Pertemuan pendampingan pertama berlangsung tanpa kedua keluarga. Nisa dan Reza duduk berseberangan di sebuah ruang sederhana milik lembaga konsultasi pernikahan. Di antara mereka ada meja kecil dan dua gelas air yang tidak disentuh.
Pendamping meminta keduanya menuliskan alasan menikah. Nisa menulis ingin melupakan Dani, memenuhi harapan orang tua, dan membangun keluarga yang halal. Reza menulis ingin memiliki istri yang mengurusnya, membahagiakan Bunda, dan segera mempunyai anak.
Ketika jawaban dibacakan, keduanya sama-sama malu. Tak satu pun alasan itu berbicara tentang mengenal pasangan sebagai manusia.
“Kalian tidak harus mempertahankan pernikahan hanya agar orang lain tidak bergunjing,” kata pendamping. “Tapi kalian juga tidak harus buru-buru mengakhirinya hanya karena kenyataan pertama tidak sesuai harapan. Pertanyaannya, apakah kalian bersedia belajar?”
Nisa menatap Reza. “Aku bersedia kalau Mas juga mau jujur dan mandiri.”
Reza meremas jemarinya. “Aku masih sakit hati soal Pak Dani.”
“Aku mengerti.”
“Setiap lihat kamu pegang ponsel, aku curiga.”
“Kamu boleh bertanya. Tapi kamu tidak boleh merampas atau memeriksa diam-diam.”
Pendamping meminta mereka menyusun batas bersama. Nisa menawarkan keterbukaan mengenai pesan Dani dan proses pemeriksaan sekolah. Sebaliknya, Reza harus berhenti melaporkan pertengkaran kepada Eneng sebelum berbicara langsung dengan istrinya.
“Kalau si Bunda bertanya?”
“Katakan ini urusan kita,” jawab Nisa.
Reza tampak ketakutan hanya membayangkannya. Sejak kecil, semua keputusan dibuat sang ibu: sekolah, pekerjaan, pakaian, bahkan perempuan yang dinikahi. Ketika diberi pilihan, ia merasa seperti berdiri tanpa kaki.
“Aku tidak tahu caranya,” akunya.
“Belajar,” kata pendamping. “Menjadi dewasa bukan berarti berhenti menyayangi orang tua. Artinya bersedia menanggung akibat keputusan sendiri.”
Setelah pertemuan, Reza mengajak Nisa makan siang. Ia memilih tempat tanpa menelepon Eneng, sebuah keputusan kecil yang membuat dirinya berkali-kali memeriksa ponsel.
“Si Bunda sudah telepon enam kali,” katanya.
“Mau dijawab?”
“Nanti setelah kita selesai bicara.”
Nisa mengangguk. Untuk pertama kalinya ia melihat Reza berusaha, bukan hanya mengulang janji.
“Kenapa kamu menerima perjodohan ini?” tanya Reza.
“Karena aku ingin lari dari perasaan kepada Mas Dani. Juga karena Bapak dan Ibu bilang kamu lelaki baik.”
“Aku memang baik.”
Nisa hampir tertawa. “Mas belum selesai mendengar.”
Reza tersipu. “Lanjut.”
“Aku salah menggunakan pernikahan sebagai obat. Aku juga salah tidak menceritakan masa lalu. Tapi sekarang aku ingin tahu, selain karena ingin diurus, kenapa Mas mau bertahan?”
Reza berpikir cukup lama. “Aku suka kamu bicara soal buku. Aku suka kamu tetap mengajar meski gajinya kecil. Dan... aku malu mengaku ini, tapi aku ingin bisa seperti kamu yang berani punya pendapat.”
Jawaban itu tidak romantis, tetapi terasa lebih jujur daripada panggilan sayang yang berkali-kali ia kirim sebelum menikah.
“Kalau kita mencoba lagi, kita tinggal di mana?” tanya Nisa.
“Si Ayah dan si Bunda sudah janji memberi rumah.”
“Rumah itu akan atas nama siapa? Dan apakah Bunda tetap punya kunci?”
Reza terdiam. Ia tidak pernah memikirkan pertanyaan tersebut.
Malamnya, ia mengajak Toni dan Eneng bicara. Nisa tidak ikut. Ini merupakan batas pertama yang harus disampaikan Reza sendiri.
