“Kok kamu hanya diam saja, Nis, kenapa?” pertanyaan dari ayah mertuanya membuyarkan lamunan Nisa.
Nisa mengangkat wajahnya, menatap Toni lalu Eneng secara bergantian. Ada banyak jawaban di dalam kepalanya, akan tetapi semuanya terasa tidak pantas diucapkan pada hari pertama berada di rumah mertua.
“Tidak apa-apa, Yah. Nisa hanya sedang mencoba memahami apa yang Bunda sampaikan,” jawabnya hati-hati.
“Memahami apa lagi? Bunda kan cuma ingin kamu belajar supaya keluarga kita tidak disepelekan orang,” sahut Eneng dengan nada sedikit tinggi.
“Iya, Bun. Tapi bagi Nisa, Bapak dan Ibu sudah memakai pakaian terbaik yang mereka punya. Mereka juga nyaman dan bahagia. Nisa tidak ingin memaksa.”
Eneng langsung mengembuskan napas panjang. “Nah, kan! Baru sehari jadi menantu sudah membantah.”
“Nisa tidak membantah, Bun.”
“Sama saja. Kalau orang tua bicara, seharusnya kamu bilang iya.”
Reza yang duduk di samping Nisa malah mengangguk. “Iya, Nis. Si Bunda itu lebih berpengalaman. Kamu ikuti saja.”
Nisa menatap suaminya tidak percaya. Ia berharap Reza paling tidak menjelaskan bahwa keluarga Nisa tidak bermaksud mempermalukan siapa pun. Akan tetapi lelaki itu justru terlihat lega karena Bunda mengambil alih pembicaraan.
Toni menepuk meja. “Sudahlah. Hari ini kalian baru datang. Nisa pasti lelah. Anggi, tolong antarkan barang kakakmu ke kamar.”
Anggi yang sejak tadi sibuk dengan ponsel hanya melirik. “Kenapa aku? Kan barangnya punya Kak Reza.”
“Biar Reza istirahat,” jawab Eneng cepat.
Nisa hampir tertawa getir. Ia yang menempuh perjalanan dengan barang bawaan sama banyaknya tidak dianggap membutuhkan istirahat. Akhirnya ia mengangkat dua tas besar sendiri, sementara Reza membawa satu bantal kesayangannya.
Kamar Reza berada di lantai dua. Ruangannya luas, dipenuhi poster, koleksi permainan, dan lemari pakaian yang hampir tidak menyisakan tempat untuk barang Nisa. Di atas meja bahkan masih ada gelas kotor dan bungkus makanan.
“Yang, masukin bajumu di lemari kecil itu saja, ya,” kata Reza sambil menunjuk lemari plastik dekat pintu kamar mandi.
“Bukannya tadi Bunda bilang rumah ini besar?”
“Iya, memang besar.”
“Tapi tempat untuk aku cuma lemari plastik?”
Reza menggaruk kepala. “Nanti aku bilang ke si Bunda deh. Sekarang bantu rapikan barangku dulu, ya. Aku mau tidur sebentar.”
Belum sempat Nisa menjawab, lelaki itu sudah merebahkan tubuh di tempat tidur. Dalam hitungan menit, dengkurannya terdengar.
Nisa berdiri di tengah kamar dengan koper masih tertutup. Hanya sehari setelah pernikahan, ia mulai melihat sesuatu yang selama masa perkenalan ditutupi oleh panggilan sayang dan janji manis. Reza memang tidak kasar seperti Dani, tetapi ia juga tidak pernah belajar mengurus dirinya sendiri.
Nisa membuka jendela agar udara masuk. Ponselnya bergetar di dalam tas. Nama Dani muncul pada layar.
Mas Dani: Sudah sampai rumah mertua? Kamu baik-baik saja?
Jantung Nisa berdebar. Ia sudah berjanji pada diri sendiri untuk menghentikan semuanya setelah menikah. Namun perhatian sederhana itu datang tepat ketika ia merasa sendirian.
Nisa mengetik jawaban, lalu menghapusnya. Mengetik lagi, kemudian mematikan layar. Ia tahu satu balasan dapat membuka pintu yang susah payah hendak ditutup.
“Nisa!” suara Eneng terdengar dari bawah. “Bantu Bunda di dapur!”
Nisa meletakkan ponsel dan turun. Di dapur, piring bekas makan siang menumpuk. Eneng menyuruhnya mencuci, menyapu, lalu menyiapkan teh untuk Toni.
“Reza biasanya minum susu hangat sore-sore,” ujar Eneng. “Jangan terlalu panas. Gulanya satu sendok saja. Terus kalau malam, pakai air dari pemanas khusus karena kulitnya sensitif.”
