Nisa membeku di dekat pintu kamar mandi. Wajah Reza yang biasanya terlihat kekanak-kanakan kini penuh kecurigaan. Ponsel di tangan Nisa masih menampilkan pemberitahuan bahwa nomor Dani sudah diblokir.
“Teman,” jawab Nisa spontan.
“Teman siapa? Kenapa harus teleponan di kamar mandi?”
Kebohongan itu terasa pahit sebelum sempat tumbuh lebih besar. Nisa duduk di kursi dekat meja, menjaga jarak dari suaminya.
“Orang dari masa lalu,” katanya. “Dia menelepon, tapi sudah aku blokir.”
Reza bangkit dan meraih ponselnya. “Coba lihat!”
Nisa menarik tangannya. “Jangan merebut.”
“Kalau gak ada apa-apa, kenapa takut?”
“Aku tidak takut. Tapi ponsel ini milikku. Mas bisa bertanya tanpa memaksa.”
Suara mereka membangunkan Eneng. Pintu kamar langsung terbuka tanpa ketukan. Toni menyusul dari belakang dengan wajah mengantuk.
“Ada apa ini?” tanya Eneng.
“Nisa teleponan sama lelaki di kamar mandi, Bun!” lapor Reza.
Nisa memejamkan mata sejenak. Bahkan persoalan pertama mereka sebagai pasangan langsung dibawa ke hadapan orang tua.
“Lelaki siapa?” Eneng mendekat tajam. “Baru menikah sudah macam-macam?”
“Bunda, ini masalah kami berdua,” jawab Nisa.
“Reza anak Bunda. Semua masalahnya juga masalah Bunda.”
Toni meminta ponsel Nisa diperiksa. Nisa menolak dan berdiri tegak meski lututnya gemetar.
“Nisa akan menjelaskan kepada Reza. Tapi bukan di depan semua orang dan bukan dengan ponsel dirampas.”
“Lihat, kan! Pasti ada yang disembunyikan,” seru Eneng.
“Bun, Yah, keluar dulu,” kata Reza tiba-tiba.
Semua orang terdiam, termasuk dirinya sendiri. Mungkin untuk pertama kalinya Reza meminta orang tuanya tidak ikut campur.
“Apa?” tanya Eneng tidak percaya.
“Reza mau dengar dari Nisa dulu.”
Eneng bersungut-sungut, tetapi Toni mengajaknya keluar. Pintu ditutup dengan keras. Keheningan yang tertinggal terasa lebih menekan.
Nisa membuka daftar nomor diblokir dan memperlihatkan nama Dani. Reza membaca nama itu, lalu memandang istrinya.
“Pak Dani yang datang ke nikahan kita?”
“Iya.”
“Kalian pernah pacaran?”
Nisa menggenggam ujung bajunya. “Kami pernah punya hubungan yang salah. Dia sudah menikah.”
Wajah Reza memerah. “Kamu selingkuhan suami orang?”
Kata itu menghantam, tetapi Nisa tidak berhak menyangkalnya. “Iya.”
“Kenapa kamu gak cerita sebelum kita nikah?”
“Aku takut pernikahan batal. Aku pikir semuanya sudah selesai dan aku bisa memulai lagi.”
“Jadi kamu nikah sama aku cuma buat melupakan dia?”
Nisa ingin mengatakan tidak, akan tetapi ingatannya sendiri membantah. Berkali-kali ia meyakinkan diri bahwa menikah dengan Reza akan menghapus Dani.
“Sebagian dari diriku memang berharap begitu,” akunya. “Itu tidak adil untuk Mas.”
Reza menendang sisi tempat tidur. “Aku ini apa? Obat?”
“Aku minta maaf.”
“Kalian pernah ngapain saja?”
Pertanyaan itu membuat Nisa pucat. “Aku tidak mau menjelaskan hal pribadi seperti daftar pemeriksaan. Yang perlu Mas tahu, hubungan itu melanggar batas dan aku menyesal.”
“Berarti banyak!”
“Kami tidak pernah berhubungan badan.”
“Tapi yang lain?”
Nisa menangis. Ia tidak ingin menutupi kesalahan, tetapi tatapan Reza membuatnya seperti terdakwa yang harus membuka seluruh tubuh dan harga diri. “Kami pernah melakukan panggilan video yang tidak pantas dan bertemu diam-diam. Aku salah.”
