Rika tinggal di rumah kakaknya selama hampir satu bulan. Dani menelepon setiap hari, mengirim bunga, hadiah, dan permintaan maaf yang selalu terdengar mirip. Pada minggu pertama, Rika hampir kembali. Ia rindu rumah, rutinitas, dan sisi Dani yang mampu membuatnya merasa paling dicintai di dunia.
Namun setiap kali membuka pesan Nisa, ia teringat bahwa rayuan yang sama juga diberikan kepada perempuan lain.
Kakaknya tidak mendesak bercerai. Ia hanya meminta Rika menemui konselor seorang diri sebelum mengambil keputusan. Dalam pertemuan itu, Rika akhirnya mengucapkan hal yang selama ini ditutupi.
“Saya takut kalau meninggalkan dia, berarti semua tahun yang saya pertahankan sia-sia.”
“Apakah bertahan membuat tahun-tahun itu kembali baik?” tanya konselor.
Rika terdiam.
Ia menyadari dirinya tidak hanya mencintai Dani. Ia juga terikat pada harapan bahwa kesabaran akan mengubah suaminya. Setiap perselingkuhan dianggap ujian yang harus dimenangkan, seolah pergi berarti kalah dari perempuan lain.
Pertemuan dengan Dani akhirnya dilakukan di rumah kakaknya. Tidak ada kamar pribadi atau kesempatan bagi Dani menggunakan sentuhan untuk meluluhkan. Mereka duduk di ruang tamu ditemani kakak Rika dari kejauhan.
“Aku sudah ikut pembinaan dari sekolah,” kata Dani. “Aku juga siap memberikan semua kata sandi ponsel.”
“Aku tidak mau menjadi polisi dalam rumah tangga sendiri.”
“Terus aku harus bagaimana supaya kamu percaya?”
“Masalahnya bukan cara aku percaya. Masalahnya kamu selalu merasa perubahan hanya dibutuhkan supaya aku pulang.”
Dani menunduk. “Aku takut kehilangan kamu.”
“Tapi tidak cukup takut untuk berhenti menyakiti.”
Ia menyerahkan map berisi permohonan konsultasi hukum. Rika belum langsung mengajukan gugatan. Ia meminta pisah tempat tinggal selama enam bulan dan menuntut Dani mengikuti terapi perilaku tanpa menjadikan kepulangannya sebagai hadiah.
“Kalau setelah enam bulan aku tetap tidak sanggup, aku akan mengajukan cerai,” katanya.
“Enam bulan lama sekali.”
“Aku menunggu perubahanmu bertahun-tahun.”
Dani tidak punya jawaban. Ia menerima syarat tersebut, meski jauh di dalam dirinya masih mengira dapat memikat Rika kembali dengan perhatian.
Hari-hari pertama seorang diri membuat Dani gelisah. Rumah terasa terlalu sunyi. Ia terbiasa melihat Rika menyiapkan makanan, mendengar keluhannya, lalu menerima pengampunan setelah pertengkaran. Kini tidak ada seorang pun yang memastikan ia pulang.
Ia mencoba menghubungi Nisa sekali lagi melalui surat elektronik kantor. Pesannya belum sempat dikirim. Kepala sekolah memergokinya menggunakan komputer ruang guru setelah jam kerja dan meminta melihat draf karena nama Nisa tertulis pada subjek.
“Bapak masih belum mengerti larangan kontak?” tanya kepala sekolah.
Dani berdalih hanya hendak meminta maaf. Namun sesuai keputusan etik, permintaan maaf pun harus disampaikan melalui pendamping dan hanya bila Nisa bersedia menerima.
Surat peringatan kedua diberikan. Dani dipindahkan ke bagian administrasi selama satu semester. Ia marah dan merasa kariernya dihancurkan oleh Nisa, Rika, serta sekolah.
Pak Deden menemuinya di kantin. “Yang menghancurkan itu tindakan Bapak sendiri.”
“Kamu gampang ngomong karena tidak tahu rasanya mencintai dua orang.”
“Bapak bukan mencintai dua orang. Bapak ingin dikagumi dua orang.”
