"Itu loh, Bun, Nisa katanya pengin ngontrak aja supaya mandiri, gak mau tinggal di sini selamanya,” celetuk Reza kepada Bundanya, di depan Nisa dan juga Ayahnya, Toni, ketika keduanya baru saja sampai di rumah Ayah dan Bundanya.
Eneng menatap ke arah Nisa ketika anak kesayangannya itu mengatakan hal demikian kepadanya, melaporkan apa yang dikatakan oleh Nisa, lebih tepatnya.
“Ngontrak?” tanya Eneng meyakinkan Nisa kembali dengan tatapan datar.
“Iya, Bun, biar lebih mandiri aja,” jawab Nisa singkat dan ragu kepada ibu mertuanya itu.
Eneng nampak menghela nafanya panjang, lalu mengembuskannya lagi berulang kali, sebelum akhirnya ia menimpali ucapan Nisa yang ingin tinggal di kontrakan dengan alasan agar mandiri, begitu katanya.
Padahal tentu saja layaknya seorang menantu perempuan, hal itu adalah cukup wajar, yang tak ingin melulu tinggal bersama dengan mertuanya, entah sebaik apa pun mertuanya itu.
“Bunda gak tega kalau melihat Reza harus tinggal di kontrakan sempit, sepetak, terus ngejemur baju asal gitu kecampur dengan punya orang lain, ihh, kumuh tahu, Nis! Memangnya kamu gak berpikir sampai ke sana?” Eneng mendeskripsikan keadaan di kontrakan seraya bergidik ngeri membayangkannya.
Nisa terdiam sejenak ketika mendengar jawaban dari ibu mertuanya itu, ia masih menyimak, tidak langsung menimpalinya lagi.
“Iya, benar, apa yang dikatakan oleh si Bunda, kontrakan itu kumuh, Nis, Ayah juga gak mau kalian berdua tinggal di tempat kumuh begitu,” timpal Toni yang kini ikut bersuara juga.
“Lagi pula, ya Nis, kalau pun kalian berdua ngontrak, kan gaji Reza hanya sedikit aja, kalau pake ngontrak, ya abis hanya untuk bayar kontrakan aja. Dan juga ini rumah besar kok, Nis, kenapa gak di sini aja?” sambung Eneng lagi kepada Nisa melanjutkan ucapannya tadi, yang sudah jelas menolak saran Nisa untuk tinggal di kontrakan.
Lebih tepatnya Nisa sendiri tentunya akan lebih memilih tinggal di rumah orang tuanya dari pada tinggal di rumah mertua, yang selalu banyak huru hara antara menantu dan mertua, akan tetapi Nisa sangat berharap bahwa perseteruan dengan Ibu mertuanya tak akan pernah terjadi seperti pada kebanyakan orang.
“Iya, Bun, maaf, Nisa mau tinggal di sini aja dulu.” Nisa pasrah saja kepada keputusan ibu mertuanya.
“Tenang saja, setelah tiga bulan nanti tinggal di sini, kami akan menyediakan rumah untuk kalian berdua kok,” sambung Toni, ayah mertuanya.
“Beneran, Yah?” tanya Reza antusias kepada Ayahnya ketika mendengar bahwa ia akan disiapkan rumah dengan Nisa.
“Iya, Reza. Tenang aja, kan istri kamu maunya pisah rumah dari sini. Makanya Bunda sama Ayah juga ikut memikirkan masalah ini, mencari solusinya,” kini Eneng pun yang malah menjawab pertanyaan Reza.
Dan tentu saja Reza pun bahagia sekali ketika mendengar penjelasan dari Bundanya, yang tentunya ia akan memiliki rumah sendiri, dan tidak akan lagi dimarahi oleh Bundanya karena hal sepele.
“Makanya, udah gak usah mikirin ngontrak segala macam lagi, ya. Kami berdua sudah menyiapkannya kok, sejak pertama kali Nisa bilang mau ngontrak sebelum nikah kemarin.” Eneng menegaskan kembali keputusannya itu kepada Nisa.
“He he he. Iya, Bun, terima kasih, ya,” ucap Nisa malu-malu kepada ibu mertuanya.
“Tuh kan, Nis! Apa kataku juga, kalau Bunda itu pasti baik banget sama kita,” sahut Reza kepada Nisa, menyombongkan seraya membusungkan dadanya karena mempunyai ibu yang sangat baik kepadanya.