Nisa berusaha mengingat semua pesan tersebut. “Apa Reza tidak bisa menyiapkan sendiri, Bun?”
Sendok di tangan Eneng berhenti. “Untuk apa menikah kalau masih mengerjakan semuanya sendiri?”
“Menikah kan saling membantu.”
“Lho, Bunda juga membantu Ayah dari dulu. Makanya rumah tangga kami bertahan. Jangan terlalu banyak teori dari sekolah dan pesantren. Praktiknya beda.”
Nisa memilih diam. Namun kali ini ia sadar diamnya akan dianggap persetujuan. Ia mengeringkan tangan, kemudian menatap mertuanya.
“Nisa akan membantu Reza sebagai istri. Tapi Nisa juga bekerja dan masih kuliah. Nisa tidak bisa mengerjakan seluruh kebutuhan Reza sendirian.”
Eneng menyipitkan mata. “Kamu guru honorer saja, kan? Gajinya juga tidak seberapa.”
Ucapan itu menampar harga diri Nisa. “Sedikit atau banyak, pekerjaan Nisa tetap tanggung jawab.”
Toni masuk saat suara mereka mulai meninggi. Alih-alih menengahi, ia bertanya mengapa tehnya belum dibuat. Eneng langsung menunjuk Nisa seolah baru menemukan bukti bahwa menantunya tidak cakap.
“Lihat, Yah. Baru disuruh buat teh saja sudah banyak alasan.”
Nisa menarik napas. Ia membuat teh tanpa berkata-kata lagi. Bukan karena menyerah, melainkan karena tahu perdebatan di tengah emosi tidak akan menghasilkan apa pun.
Malamnya, Reza bangun dan langsung mengeluh lapar. Nisa mengatakan makanan ada di dapur.
“Ambilin dong, Yang.”
“Aku sedang menyelesaikan tugas kuliah.”
“Sebentar saja.”
“Mas bisa ambil sendiri.”
Wajah Reza berubah. “Kok kamu jadi galak? Si Bunda benar, ya. Kamu baru sehari sudah melawan.”
Nisa menutup laptop. “Aku bukan melawan. Aku ingin kita bicara. Kenapa setiap ada masalah, Mas langsung lapor Bunda?”
“Karena si Bunda lebih tahu.”
“Tapi yang menikah itu kita.”
Reza menghela napas dan berbaring lagi. “Sudahlah, aku capek.”
“Aku juga capek.”
“Ya sudah, berarti kita tidur.”
Percakapan berakhir begitu saja. Nisa menatap punggung suaminya dan merasakan kesepian yang berbeda. Ketika bersama Dani, ia kesepian karena tidak pernah menjadi pilihan utama. Kini, di samping suami sendiri, ia kesepian karena suaranya tidak didengar.
Ponselnya kembali menyala. Dani menelepon.
Nisa membawa ponsel ke kamar mandi agar tidak membangunkan Reza. Jemarinya melayang di atas tombol jawab. Air matanya turun tanpa ia sadari.
“Jangan,” bisiknya kepada diri sendiri.
Panggilan berhenti, lalu masuk lagi. Pada panggilan ketiga, pertahanannya runtuh.
“Halo,” ucap Nisa sangat pelan.
“Nisa?” suara Dani terdengar lega. “Kamu menangis?”
Nisa menutup mulut agar isaknya tidak terdengar keluar. “Mas, jangan hubungi aku lagi.”
“Aku cuma khawatir. Bagaimana suamimu memperlakukanmu?”
Pertanyaan itu terasa seperti tangan yang ditawarkan kepada orang hampir jatuh. Nisa ingin menceritakan semuanya. Akan tetapi ia teringat Rika, perempuan yang mungkin sedang menunggu Dani di rumah tanpa tahu suaminya menelepon perempuan lain.
“Itu urusan rumah tanggaku,” jawab Nisa. “Aku salah sudah mengangkat telepon.”
“Nis, aku masih mencintaimu.”
Nisa memejamkan mata. “Kalau Mas benar mencintaiku, berhenti menjadikanku perempuan yang harus bersembunyi.”
Ia memutus panggilan, lalu memblokir nomor Dani. Tangannya gemetar hebat. Ia tidak langsung merasa kuat atau suci. Ia justru merasa kehilangan, karena hubungan salah tetap dapat menimbulkan candu yang nyata.
Ketika keluar dari kamar mandi, Reza ternyata sudah terjaga. Lelaki itu duduk di tepi tempat tidur dengan wajah penuh curiga.
“Kamu telepon siapa malam-malam?” tanyanya.
Nisa membeku di dekat pintu.