Pagi di kontrakan selalu dimulai dengan suara kereta pertama. Nisa menyiapkan bahan ajar di meja kecil, sementara Reza memasak telur menggunakan api terlalu besar. Asap memenuhi dapur dan alarm murah yang dipasang pemilik rumah berbunyi nyaring.
“Mas, telurnya gosong!” seru Nisa.
“Ini namanya karamelisasi.”
“Itu arang.”
Reza mematikan kompor lalu membuka pintu belakang. Mereka sarapan dengan bagian telur yang masih bisa diselamatkan. Kehidupan tersebut tidak senyaman rumah Eneng, tetapi setiap kekacauan menjadi milik mereka berdua.
Nisa mulai kembali menikmati pekerjaannya. Setelah pemeriksaan etik, kepala sekolah mengadakan pelatihan mengenai batas profesional dan pelecehan di lingkungan kerja. Semua guru diwajibkan hadir, termasuk Dani, Siti, Wahyu, dan Nisa. Suasananya canggung, tetapi untuk pertama kalinya tindakan yang selama ini dianggap sekadar urusan pribadi dibicarakan sebagai persoalan serius.
Dalam sesi refleksi, Wahyu mengakui di depan kelompok bahwa ia pernah meminta bantuan dukun untuk memengaruhi Nisa. Beberapa orang tertawa karena menganggapnya lelucon. Fasilitator justru menegaskan bahwa niat mengendalikan kehendak orang lain tetap merupakan bentuk pelanggaran batas, terlepas dari cara tersebut dipercaya atau tidak.
Wahyu menunduk. “Saya malu. Saya pikir penolakan Bu Nisa adalah tantangan.”
Nisa tidak diminta memaafkan di depan semua orang. Ia hanya mengatakan tidak ingin kejadian serupa terulang kepada siapa pun.
Dani duduk paling belakang. Ketika gilirannya berbicara, ia semula memberi jawaban umum tentang kekhilafan. Fasilitator bertanya siapa yang menanggung akibat dari kekhilafan itu.
“Istri saya. Bu Nisa. Dan lingkungan sekolah,” jawabnya akhirnya.
“Apakah pengakuan itu mengharuskan mereka memaafkan?”
“Tidak.”
Nisa mendengar tanpa merasa perlu menoleh. Pengakuan Dani tidak menimbulkan debar seperti rayuannya dulu. Ia hanya merasakan kesedihan atas waktu yang hilang, kemudian kembali mencatat materi.
Di rumah, persoalan lain menunggu. Eneng mengirim perabot tanpa bertanya: sofa besar, lemari, dan meja makan enam kursi yang jelas tidak muat. Truk pengantar berhenti di depan kontrakan, membuat tetangga berkumpul.
“Bunda bilang semua harus masuk,” ujar sopir.
Reza menghubungi ibunya. “Bun, rumah kami tidak cukup.”
“Makanya kalian pindah ke rumah yang Ayah siapkan.”
“Kami sudah bilang tidak.”
“Bunda cuma membantu. Nisa pasti yang melarang.”
Reza melirik istrinya. Dulu ia mungkin menyerahkan ponsel dan membiarkan kedua perempuan itu bertengkar. Kini ia menjauh sedikit agar dapat menjawab sendiri.
“Ini keputusan Reza juga. Barangnya akan dikembalikan.”
Eneng menangis dan menutup telepon. Reza meminta sopir membawa perabot kembali. Tetangga mulai berbisik, tetapi ia tidak berubah pikiran.
Malamnya, Toni datang seorang diri. “Bunda mengurung diri di kamar.”
“Ayah mau menyuruh kami menerima barang itu?” tanya Reza.
“Tidak. Ayah mau bilang kalian benar.” Toni duduk di kursi plastik. “Ayah juga mulai membuat keputusan sendiri. Besok Ayah mau memasak sarapan.”
Reza membelalakkan mata. “Ayah bisa?”
“Belum. Makanya mau belajar.”
Mereka tertawa. Perubahan di keluarga itu menjalar perlahan. Anggi mulai mencuci pakaiannya sendiri. Toni mengambil alih beberapa pekerjaan rumah. Eneng semakin sering marah karena merasa tidak dibutuhkan, sampai pendamping keluarga menjelaskan bahwa kasih sayang tidak berkurang hanya karena anak mampu mengurus diri.
