Bu Aisyah menyuruh Riri dan suaminya masuk, kemudian membangunkan Pak Epi. Wajah kedua orang tua Nisa berubah ketika mendengar putrinya diusir pada malam kedua pernikahan. Mereka belum mengetahui penyebabnya, sementara Nisa terus menangis di ruang tamu dengan koper berdiri di sampingnya.
“Reza memukulmu?” tanya Pak Epi tegang.
“Tidak, Pak.”
“Mertuamu?”
Nisa menggeleng. “Mereka tahu tentang Mas Dani.”
Nama itu membuat Bu Aisyah mengerutkan dahi. Selama ini Nisa tidak pernah menceritakan hubungan terlarangnya kepada keluarga. Ia hanya mengatakan bahwa ada lelaki yang pernah dekat, lalu hubungan itu berakhir.
“Mas Dani siapa?” tanya ibunya.
Nisa memandang Riri. Sahabatnya tidak menyelamatkan dengan jawaban, hanya menggenggam tangannya agar ia sanggup berkata jujur.
Nisa menceritakan semuanya. Ia mengaku mencintai suami orang, melakukan panggilan video tidak pantas, bertemu diam-diam, dan tetap membalas pesan meski sudah diperingatkan Rika. Ia juga mengatakan Dani menelepon malam tadi, lalu memperlihatkan bahwa nomor tersebut telah diblokir.
Pak Epi berdiri dan berjalan ke teras. Kekecewaan di wajahnya lebih menyakitkan daripada bentakan. Bu Aisyah menutup mulut, air matanya jatuh.
“Delapan tahun Ibu menyekolahkanmu di pesantren,” katanya. “Kenapa kamu melakukan itu?”
“Nisa tidak punya alasan, Bu. Nisa salah.”
“Dan kamu menikah tanpa bilang kepada Reza?”
“Nisa takut semuanya batal.”
Bu Aisyah menggeleng. “Pernikahan yang dibangun di atas ketakutan memang akan mudah goyah.”
Nisa menunduk. Ia tidak berharap langsung dimaafkan. Setidaknya, di rumah itu, kesalahannya dibicarakan tanpa tubuhnya dirampas, tanpa ia disebut barang rusak.
Pak Epi kembali masuk setelah cukup lama. “Bapak kecewa. Tapi Bapak juga salah karena mendesakmu menikah. Bapak mengira pernikahan dapat menyelesaikan semua masalah tanpa pernah bertanya apa yang sedang kamu bawa.”
“Nisa sendiri yang setuju, Pak.”
“Iya. Berarti kita semua harus bertanggung jawab pada pilihan masing-masing.”
Mereka sepakat tidak mengambil keputusan sebelum kedua keluarga bertemu. Nisa beristirahat di kamar lamanya. Tempat itu terasa akrab, tetapi dirinya tidak lagi sama. Di meja ada buku-buku agama yang pernah dibaca, seolah mengingatkan bahwa pengetahuan tidak berarti apa-apa bila tidak dihidupkan dalam tindakan.
Pagi harinya, telepon Bu Aisyah berdering. Eneng berbicara begitu keras sampai Nisa dapat mendengarnya dari dapur. Ia menyebut keluarga Nisa telah menipu, lalu menuntut seluruh biaya pernikahan dikembalikan bila Nisa dan Reza bercerai.
Bu Aisyah memegang ponsel dengan tangan gemetar. Pak Epi mengambil alih.
“Kita bicara langsung siang nanti,” katanya. “Jangan menghina anak saya lewat telepon.”
“Anak Bapak yang mempermalukan keluarga kami!” balas Eneng.
“Nisa salah dan kami tidak menutupinya. Tapi Reza juga suaminya. Mereka perlu bicara, bukan hanya mengikuti kemarahan kita.”
Panggilan berakhir tanpa kesepakatan. Menjelang siang, keluarga Reza datang bersama Bu Wawat. Reza duduk diapit orang tuanya, sedangkan Nisa berada di samping Bapak dan Ibu. Riri diminta hadir sebagai orang yang membawa Nisa pulang.
Eneng langsung meletakkan sejumlah kuitansi di meja. “Ini semua biaya yang kami keluarkan.”
