Ancaman Nisa tidak membuat Dani berhenti. Dua hari kemudian, sebuah pesan masuk melalui akun media sosial yang jarang dipakainya.
Aku tahu kamu sebenarnya masih cinta. Reza tidak pantas untukmu. Temui aku sekali saja.
Nisa tidak menjawab. Ia mengambil tangkapan layar, lalu menyimpannya bersama pesan-pesan lain. Riri menyarankan agar bukti tersebut benar-benar dikirim kepada Rika.
“Aku takut rumah tangga mereka semakin rusak,” kata Nisa.
“Yang merusak adalah tindakan Dani, bukan kebenaran yang kamu sampaikan.”
“Tapi Mbak Rika pasti semakin membenciku.”
“Mungkin. Bertanggung jawab bukan jaminan langsung dimaafkan.”
Nisa memahami itu. Setelah mengumpulkan keberanian, ia menghubungi Rika dan meminta bertemu di tempat terbuka. Rika semula menolak, mengira Nisa hendak merebut Dani setelah rumah tangganya sendiri bermasalah. Namun ketika Nisa mengatakan ada bukti bahwa Dani masih menghubunginya, perempuan itu setuju.
Mereka bertemu di sebuah rumah makan dekat sekolah. Rika datang dengan wajah dingin dan duduk tanpa menyentuh minuman.
“Mau apa lagi?” tanyanya.
Nisa menyerahkan ponsel. “Mas Dani masih menghubungi saya. Saya sudah memblokir semua nomor dan tidak pernah mengajaknya bertemu.”
Rika membaca pesan satu per satu. Jemarinya gemetar, tetapi wajahnya tidak berubah.
“Kenapa kamu menunjukkan ini?”
“Karena dulu saya ikut berbohong. Saya membiarkan Mbak berpikir hubungan itu sudah berakhir, padahal saya masih membalasnya. Sekarang saya ingin benar-benar berhenti.”
“Setelah kamu menikah dan ketahuan suamimu?”
Nisa menerima sindiran tersebut. “Iya, saya terlambat. Mungkin kalau tidak ketahuan, saya masih terus mencari alasan. Itu bagian paling buruk yang harus saya akui.”
Rika meletakkan ponsel dengan keras. “Kamu tahu berapa kali dia melakukan ini? Kamu bukan yang pertama.”
“Saya tahu ada tiga perempuan sebelum saya.”
“Kamu tahu, tapi tetap masuk?”
Air mata Nisa jatuh. “Saya pikir hubungan kami berbeda. Mas Dani bilang tidak pernah mencintai mereka seperti mencintai saya.”
Rika tertawa getir. “Dia mengatakan kalimat yang sama kepada semuanya.”
Keduanya terdiam. Untuk pertama kalinya Nisa melihat Dani bukan melalui rayuan yang diberikan, melainkan pola yang berulang. Lelaki itu membuat setiap perempuan merasa istimewa, kemudian bersembunyi di balik pengampunan istrinya.
“Saya minta maaf,” kata Nisa. “Saya tidak meminta Mbak memaafkan. Saya hanya ingin mengatakan bahwa semua tuduhan Mbak dulu benar. Saya menyakiti Mbak.”
Rika menahan tangis. “Aku membencimu. Tapi aku lebih membenci kenyataan bahwa setelah semua ini, aku masih berharap dia berubah.”
“Mbak tidak harus memutuskan apa pun hari ini.”
“Jangan menasihatiku.”
“Maaf.”
Rika mengambil foto seluruh bukti menggunakan ponselnya. Sebelum pergi, ia berhenti di samping meja.
“Kalau dia menghubungimu lagi, jangan hanya kirim ke aku. Laporkan ke kepala sekolah. Dia menggunakan pekerjaannya untuk mendekati perempuan dan berbohong.”
Nisa mengangguk. “Saya akan lakukan.”
Malam itu, Rika menunggu Dani pulang. Lelaki itu datang membawa makanan dan bersikap seolah tidak ada masalah. Ia mencium kening istrinya, lalu bertanya mengapa rumah begitu sunyi.
Rika meletakkan hasil cetak tangkapan layar di meja.
Wajah Dani langsung pucat. “Ini dari mana?”
“Nisa.”