“Reza mau kembali sama Nisa setelah pendampingan selesai,” katanya.
Eneng langsung berdiri. “Bunda tidak setuju!”
“Reza dengar. Tapi keputusan ini punya Reza.”
“Kamu berani melawan Bunda gara-gara perempuan itu?”
Tangan Reza berkeringat. Ia nyaris meminta maaf dan menarik ucapan, kebiasaan yang selalu membuat rumah kembali tenang. Namun ia teringat lembar alasan menikahnya. Kalau terus menyerah, ia tidak pernah menjadi suami.
“Reza tidak melawan. Reza tetap anak Bunda. Tapi Nisa juga istri Reza.”
“Dia sudah menipu kamu!”
“Iya, dan Reza marah. Itu masalah yang harus kami selesaikan. Bukan Bunda.”
Eneng menangis, menuduh putranya berubah setelah menikah. Toni duduk diam seperti biasanya. Reza menoleh kepada ayahnya.
“Ayah, bilang sesuatu.”
Toni tersentak. Selama puluhan tahun ia menghindari perselisihan dengan mengikuti Eneng. Kini anaknya meminta contoh yang tidak pernah diberikan.
“Bunda,” katanya pelan, “biarkan Reza memutuskan.”
Eneng memandang suaminya tidak percaya. “Ayah juga membela dia?”
“Ayah membela hak anak kita untuk menjalani rumah tangganya.”
Perdebatan berlangsung panjang. Pada akhirnya Eneng masuk kamar dan membanting pintu. Tidak ada restu hangat, tetapi Reza berhasil mengucapkan keputusannya tanpa mencabut kembali.
Keesokan hari ia mencari kontrakan. Harga dan keadaan tempat-tempat yang dilihat membuatnya sadar perkataan Nisa tentang kemandirian bukan perkara sederhana. Gajinya memang terbatas. Ia juga baru menyadari berapa banyak kebutuhan selama ini dibayar orang tua.
Reza membuat daftar pengeluaran bersama Nisa. Mereka memutuskan mencari rumah kecil di tengah jarak tempat kerja keduanya. Nisa menolak rumah hadiah orang tua Reza bila kepemilikannya digunakan untuk mengendalikan keputusan mereka.
“Kita mulai dari kontrakan saja,” kata Reza. “Mungkin sempit.”
“Aku tidak masalah sempit kalau kita sama-sama punya suara.”
“Tapi aku belum pandai mengurus rumah.”
“Aku juga bukan pembantu. Kita belajar bersama.”
Mereka menyusun pembagian tugas. Reza belajar mencuci pakaian, memasak nasi, dan membersihkan kamar mandi. Hasil pertamanya berantakan. Ia menuangkan terlalu banyak sabun ke mesin cuci sampai busa memenuhi lantai.
Anggi merekam kejadian itu sambil tertawa. Eneng yang keluar kamar hendak mengambil alih, tetapi Reza menghentikannya.
“Biar Reza bersihkan sendiri, Bun.”
Ia mengepel lantai hampir satu jam. Tubuhnya berkeringat dan pinggangnya sakit. Baru saat itu ia memahami pekerjaan yang selama ini dianggap kewajiban sederhana perempuan.
Pada pertemuan pendampingan kedua, Reza datang membawa daftar rumah kontrakan dan anggaran. Nisa membaca dengan mata berkaca-kaca.
“Aku belum memaafkan semuanya,” katanya. “Dan aku tahu Mas juga belum.”
“Kita tidak harus pura-pura sudah selesai.”
“Mas yakin mau mencoba?”
Reza mengangguk. “Aku ingin menjadi suamimu, bukan hanya anak Bunda yang kebetulan menikah.”
Untuk pertama kalinya sejak akad, Nisa melihat kemungkinan pernikahan mereka bukan sebagai jalan melupakan lelaki lain. Ia melihat dua orang yang sama-sama belum matang, tetapi bersedia belajar.
Mereka sepakat kembali hidup bersama setelah masa pendampingan berakhir—bukan di rumah Eneng dan bukan di rumah orang tua Nisa, melainkan di kontrakan kecil yang dipilih berdua.