Telepon dari Anggi datang menjelang tengah malam. Nisa baru menyelesaikan bahan ajar, sedangkan Reza sedang melipat pakaian di ruang tengah.
“Kak, Bunda dibawa ke rumah sakit,” suara Anggi terdengar panik. “Tadi mengeluh d**anya sakit dan susah bernapas.”
Reza menjatuhkan kaus di tangannya. “Rumah sakit mana?”
Mereka berangkat tanpa sempat mengganti pakaian. Sepanjang perjalanan, Reza menyalahkan diri sendiri. Ia mengingat tangis Eneng ketika perabot dikembalikan dan khawatir batas yang dibuatnya menyebabkan sang ibu jatuh sakit.
“Kalau terjadi apa-apa sama si Bunda, aku anak durhaka,” katanya.
“Jangan mengambil kesimpulan sebelum dokter menjelaskan,” jawab Nisa.
“Tapi dia sakit setelah aku pindah.”
“Bunda punya perasaan sedih, tapi tubuhnya juga punya kondisi sendiri. Kita bisa menyayangi tanpa menjadikan semua hal kesalahan Mas.”
Di ruang gawat darurat, Toni mondar-mandir. Anggi menangis di kursi. Dokter keluar setelah pemeriksaan dan menjelaskan bahwa Eneng mengalami serangan panik disertai kenaikan tekanan darah, bukan serangan jantung. Ia perlu observasi, pengobatan, dan evaluasi lebih lanjut.
Reza masuk ke kamar. Eneng langsung memeluknya sambil menangis.
“Kamu meninggalkan Bunda,” katanya.
“Reza tidak meninggalkan Bunda.”
“Kalau kamu masih tinggal di rumah, Bunda tidak akan begini.”
Rasa bersalah kembali menekan. Reza hampir berjanji pulang ke rumah malam itu juga. Namun pendampingan mengajarinya berhenti sebelum menjawab.
“Reza akan menemani Bunda sampai sehat,” katanya. “Tapi setelah itu Reza tetap pulang ke kontrakan.”
Eneng melepaskan pelukan. “Jadi istrimu lebih penting?”
“Bukan perlombaan. Bunda ibu Reza. Nisa istri Reza.”
Nisa berdiri di dekat pintu, tidak ikut masuk dalam perdebatan. Ia membantu Anggi membeli kebutuhan dan menghubungi keluarga lain. Ketika Eneng meminta hanya Reza yang menemaninya semalaman, Nisa setuju pulang bersama Toni tanpa merasa harus membuktikan dirinya sebagai menantu baik.
Keesokan hari, dokter menyarankan Eneng bertemu psikolog. Ia menolak keras, menganggap dirinya tidak gila. Dulu seluruh keluarga mungkin akan mengikuti penolakannya. Kali ini Toni berbicara.
“Kita akan datang, Bun. Ayah ikut.”
“Ayah menganggap Bunda gila?”
“Tidak. Ayah melihat Bunda ketakutan kehilangan anak. Kita perlu bantuan supaya ketakutan itu tidak menyakiti Bunda dan orang lain.”
Eneng marah, tetapi kondisi tubuh membuatnya tidak bisa pergi. Setelah beberapa kali dibujuk tanpa ancaman, ia akhirnya bersedia.
Dalam sesi keluarga, Eneng menceritakan masa kecilnya yang miskin dan sering direndahkan karena pakaian serta kendaraan. Ketika menikah dengan Toni dan kehidupan membaik, ia bertekad tidak akan pernah dipandang rendah lagi. Harta dan penampilan menjadi benteng. Anak-anaknya dididik agar selalu bergantung, sebab dibutuhkan membuat Eneng merasa aman.
“Kalau Reza bisa hidup tanpa saya, lalu saya ini siapa?” tanyanya sambil menangis.
Nisa melihat mertuanya dengan cara berbeda. Ia memahami luka tersebut, tetapi tidak menjadikannya alasan untuk membenarkan perilaku Eneng.
“Bunda tetap ibunya Reza meski dia bisa mencuci baju sendiri,” kata Nisa. “Nisa tidak ingin mengambil Reza. Nisa hanya ingin kami belajar menjadi keluarga sendiri.”
