggung jawabmu kepada dirimu belum.”
Untuk pertama kalinya setelah berkali-kali menyakiti, Dani menerima bahwa permintaan maaf tidak selalu mengembalikan apa yang hilang. Ia menandatangani penerimaan dokumen tanpa membuat keributan.
Proses pengadilan berlangsung beberapa bulan. Dani sempat tergoda menyalahkan Nisa di hadapan keluarga, tetapi mengurungkan niat. Dalam salah satu sesi terapi, ia mengakui bahwa menempatkan seluruh kesalahan pada perempuan lain merupakan cara termudah menghindari dirinya sendiri.
Keputusan cerai akhirnya dibacakan. Rika keluar dari ruang sidang ditemani kakaknya. Ia menangis, bukan karena menyesal, melainkan karena kehilangan hidup yang pernah sungguh-sungguh diharapkan.
Nisa mengetahui kabar itu dari Riri. Ada rasa bersalah yang datang, tetapi ia tidak menghubungi Rika. Beberapa hari kemudian sebuah pesan justru masuk dari Rika.
Prosesnya selesai. Aku hanya ingin kamu tahu. Teruslah jaga batasmu.
Nisa membalas singkat.
Semoga Mbak mendapat ketenangan. Terima kasih sudah memberi tahu.
Tidak ada ucapan bahwa mereka kini impas. Tidak ada persahabatan yang dipaksakan. Mereka menutup percakapan dengan hormat.
Di sekolah, keputusan cerai menjadi bahan bisik-bisik. Siti mengatakan Rika kalah karena membiarkan perempuan lain merusak rumah tangga. Kali ini beberapa guru langsung menegurnya.
“Pergi dari hubungan yang terus melukai bukan berarti kalah,” kata Riri.
Kepala sekolah memberi Siti tugas resmi membuat materi etika komunikasi setelah teguran sebelumnya tidak cukup. Ia harus mempelajari akibat gosip terhadap kesehatan mental rekan kerja. Awalnya Siti menganggap hukuman itu berlebihan. Namun ketika membaca hasil wawancara korban perundungan, ia mulai memahami ucapan yang dianggap candaan dapat tinggal bertahun-tahun dalam diri seseorang.
Siti menemui Nisa seusai rapat. “Saya minta maaf sudah menyebarkan masalahmu dan Bu Rika.”
Nisa menatapnya, mencari apakah ada sindiran tersembunyi. Tidak ada.
“Saya menerima permintaan maaf. Tapi saya berharap Ibu juga meminta maaf kepada Bu Rika secara langsung.”
Siti mengangguk. “Saya akan coba.”
Dani kemudian dipindahkan permanen ke sekolah lain atas permintaannya sendiri. Pada hari terakhir, ia meminta kepala sekolah menyampaikan surat tertutup kepada Nisa. Nisa hanya bersedia menerima setelah pendamping membaca dan memastikan isinya bukan rayuan.
Surat itu pendek.
Nisa, aku pernah menyebut tindakanku cinta karena tidak sanggup mengakui bahwa aku ingin memiliki perhatianmu. Aku menyakiti Rika dan menyeretmu ke dalam pola yang sama. Aku tidak meminta maaf atau jawaban. Aku hanya berjanji tidak akan menghubungimu lagi.
Nisa membaca surat tersebut sekali, lalu menyimpannya bersama bukti pemeriksaan sekolah. Bukan sebagai kenangan cinta, melainkan catatan bahwa sebuah pola akhirnya dihentikan.
Reza menunggu di luar gerbang ketika Dani meninggalkan sekolah. Kedua lelaki itu saling melihat. Dahulu Reza membayangkan akan memukulnya. Kini ia hanya mendekat.
“Saya masih marah,” katanya.
“Saya mengerti.”
“Jangan hubungi istri saya lagi.”
“Saya tidak akan.”
Dani pergi tanpa drama. Reza kembali kepada Nisa dan tidak menanyakan apakah hatinya masih bergetar. Ia percaya tindakan Nisa selama berbulan-bulan lebih kuat daripada ketakutannya.
Dalam perjalanan pulang, mereka berhenti membeli makanan. Nisa tampak lebih diam dari biasanya.
“Kamu sedih?” tanya Reza.
“Sedikit. Bukan karena ingin dia kembali. Aku hanya sedang mengucapkan selamat tinggal kepada bagian hidupku yang panjang.”
Reza mengangguk. “Aku tidak harus menyukai perasaan itu untuk menghargainya.”
Nisa menggenggam tangannya. Jawaban tersebut membuktikan betapa jauh Reza berkembang dari lelaki yang dahulu langsung melapor kepada Bunda.
Di tempat lain, Rika membuka jendela apartemen barunya. Ia meletakkan satu tanaman di ambang, menyalakan musik, dan membuat teh untuk dirinya sendiri. Ruangan itu belum terasa seperti rumah. Akan tetapi tidak ada lagi ponsel yang harus diperiksa atau janji yang harus diawasi.
Ia belum tahu akan mencintai siapa setelah ini. Untuk saat ini, hidup yang tenang sudah cukup.
Rika tidak kalah dari Nisa ataupun perempuan-perempuan lain. Ia berhenti mengikuti pertandingan yang sejak awal tidak pernah seharusnya ada.
Hari itu ia membeli bingkai baru untuk ijazah kursusnya dan menggantungnya di ruang tamu. Benda sederhana tersebut menjadi tanda bahwa hidupnya memiliki cerita sendiri, jauh sebelum dan sesudah Dani. Ia tidak sedang menunggu seseorang datang untuk menyebutnya utuh.