Kontrakan yang dipilih Nisa dan Reza hanya memiliki satu kamar, ruang tengah sempit, dapur kecil, dan dua pintu yang saling berhadapan. Cat dindingnya tidak rata dan keran kamar mandi harus diputar kuat agar air mengalir. Namun ketika pemilik rumah menyerahkan kunci, Nisa merasa sedang menerima sesuatu yang tidak pernah diberikan rumah besar mertuanya: ruang untuk menentukan hidup sendiri.
“Si Bunda pasti bilang tempat ini kumuh,” kata Reza sambil menatap atap seng di belakang.
“Kalau Mas juga merasa tidak nyaman, kita bisa cari lagi.”
Reza menggeleng. “Tidak. Aku cuma sedang membayangkan omelannya.”
Mereka membayar uang muka menggunakan tabungan bersama. Reza menjual satu konsol permainan yang jarang dipakai untuk membeli kasur. Nisa menggunakan honor mengajarnya untuk membeli kompor dua tungku dan peralatan dapur sederhana.
Hari kepindahan tiba setelah empat kali sesi pendampingan. Bu Aisyah dan Pak Epi datang membawa beras, panci, serta beberapa lembar tirai. Riri membantu membersihkan kamar. Dari keluarga Reza hanya Toni dan Anggi yang hadir. Eneng mengaku sakit kepala dan menolak melihat tempat tersebut.
“Si Bunda masih marah,” ujar Toni.
Reza mengangkat kardus. “Reza tetap akan datang dan menelepon. Tapi Reza tinggal di sini.”
Toni mengangguk. “Ayah seharusnya melakukan hal seperti ini sejak dulu.”
“Maksud Ayah?”
“Belajar mengambil keputusan meski Bunda tidak suka.” Toni tersenyum kecut. “Ternyata Ayah juga masih belajar.”
Malam pertama di kontrakan berbeda dari malam pernikahan mereka. Tidak ada keluarga yang mengetuk pintu, tidak ada suara Eneng memberi perintah. Namun keheningan justru membuat kecanggungan semakin terasa.
Reza duduk di tepi kasur, sementara Nisa merapikan buku di rak plastik. Keduanya tahu ada soal kedekatan suami istri yang belum terselesaikan.
“Nis,” panggil Reza. “Tentang malam pertama, aku minta maaf. Aku langsung memaksa tanpa bertanya.”
Nisa berhenti. “Aku juga seharusnya bicara, bukan hanya menendang.”
“Tendangannya sakit sekali.”
Nisa menahan senyum. “Maaf.”
“Kita tidak harus melakukan apa-apa malam ini,” lanjut Reza. “Aku ingin menunggu sampai kamu siap.”
Sikap itu membuat dada Nisa menghangat. Bukan karena rayuan, melainkan karena Reza akhirnya melihat persetujuannya sebagai sesuatu yang penting.
“Terima kasih,” jawabnya.
Mereka tidur dengan jarak di tengah kasur. Menjelang subuh, Nisa terbangun dan menemukan Reza meringkuk tanpa selimut. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh suaminya. Gerakan kecil tersebut membangunkan Reza.
“Kamu kedinginan?” tanyanya.
“Mas yang mengambil selimut.”
“Oh.” Reza buru-buru membagi selimut. “Maaf.”
Keduanya tertawa pelan. Kehangatan pertama mereka lahir tanpa paksaan.
Kehidupan mandiri tidak langsung berjalan rapi. Reza beberapa kali lupa mencuci piring sesuai jadwal. Nisa suka menyimpan kekesalan lalu meledak atas perkara kecil. Mereka kembali kepada pendamping setiap dua minggu, belajar mengutarakan kebutuhan tanpa menyerang.
Pada akhir pekan pertama, mereka membuka semua catatan pengeluaran. Reza terkejut melihat biaya listrik, air, transportasi, dan bahan makanan menghabiskan sebagian besar gaji. Selama tinggal bersama orang tua, ia selalu mengira uang bulanan hanya digunakan untuk kesenangan pribadi. Nisa mengajarinya membuat pos kebutuhan, sedangkan Reza mengusulkan tabungan darurat. Mereka sepakat tidak membeli barang dengan cicilan tanpa persetujuan keduanya.
