"Yank, aku udah gak kuat nih,” ucap Reza kepada Nisa ketika keduanya baru saja merebahkan dirinya di kamar pengantinnya beberapa menit lalu, bahkan Nisa sendiri masih canggung dengan kehadiran lelaki di sampingnya.
Sebab memang meski sebelumnya Nisa sudah menjalin hubungan terlarang dengan Dani, akan tetapi keduanya hanya sebatas melakukannya dengan virtual saja, tidak pernah bertatapan langsung.
Dengan segera pula, Reza kini sudah siap untuk melakukan aksinya, ia sudah membuka celananya, melorotkannya, sehingga munculnya sebuah benda di bawah perutnya, yang nampaknya sudah mengeras, dan tidak terlalu panjang, mungkin karena terjepit oleh badannya yang gempal oleh lemak.
Lelaki itu, langsung saja membuka rok Nisa, dan melorotkan celana dalamnya dengan paksa, tanpa persetujuan pemiliknya, karena Reza sudah focus ingin menuju bawah perut Nisa, lubang kenikmatan, ia ingin segera menyatukan miliknya pada lubang milik istrinya tersebut, yang selalu digembor-gemborkan sebagai syurga dunia oleh khalayak ramai.
Sementara Nisa yang memang belum siap dengan perlakukan Reza, ia pun langsung saja berteriak, dan dengan spontan pula menendang tubuh suaminya dengan kakinya sendiri, hingga Reza tersungkur ke belakang.
“Awwww! Sakit tahu, Yank! Kok kamu malah nendang aku sih.” Reza mengaduh, meringis seraya memperbaiki posisi tubuhnya yang memang tersungkur ke belakang.
“Duh, maaf, aku gak sengaja, aku kaget aja, kenapa langsung begitu sih, aku capek juga belum siap,” ucap Nisa yang masih shock dengan apa yang dilakukan oleh suaminya itu tiba-tiba saja kepada dirinya yang ingin segera dimasuki.
Siapa pula yang tidak terkejut bagi wanita polos ketika malam pertama langsung saja beraksi ingin menusukkan pusaka sang lelaki, tanpa didahului dengan rangsangan atau sentuhan lembut lainnya terlebih dulu.
Ahh, tentu saja itu adalah hal yang bodoh sekali, kenapa pula Reza bisa bertindak sebodoh itu? Padahal sudah jelas dalam ilmu kesehatan atau Agama pun dijelaskan agar ketika hendak menyetubuhi istri, harus dirangsang terlebih dulu.
Akan tetapi, Reza malah langsung saja, tancap gas, di mana ilmu pengetahuannya tentang hal itu yang katanya faham akan agama karena sudah bergelar Haji?
“Ya udah nanti aja deh.” Reza pun pasrah, padahal awalnya, birahinya sudah naik dan ingin segera menuntaskan hasrat kelelakiannya itu kepada Nisa, ketika ia baru pertama kalinya melihat Nisa tanpa kerudung.
Maklumlah, karena memang Reza sendiri tidak pernah dekat dengan wanita sebelumnya, bahkan ia belum pernah melakukan pacaran, entah lelaki itu bagian dari spesies apa, karena pada zaman saat ini masih belum merasakan pacaran.
Padahal Nisa saja yang memang delapan tahun tinggal di pesantren, pada akhirnya ia pun melakukan pacaran, meski dengan lelaki yang sudah mempunyai istri.
“Ya udah kita tidur aja, ya. Kan aku udah bilang juga, kalau malam ini, tidur aja dulu, jangan dulu ngelakuin apa pun,” ajak Nisa, yang kini kembali merebahkan tubuhnya di samping Reza, lelaki yang sudah menjadi suaminya.
‘Duh gagal deh belah durennya, padahal aku udah gak sabar banget ingin merasakan syurga dunia,’ ucap Reza dalam hatinya, akan tetapi sebenarnya ia sendiri tidak tahu bagaimana caranya b*********a dengan baik bersama istrinya.
Yang tentunya harus dimulai dengan sentuhan-sentuhan lembut, dan juga rangsangan terlebih dulu, bukan malah langsung tancap gas saja seperti tadi.
Mungkin bagi sebagian orang yang sudah sering melakukan s**s, akan syah-syah saja, tapi bagi wanita yang baru pertama kali melakukannya, tentu akan menjadi hal yang berbeda, terlebih dengan rumor tersebar bahwa akan sakit ketika pertama kalinya melakukan s**s.
Beberapa saat kemudian, Reza langsung pulas, tertidur di samping Nisa yang masih terjaga.