Nisa juga menghadapi kebiasaan lamanya. Ia masih sering takut berkata tidak kepada orang tua. Ketika Bu Aisyah meminta ia pulang setiap akhir pekan, Nisa hampir langsung setuju, padahal jadwal kuliah dan pekerjaannya menumpuk.
“Ibu pasti kecewa kalau aku menolak,” katanya kepada Reza.
“Kamu yang bilang orang menangis bukan selalu berarti kita salah.”
Nisa tersenyum kecut karena nasihatnya dikembalikan. Ia menelepon ibunya dan menawarkan pulang dua minggu sekali. Bu Aisyah sempat mengeluh, tetapi akhirnya memahami.
Kesibukan kuliah Nisa mencapai puncaknya ketika jadwal seminar proposal diumumkan. Ia harus menyiapkan presentasi di tengah tugas mengajar. Dahulu ia terbiasa memendam panik, lalu mencari perhatian Dani sebagai pengalih. Kali ini ia mengatakan terus terang kepada Reza bahwa dirinya kewalahan.
Reza tidak menawarkan jawaban muluk. Ia mengambil alih pekerjaan rumah selama tiga hari, menguji presentasi Nisa meski tidak memahami seluruh istilah pendidikan, dan memasang kertas bertuliskan DILARANG MENGGANGGU CALON MAGISTER di pintu.
“Mas malah bikin malu kalau tetangga lihat,” protes Nisa.
“Biar mereka tahu istriku pintar.”
Pada hari seminar, Reza menunggu di luar kampus membawa air minum. Nisa keluar dengan mata berbinar karena proposalnya diterima dengan revisi kecil.
“Aku lulus tahap ini karena usahaku,” kata Nisa.
“Iya.”
“Bukan karena Mas membantu?”
“Bantuanku hanya membuat piring tidak menumpuk. Yang menjawab dosen tetap kamu.”
Jawaban itu membuat Nisa tersenyum. Dukungan ternyata tidak harus mengubah keberhasilan menjadi utang.
Pada bulan ketiga kehidupan mereka di kontrakan, Reza mengajak Nisa membicarakan kedekatan fisik. Tidak ada tuntutan atau gerakan mendadak seperti malam pertama.
“Aku ingin dekat sebagai suami istri,” katanya. “Tapi aku tidak mau kamu setuju karena takut aku marah.”
Nisa menggenggam cangkir. Bayangan panggilan video bersama Dani sempat muncul dan membuat dirinya merasa kotor. Ia telah membawa rasa malu itu ke dalam pernikahan, mengira tubuhnya tidak lagi pantas dihormati.
“Aku takut Mas membandingkan,” katanya.
“Membandingkan dengan siapa?”
“Dengan bayangan tentang istri yang sempurna. Atau memikirkan apa yang pernah kulakukan.”
Reza menggeleng. “Aku memang masih terluka kalau ingat. Tapi tubuhmu bukan hukuman. Kita bisa menunggu.”
Mereka membicarakan rasa takut, batas, dan hal-hal yang membuat nyaman. Kedekatan malam itu tumbuh perlahan dari persetujuan keduanya. Tidak sempurna seperti adegan film yang pernah dibayangkan Nisa, tetapi penuh tanya, tawa canggung, dan perhatian. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa menjadi rahasia atau benda yang diinginkan. Ia hadir sebagai pasangan.
Keesokan pagi Reza bangun lebih dahulu dan memasak nasi goreng. Rasanya terlalu asin, tetapi Nisa menghabiskannya sambil tersenyum.
“Enak?” tanya Reza penuh harap.
“Bisa diperbaiki.”
“Itu jawaban untuk nasi atau pernikahan kita?”
Nisa tertawa. “Dua-duanya.”
Mereka masih memiliki utang, pekerjaan yang melelahkan, dan keluarga yang belajar menjaga jarak. Kepercayaan belum utuh. Namun di meja kecil pagi itu, Nisa tidak lagi bertanya apakah Reza mampu menggantikan Dani.
Reza bukan pengganti siapa pun. Ia adalah lelaki dengan kekurangan sendiri, yang kini memilih bertumbuh bersamanya. Dan Nisa, untuk pertama kalinya, berusaha mencintai bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai keputusan yang sadar.