“Ternyata jadi mandiri mahal, ya,” keluh Reza.
“Makanya dari dulu aku bilang kita harus menghitung.”
“Aku pikir si Ayah akan selalu bantu.”
“Bantuan boleh diterima, tapi hidup kita tidak boleh bergantung pada ancaman akan ditariknya bantuan.”
Reza mencoret rencana membeli ponsel baru. Keputusan kecil itu membuat Nisa percaya bahwa ia sungguh belajar membedakan kebutuhan dan keinginan.
“Aku kesal ketika pulang dan piring masih menumpuk,” kata Nisa suatu malam.
“Aku capek bekerja.”
“Aku juga bekerja.”
Reza menahan jawaban lama bahwa pekerjaan Nisa hanya guru honorer. Ia menarik napas. “Baik. Aku cuci sekarang. Besok kita atur ulang jadwal.”
Kemajuan mereka diuji ketika Eneng datang tanpa kabar. Ia membawa sekantong bahan makanan, selimut mahal, dan wajah jijik saat melihat kamar mandi.
“Astaga, Reza tinggal seperti ini?” keluhnya.
“Tempat ini bersih, Bun,” jawab Reza.
Eneng membuka lemari, memeriksa dapur, lalu menyindir masakan Nisa yang dianggap terlalu asin. Nisa masih berusaha sabar sampai mertuanya menyatakan akan meminta pemilik rumah membuatkan kunci cadangan.
“Tidak perlu, Bun,” kata Nisa.
“Biar Bunda bisa datang kalau kalian tidak ada.”
“Kami tidak memberikan kunci kepada siapa pun.”
“Bunda ini orang tua Reza!”
Reza berdiri di samping istrinya. “Kalau Bunda mau datang, kabari dulu. Rumah ini milik kami selama kami menyewa.”
Wajah Eneng memerah. “Sekarang kamu kompak melawan Bunda?”
“Kami sedang membuat aturan rumah.”
Eneng mengambil tas dan pergi sambil menangis. Setelah pintu tertutup, Reza tampak goyah.
“Aku jahat gak, Nis?”
“Mas tidak mengusir. Mas hanya meminta Bunda memberi kabar.”
“Tapi dia menangis.”
“Orang menangis bukan selalu berarti kita salah.”
Reza duduk dan mengusap wajah. Nisa tidak menyuruhnya melupakan sang ibu. Ia menemani Reza menelepon malam itu, menanyakan keadaan Eneng tanpa mencabut batas yang sudah dibuat.
Beberapa hari kemudian, hasil pemeriksaan etik sekolah diumumkan. Dani dipindahkan sementara dari tugas yang membuatnya berhubungan langsung dengan Nisa dan diwajibkan mengikuti pembinaan. Nisa mendapat teguran tertulis atas perilaku masa lalunya, tetapi tetap diperbolehkan mengajar karena tidak ada pelanggaran baru setelah ia menikah.
“Kamu kecewa?” tanya Reza ketika membaca surat tersebut.
“Malu. Tapi aku memang punya bagian dalam kesalahan.”
Reza mengembalikan surat. “Aku masih cemburu dan marah. Tapi aku senang kamu tidak menyembunyikan.”
Nisa menatapnya. “Mas boleh berubah pikiran kapan saja mengenai pernikahan ini.”
“Aku tahu. Kamu juga boleh.”
Malam itu mereka memasak bersama. Nasi terlalu lembek dan sayur hampir gosong, tetapi tidak ada yang menyalahkan. Setelah makan, Reza mencuci piring tanpa diminta. Nisa mengeringkannya di sisi wastafel.
Kontrakan tersebut masih terasa asing. Mereka belum tahu apakah akan tinggal bertahun-tahun atau hanya beberapa bulan. Namun dua pintunya kini memiliki aturan sederhana: siapa pun boleh datang dengan hormat, dan siapa pun boleh pergi tanpa ditahan oleh ancaman.
Untuk pertama kalinya, Nisa tidak menjadikan pernikahan sebagai kurungan ataupun pelarian. Ia mulai melihatnya sebagai pekerjaan yang dikerjakan dua orang, setiap hari, dengan pilihan yang harus terus diperbarui.