‘Astaga, ini orang kok pelor (Nempel molor) banget, ya. Padahal baru aja tadi masih bangun, sekarang udah tidur lagi aja,’ ucap Nisa dalam hatinya ketika ia melihat lelaki yang ada di sampingnya itu sudah terlelap.
‘Dan juga kenapa bisa-bisanya sih cowok ini langsung tancap gas aja, gak main sentuhan dulu kayak yang ada di film-film,’ gerutu Nisa dalam hatinya bersungut-sungut.
Sebab tentu saja Nisa yang juga memang sering nonton Film barat, sudah tidak aneh menyaksikan adegan ranjang, meski dalam scene tersebut tidak terlalu jelas ditayangkan, akan tetapi ia cukup tahu, bahwa sebelum pada intinya, harus didahului dengan rangsangan pula.
‘Masa iya dia gak tahu, astaga! Bisa bahaya kalau sampe gak tahu,’ ucapnya lagi dalam hatinya seraya menatap wajah suaminya itu.
Wajah yang saat ini akan ia cintai dengan setulus hatinya, karena memang tujuannya menikah pun tentunya ingin menjadikan lelaki itu sebagai sandaran hidupnya, terlebih untuk melupakan Dani semata.
‘Aku harus bisa melupakan Mas Dani, karena saat ini aku sudah punya suami yang begitu baiknya.’ Nisa meyakinkan hatinya lagi bahwa lelaki yang ada di sampingnya ini adalah lelaki yang tepat.
Yang tentunya harapannya pun sama, ingin menjadikan pernikahan ini adalah yang terakhir baginya.
***
Keesokan harinya, Nisa tentunya sudah bangun terlebih dulu dari pada Reza.
“Siapkan kopi untuk suami kamu, Nis,” ucap Ibu kepada Nisa basa-basi, padahal Ibunya sudah tahu kalau Reza tidak pernah meroko dan meminum kopi.
“Dia kan gak ngopi, Bu,” jawab Nisa singkat seraya menyapu lantai rumahnya, hal yang selalu ia lakukan ketika pagi hari, layaknya wanita pada umumnya, bersih-bersih.
“Wah, bagus dong, benar memang kata Bu Wawat kalau Reza itu adalah suami idaman, gak ngopi dan juga gak ngerokok. Kamu sungguh beruntung punya suami seperti itu, Nis! Jadi gak bakal repot harus selalu nyediain kopi terus di pagi hari.” Ibunya Nisa menimpali dengan tersenyum, penuh kebahagiaan karena mendapatkan menantu yang amat sempurna di matanya untuk saat ini.
Nisa tak menjawab, ia masih melanjutkan aktivitasnya bersih-bersih di pagi hari itu.
“Ya sudah, kalau gitu kamu siapkan sarapan pagi aja dulu, Nis! Angetin ikan sisa kemarin, biar nanti dia bangun, langsung makan,” ucap Ibunya Nisa lagi memberikan saran.
Sehingga setelah itu pun, Nisa langsung saja mengikuti apa yang disarankan oleh ibunya, menyiapkan makanan untuk suaminya.
“Sayang, aku laper nih, udah matang kan?” ucap Reza yang baru saja keluar dari kamarnya, dan untung saja Nisa pun sudah sejak tadi menyiapkan makanan untuk Reza.
“Udah kok, ayok makan!” Nisa mengajak Reza untuk makan.
“Kita harus siap-siap juga loh, Nis! Kan kita mau pulang ke rumah si Bunda siang ini naik kereta,” ucap Reza seraya menyuapi makanan ke dalam mulutmya dengan begitu lahap, seolah ia tidak makan selama beberapa hari.
“Iya, tenang aja. Semuanya sudah disiapkan kok. Lagian kenapa sih kok kita harus langsung ke rumahnya si Bunda, kenapa gak di sini aja dulu?” tanya Nisa lagi kepada Reza.
“Kan suruh si Ayah dan si Bunda, Nis, kalau kita suruh tinggal di sana, kan aku kerja di sana, kalau kamu kan cuma ngajar jadi bisa bolak balik setiap hari naik kereta,” jawab Reza lagi kepada Nisa bersungut-sungut.
Padahal umumnya, suamilah yang biasanya ikut tinggal di rumah orang tua istrinya, jarang sekali ada istri yang tinggal di rumah mertuanya. Akan tetapi karena sudah keputusan Ayah dan Bundanya Reza, maka Nisa pun tidak bisa menolaknya.
“Dan juga, kenapa kita gak ngontrak aja biar mandiri?” tanya Nisa lagi kepada Reza, yang seharusnya masalah ini dibicarakan sebelum pernikahan, bukan setelah pernikahan seperti ini.
DEG
Reza kini menatap Nisa terkejut dengan pertanyaannya itu.