“Bun, kita belum memutuskan cerai,” kata Reza pelan.
“Kamu masih mau sama perempuan seperti itu?”
Nisa mengangkat wajah. “Bunda boleh marah, tapi jangan menyebut Nisa seolah Nisa bukan manusia.”
“Lihat! Masih berani melawan.”
Bu Wawat mencoba menenangkan adiknya. Ia mengaku seharusnya tidak hanya menjanjikan kebaikan kedua keluarga tanpa memberi calon pasangan kesempatan saling mengenal lebih dalam.
“Kita terlalu ingin perjodohan ini berhasil,” katanya. “Padahal yang akan hidup bersama adalah mereka.”
Pak Epi menoleh kepada Reza. “Apa yang kamu inginkan?”
Reza membuka mulut, tetapi matanya lebih dahulu mencari Eneng. “Aku... terserah si Bunda.”
“Nah, dengar sendiri!” seru Eneng.
Nisa merasakan sisa harapan di dadanya runtuh. “Mas, aku bertanya kepada Mas Reza, bukan Bunda.”
“Aku bingung, Nis.”
“Aku mengerti kamu marah. Aku siap menjawab pertanyaan dan menerima kalau kamu butuh waktu. Tapi aku tidak bisa menjalani pernikahan dengan keputusan yang selalu dibuat Bunda.”
Reza menunduk. “Aku dari dulu memang selalu sama si Bunda.”
“Sekarang kamu sudah menjadi suami.”
“Terus aku harus durhaka?”
“Mandiri bukan durhaka,” sahut Pak Epi. “Menghormati orang tua tidak berarti menyerahkan seluruh tanggung jawab.”
Toni yang sejak tadi diam tampak tersentak. Kalimat itu juga mengenai dirinya, seorang kepala keluarga yang selalu membiarkan Eneng menentukan segalanya agar rumah tetap tenang.
Pertemuan berlangsung panjang. Akhirnya mereka menyepakati masa tenang selama dua pekan. Nisa tinggal bersama orang tuanya, Reza kembali ke rumahnya. Keduanya harus bertemu dengan pendamping pernikahan yang dipilih bersama, bukan kerabat salah satu pihak.
“Kalau setelah itu Reza mau bercerai, Nisa akan menerima,” kata Nisa. “Tapi keputusan harus keluar dari mulut Reza sendiri.”
Eneng menolak, tetapi kali ini Toni meminta istrinya diam. “Biarkan anak kita belajar memutuskan.”
Setelah keluarga Reza pulang, Nisa menemukan satu pesan dari nomor baru.
Dani: Aku dengar kamu pulang ke rumah orang tuamu. Aku bisa menemuimu.
Nisa menatap layar dengan marah. Belum sehari nomor itu diblokir, Dani sudah mencari jalan lain. Ia mengambil tangkapan layar, lalu mengirim satu jawaban.
Jangan hubungi saya lagi. Kalau Mas tetap melakukannya, semua pesan akan saya kirim kepada Mbak Rika.
Setelah itu nomor kembali diblokir. Nisa menyerahkan ponsel kepada Riri agar sahabatnya mengetahui tindakannya.
“Aku tidak mau bersembunyi lagi,” katanya.
Riri mengangguk. “Sekarang jangan cuma memutus Dani. Cari tahu kenapa kamu terus kembali setiap kali merasa sendiri.”
Pertanyaan tersebut mengikuti Nisa sampai malam. Ia menyadari bahwa hubungan dengan Dani bukan hanya soal cinta pertama. Dani membuatnya merasa dipilih, diinginkan, dan diperhatikan ketika dirinya tidak mampu memberikan semua itu kepada diri sendiri.
Untuk pertama kalinya, Nisa berdoa bukan agar Reza kembali atau Dani melupakannya. Ia meminta keberanian untuk melihat dirinya dengan jujur, meski jawaban yang ditemukan tidak indah.
Seusai berdoa, ia membuka buku catatan dan menuliskan semua keputusan yang harus dibuat tanpa bersembunyi di balik kehendak orang lain. Ia akan mengikuti pendampingan, menjaga jarak dari Dani, dan tidak memohon Reza bertahan. Bila pernikahan itu diselamatkan, keduanya harus memilihnya dengan sadar.