Reza berjalan mondar-mandir. Ia marah, malu, sekaligus terluka karena perempuan yang dianggap begitu terjaga ternyata menyimpan masa lalu yang tidak diketahuinya.
“Aku mau cerai,” katanya.
Nisa terhenak. Pernikahan mereka bahkan belum melewati dua malam. “Kalau itu keputusan Mas setelah tenang, aku terima. Tapi jangan ucapkan karena marah.”
Pintu kembali terbuka. Rupanya Eneng menguping dari luar. “Cerai? Memangnya dia melakukan apa?”
Reza menceritakan semuanya tanpa memberi kesempatan Nisa mencegah. Kalimatnya semakin dilebihkan, seolah Nisa masih menjalin hubungan hingga saat ini.
Eneng langsung menarik koper Nisa dari sudut kamar. “Keluar dari rumah ini!”
“Bun!” Toni mencoba menahan.
“Kita ditipu! Katanya anak pesantren, ternyata bekas selingkuhan suami orang!”
Nisa menahan tangis dan mengambil kopernya. Penghinaan itu menyakitkan, tetapi ia tidak ingin membalas dengan dusta. “Nisa memang bersalah karena menyembunyikan masa lalu. Tapi malam ini Nisa memutus hubungan itu. Nisa juga tidak akan menerima hinaan terus-menerus.”
“Pergi!”
Reza berdiri diam. Nisa menatapnya, berharap suaminya mengatakan sesuatu. Lelaki itu justru membuang wajah.
Nisa memasukkan pakaian sekadarnya. Ketika hendak keluar, Reza memegang lengan kirinya.
“Kamu mau ke mana?”
“Pulang ke rumah Bapak dan Ibu.”
“Jangan. Nanti orang kampung tahu kita ada masalah.”
“Jadi Mas ingin aku tetap di sini hanya agar tidak malu?”
Reza tidak mampu menjawab.
Nisa melepaskan tangannya. Di halaman, hujan turun tipis. Tidak ada kendaraan umum pada jam selarut itu. Ia menghubungi Riri, satu-satunya orang yang sanggup dimintai pertolongan tanpa menyembunyikan alasan.
Riri tiba hampir satu jam kemudian bersama suaminya. Begitu melihat koper dan wajah Nisa, ia tidak langsung bertanya. Ia memeluk sahabatnya, lalu memasukkan barang ke mobil.
“Kami bawa Nisa malam ini,” kata Riri kepada Toni yang berdiri di pintu. “Besok, kalau semua sudah tenang, keluarga bisa bicara.”
Eneng masih mencaci dari dalam. Reza tidak keluar.
Sepanjang perjalanan, Nisa menceritakan apa yang terjadi. Riri mendengarkan tanpa membenarkan perselingkuhan dan tanpa ikut merendahkan.
“Kamu memang salah menyembunyikan masa lalu dari Reza,” katanya. “Tapi kesalahanmu bukan izin bagi mereka mengusir dan mempermalukanmu.”
“Aku menikah karena ingin berubah, Ri.”
“Perubahan gak datang hanya karena akad. Kamu harus benar-benar memutus Dani dan bertanggung jawab kepada orang yang kamu sakiti.”
“Rika?”
Riri mengangguk. “Dan Reza. Tapi bertanggung jawab bukan berarti menerima semua perlakuan buruk.”
Ketika mereka sampai di rumah orang tua Nisa menjelang subuh, lampu teras masih mati. Nisa berdiri di depan pintu dengan rasa takut. Ia membayangkan kekecewaan Bapak dan Ibu, gunjingan tetangga, serta pernikahan yang mungkin berakhir bahkan sebelum undangan disimpan.
Riri menggenggam bahunya. “Ketuk.”
Nisa mengangkat tangan, tetapi sebelum menyentuh pintu, daun pintu terbuka. Bu Aisyah berdiri dengan mukena, terkejut melihat putrinya membawa koper.
“Nisa?”
Pertahanan Nisa runtuh. Ia jatuh berlutut dan memeluk kaki ibunya.
“Maafkan Nisa, Bu.”
Bu Aisyah tidak tahu kesalahan apa yang dimaksud. Namun ia segera duduk dan memeluk anaknya.
“Masuk dulu,” katanya. “Apa pun masalahnya, ini rumahmu.”