Padahal memang sudah selayaknya juga orang tua berbuat baik kepada anaknya. Terlebih karena memang mereka berdua hanya memiliki dua anak saja, yang tentunya harta kekayaannya pun akan jatuh kepada anaknya juga, bukan siapa-siapa lagi.
“tuh, Reza! Makanya kamu harus bersyukur punya orang tua kayak Bunda dan Ayah, peduli banget sama anaknya, orang tua lain mana ada yang mempedulikan anaknya sampai membelikan rumah segala?” Toni pun tak hentinya berbicara, mengagungkan dirinya dan istrinya akan sikapnya kepada Reza.
Bukan menjadi hal aneh jika kebaikan orang tua kepada anaknya sendiri, lain halnya ketika keduanya berbuat baik kepada orang lain, atau pun kepada menantunya misalnya. Lagi pula, naluriah seorang orang tua yang tentunya selalu ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya.
Meski yang diberikan oleh orang tua selalu berbeda, mungkin ada yang diberikan berupa harta benda, seperti halnya Reza dari orang tua, ada juga yang diberikan ilmu dan kedisiplinan sehingga ketika dewasa nanti sang anak bisa mandiri, bahkan tidak akan merepotkan orang tuanya lagi.
Dengan model Reza saat ini, siapa tahu sampai besok pun atau sampai tua nanti hanya akan bergantung kepada orang tuanya saja terus menerus? Who knows?
“Oh, ya, masalah nikahan kemarin, itu kenapa ibu sama bapak Nisa dandanannya biasa aja, padahal kan kami berdua sudah mewanti-wanti, Nisa! Agar pakaian ibumu diperhatikan, jangan sampai biasa aja, tapi ternyata kemarin malah biasa aja.” Eneng kembali membahas masalah pakaian yang dipakai oleh besannya.
Padahal semuanya sudah lewat, untuk apa lagi dibahas, toh tidak akan pernah kembali lagi atau tidak akan pernah bisa terulang lagi.
Nisa terkejut ketika mendengar pertanyaan dari Ibu mertuanya seperti itu, hal yang tidak pernah ia sangka akan dipermasalahkan lagi oleh mertuanya, padahal menurutnya hanya sebatas pakaian saja, untuk apa juga berlaku begitu perfectionist seperti itu.
Akan tetapi lain halnya dengan mertua Nisa, bagi mereka, terlebih bagi ibu mertuanya itu, bahwa penampilan adalah nomor satu.
“Eh, iya, Bun, maaf, karena bapak dan Ibu menolak, karena katanya panas, gak apa-apa pake yang nyaman aja.” Nisa memberikan alasan kepada mertuanya, alasan yang sama sekali tidak bisa diterima oleh akal sehatnya.
“Padahal kan gak setiap hari, Nis. Apa salahnya pake baju formal, lagi pula ini demi kebaikan kalian juga kok agar lebih dihargai oleh tetangga dan para tamu lainnya,” sahut Eneng lagi kepada Nisa, akan tetapi wanita polos itu tidak mengerti dengan maksud ucapan mertuanya.
‘Dihargai dengan pakaian? Apa maksudnya?’ tanya Nisa dalam hatinya tak mengerti. Ia masih diam, menerka-nerka maskud dari ucapan ibu mertuanya.
“Karena Bunda sendiri sudah pernah merasakannya dulu ketika di sekolah, bagaimana orang menyepelekan Bunda hanya karena pakai motor butut aja, eh, tahunya pas udah pake mobil, barulah semuanya berbondong-bondong ingin berteman dengan Bunda.” Eneng menjelaskan kembali maksudnya kepada Nisa, seolah ia bisa menebak perasaan Nisa yang belum faham.
“Itulah kenapa alasannya sekarang Bunda dan Ayah selalu berpakaian rapi dan wah aja, karena gak mau lagi disepelekan atau direndahkan oleh orang lain,” sambung Eneng lagi kepada Nisa bersungut-sungut.
‘Apa iya nilai seseorang hanya bisa dilihat dari barang yang ia kenakan? Bukankah Allah sudah jelas mengatakan dalam ayatNya bahwa tingkat ketakwaannya saja yang bisa membedakan umatnya, dan jika hanya ingin dunia dan akhirat, maka cukup dengan ilmu saja,’ ucap hatinya di dalam hatinya.
Ia menolak keras dengan apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya, akan tetapi Nisa tidak berani untuk menyanggahnya, ia hanya diam dan pasrah saja, mengiyakan.
“Kok kamu hanya diam aja, Nis, kenapa?” pertanyaan dari Ayah mertuanya membuyarkan lamunan Nisa.