Eneng menatapnya. “Kamu masih membenci Bunda?”
“Nisa sakit hati atas hinaan Bunda. Tapi Nisa tidak ingin membenci.”
“Bunda juga masih sulit percaya setelah tahu masa lalumu.”
“Bunda boleh membutuhkan waktu. Yang tidak boleh adalah memakai masa lalu itu setiap kali Nisa punya pendapat.”
Percakapan tersebut tidak berakhir dengan pelukan. Eneng tetap bersungut-sungut. Namun ketika pulang dari rumah sakit, ia tidak meminta Reza tinggal. Ia hanya meminta jadwal kunjungan tetap seminggu sekali.
Nisa dan Reza menyepakatinya. Sebagai gantinya, Eneng berjanji menghubungi sebelum datang ke kontrakan.
Ujian muncul dua pekan kemudian. Eneng berdiri di depan pintu pada pagi hari tanpa kabar, membawa makanan. Reza membuka pintu tetapi tidak langsung mempersilakan masuk.
“Bunda lupa menelepon?” tanyanya.
“Bunda cuma sebentar.”
“Kami sedang mau berangkat. Kalau Bunda pesan tadi, kami bisa menunggu.”
Eneng mulai menunjukkan wajah kecewa. Nisa merasa kasihan dan hampir membatalkan jadwal kuliah. Reza justru menerima makanan, mencium tangan ibunya, lalu menawarkan bertemu sore.
“Bunda pulang lagi?”
“Iya. Nanti Reza datang setelah mengantar Nisa.”
Eneng pergi dengan wajah masam. Namun sorenya, ia menerima kedatangan mereka tanpa mengungkit kejadian pagi. Perubahan kecil itu terasa jauh lebih nyata daripada permintaan maaf besar.
Di tengah semua kesibukan, Nisa terlambat datang bulan. Ia membeli alat tes kehamilan dengan tangan gemetar. Ketika dua garis muncul, perasaannya bercampur antara bahagia dan takut.
Reza menemukan dirinya duduk di lantai kamar mandi.
“Kamu sakit?”
Nisa menunjukkan alat tersebut. Mata Reza langsung membesar, lalu senyum merekah. Ia hampir berteriak menelepon Eneng, tetapi berhenti sebelum mengambil ponsel.
“Kamu mau kita bilang sekarang atau tunggu dokter?” tanyanya.
Nisa terharu karena ia bertanya. “Tunggu pemeriksaan.”
Kebahagiaan mereka hanya berlangsung sampai kunjungan dokter dua hari kemudian. Hasil tes darah menunjukkan hormon kehamilan rendah dan pemeriksaan belum menemukan kantung. Dokter meminta mereka kembali karena ada kemungkinan kehamilan sangat dini atau kehamilan yang tidak berkembang.
Seminggu setelahnya, Nisa mengalami perdarahan. Dokter memastikan ia mengalami keguguran sangat awal.
Nisa pulang dalam diam. Reza mencoba menghibur dengan mengatakan mereka bisa mencoba lagi, tetapi kalimat itu justru membuatnya menangis.
“Aku bukan sedih karena takut tidak punya anak,” katanya. “Aku sudah membayangkan dia ada.”
Reza duduk di samping tanpa menyuruhnya bersabar. “Aku juga.”
Mereka menangis bersama. Eneng mengetahui kabar tersebut dari Toni, tetapi kali ini ia tidak datang tanpa izin. Ia mengirim pesan kepada Nisa.
Bunda ingin menemani kalau kamu berkenan. Kalau belum, Bunda menunggu.
Nisa membaca pesan itu berkali-kali. Keesokan hari ia mengundang Eneng datang. Sang mertua tidak membawa nasihat atau pertanyaan kapan mencoba lagi. Ia membawa sup hangat, duduk di samping Nisa, dan menggenggam tangannya.
“Bunda juga pernah kehilangan kandungan sebelum Anggi,” katanya pelan.
Untuk pertama kalinya, mereka bertemu bukan sebagai mertua yang mengatur dan menantu yang harus patuh. Mereka adalah dua perempuan yang memahami kehilangan tanpa perlu memperdebatkan siapa paling benar.