“Dia menjebakku, Sayang. Dia yang terus menghubungi aku.”
“Pesan ini dikirim dari nomor dan akunmu.”
“Bisa saja dibuat-buat.”
Rika membuka rekaman layar yang menunjukkan akun tersebut terhubung dengan profil Dani. “Masih mau bohong?”
Dani duduk. Seperti biasa, ia mulai meminta maaf dan mengatakan hanya khawatir karena mendengar pernikahan Nisa bermasalah. Ia menyalahkan rasa kasihan, keadaan, bahkan Nisa yang dianggap memberi harapan hanya karena pernah menjawab satu panggilan.
“Empat kali,” kata Rika pelan. “Empat kali kamu tertangkap, dan setiap kali kamu punya alasan baru.”
“Aku cinta sama kamu.”
“Cinta yang terus membuatku memeriksa ponsel dan takut setiap kamu pergi kerja bukan cinta yang ingin kujalani lagi.”
Dani meraih tangannya, tetapi Rika mundur. “Aku sudah menghubungi kakakku. Besok aku pergi untuk sementara.”
“Kamu mau cerai?”
“Aku mau berpikir tanpa rayuanmu.”
“Jangan, Sayang. Aku bisa berubah.”
“Kalau kamu ingin berubah, lakukan meski aku tidak kembali.”
Kalimat itu menghentikan Dani. Selama ini ia selalu berubah beberapa minggu hanya agar Rika tetap tinggal. Setelah situasi tenang, kebiasaan lama kembali.
Keesokan hari, berita mengenai persoalan mereka sampai ke sekolah. Bukan karena Nisa atau Rika menyebarkannya, melainkan Siti yang mendengar pertengkaran Dani melalui telepon dan menceritakannya kepada beberapa guru. Ironisnya, perempuan yang pernah menawarkan diri menjadi kekasih gelap justru paling bersemangat menghakimi.
“Saya sudah tahu Pak Dani tidak akan berubah,” katanya di kantor.
Deden menatapnya tajam. “Bu Siti juga pernah menawarkan diri kepadanya. Jangan pura-pura paling benar.”
Siti kehilangan kata-kata. Kepala sekolah yang mendengar keributan memanggil Dani, Siti, dan Nisa secara terpisah. Nisa menyerahkan bukti pesan, sekaligus mengakui bahwa dahulu ia ikut menjalin hubungan tersebut.
“Saya siap menerima konsekuensi,” katanya. “Tapi saya juga meminta agar Pak Dani berhenti menghubungi saya.”
Kepala sekolah memutuskan melakukan pemeriksaan etik. Dani dilarang berhubungan pribadi dengan Nisa selama proses berlangsung. Siti mendapat teguran karena menyebarkan informasi pribadi dan membuat lingkungan kerja tidak sehat.
Keluar dari ruangan, Wahyu menunggu di lorong. Nisa bersiap menghadapi komentar, tetapi lelaki itu justru menundukkan kepala.
“Saya mau minta maaf,” katanya. “Dulu saya juga memaksa perasaan saya ke Ibu sampai melakukan hal bodoh dengan dukun. Saya pikir karena suka, saya berhak terus mengejar.”
Nisa terkejut. “Kenapa baru sekarang?”
“Saya lihat semua masalah ini. Ternyata memaksa seseorang tidak pernah jadi cinta.”
“Saya maafkan kalau Bapak benar-benar berhenti.”
Wahyu mengangguk. “Saya akan berhenti.”
Hari itu Nisa pulang dengan perasaan berat, tetapi tidak lagi sembunyi-sembunyi. Rika mungkin meninggalkan Dani. Reza mungkin menceraikannya. Pekerjaannya mungkin menerima dampak. Semua akibat tersebut menakutkan.
Namun untuk pertama kalinya, kebenaran sudah sampai kepada orang-orang yang berhak mengetahuinya.
Kebenaran itu memang tidak langsung membawa ketenangan. Namun malam tersebut Nisa dapat meletakkan ponsel tanpa menunggu pesan rahasia. Rasa kehilangan masih ada, hanya saja ia tidak lagi menyebutnya cinta yang harus diperjuangkan. Ia mengenalinya sebagai kebiasaan buruk yang harus diputus sedikit demi sedikit.