Ucapan itu membuat Dani berdiri hendak pergi.
“Duduk dulu,” kata Deden. “Kalau semua orang yang menegur dianggap musuh, pembinaan apa pun tidak berguna.”
Dani akhirnya duduk lagi. Untuk pertama kalinya, ia menceritakan ketakutannya menjadi tua dan tidak lagi diinginkan. Setiap perhatian perempuan muda memberinya perasaan bahwa dirinya masih menarik dan berkuasa. Pengakuan tersebut memalukan, tetapi lebih jujur daripada alasan bahwa rumah tangganya kurang bahagia.
“Itu bukan salah Bu Rika,” kata Deden.
“Aku tahu.”
“Bukan salah Bu Nisa juga kalau sekarang berhenti.”
Dani mengangguk berat.
Ia mulai mengikuti konseling yang disediakan sekolah. Bukan karena yakin Rika kembali, melainkan karena terancam kehilangan pekerjaan bila menolak. Motivasi itu belum ideal, tetapi setidaknya membawanya ke ruangan tempat kebohongan tidak dapat selalu disembunyikan.
Sementara itu, Siti menghadapi akibat lain. Rekan guru yang dulu menjadi tempat bergosip mulai menjaga jarak. Ia merasa diperlakukan tidak adil karena Dani dan Nisa dianggap mendapat simpati.
Riri menegurnya ketika Siti kembali membicarakan Rika di kantor. “Kita semua pernah melakukan kesalahan, Bu. Tapi berhenti menyebarkan aib orang adalah keputusan yang bisa dibuat hari ini.”
Siti bersungut-sungut, namun akhirnya diam. Ia tidak berubah seketika. Hanya saja, untuk pertama kali tidak ada orang yang tertawa atau menimpali gosipnya.
Rika mengunjungi Nisa setelah satu bulan. Kali ini mereka bertemu di kontrakan dengan Reza berada di rumah, tetapi memberi ruang di teras.
“Aku belum memaafkanmu,” kata Rika.
“Saya mengerti.”
“Tapi aku datang untuk bilang terima kasih karena menunjukkan pesan itu.”
Nisa menunduk. “Seharusnya saya melakukannya jauh lebih dulu.”
“Iya.”
Mereka tidak memperhalus kenyataan. Rika menceritakan pilihannya berpisah sementara. Nisa tidak memberi nasihat apakah ia harus bertahan atau pergi.
“Mbak ingin apa untuk diri Mbak sendiri?” tanya Nisa.
Rika tersenyum sedih. “Aku bahkan belum tahu. Selama ini semua keinginanku cuma agar Dani berhenti selingkuh.”
“Mungkin enam bulan ini bisa dipakai untuk mencari tahu.”
Sebelum pulang, Rika menyerahkan gelang emas hadiah Dani yang dulu membuatnya luluh. “Aku tidak mau menyimpan ini. Tolong berikan kepada dia lewat sekolah.”
Nisa menolak. “Maaf, Mbak. Saya tidak mau lagi menjadi penghubung kalian. Lebih baik kirim melalui kakak atau pendamping.”
Rika menatapnya, lalu mengangguk. Batas tersebut tidak menyakiti; justru menunjukkan bahwa Nisa sungguh-sungguh keluar dari lingkaran mereka.
Setelah Rika pergi, Reza duduk di samping istrinya.
“Kamu masih punya perasaan kepada Pak Dani?” tanyanya.
Nisa menjawab setelah berpikir. “Kadang aku masih ingat hal baik dan merasa rindu. Tapi aku tidak ingin kembali. Perasaan bukan perintah.”
Kejujuran itu tidak nyaman bagi Reza. Ia menatap lantai cukup lama, lalu menggenggam tangan Nisa.
“Terima kasih sudah tidak berbohong.”
Nisa membalas genggamannya. Mereka belum sepenuhnya sembuh. Rika dan Dani juga belum mengetahui akhir pernikahan mereka. Namun semua orang akhirnya mulai membuat pilihan tanpa memakai cinta sebagai alasan untuk mengambil hak orang lain.