"Alhamdulillah, akhirnya anak kita menikah juga, ya Bun. Lega sudah, karena Reza kini sudah mendapatkan istri, dan tentunya kita pun sebentar lagi akan punya cucu,” ucap Toni kepada istrinya, Eneng, ketika mereka sudah dalam perjalanan pulang ke rumahnya lagi. Ya, karena hari sudah menunjukkan senja.
“Iya, Ayah, semoga saja Nisa memang adalah mantu yang baik untuk kita, yang bisa diatur dengan baik,” sahut Eneng kepada suaminya itu.
“Ayah juga udah ngomong ke Reza kalau besok mereka berdua sudah harus ada di rumah kita kok, Bun, tenang saja. Bunda gak usah kahwatir, ya,” sahut Toni kepada istrinya yang seolah sudah tahu kekhawatiran yang ada di dalam hati istrinya kepada Reza.
Karena memang sejak kecil Reza tidak pernah jauh dari orang tuanya, Reza tidak pernah dibiarkan untuk pergi jauh, sehingga ketika dewasa pun, lelaki itu masih bergantung kepada kedua orang tuanya, terlebih kepada ibunya sendiri.
Begitu pula dengan Eneng, yang tidak rela berjauhan dengan anaknya, sekalipun sudah dewasa.
“Bunda juga gak mau kalau anak kita tinggal di rumahnya Nisa. Duh, Yah, tahu gak sih kalau kamar mandi Nisa di rumahnya itu kayaknya kotor banget, gelap lagi, gak nyaman deh pokoknya. Kan kita tahu sendiri kalau anak kita itu punya alergi, gak kebayang deh gimana nantinya Reza di sana.” Eneng bersungut-sungut kepada suaminya.
Eneng tidak rela melepas anaknya untuk tinggal di rumah Nisa yang memang serba sederhana, tidak semewah rumahnya, akan tetapi masalah kebersihan, tentu saja sudah cukup nyaman, meski tidak kinclong seperti rumahnya, akan tetapi sudah cukup bersih.
“Iya, Bun, Ayah juga udah bawakan handuk, dan sabun untuk Reza juga khusus, semuanya sudah Ayah siapkan kok.” Toni kembali menyahut istrinya itu.
“Baguslah kalau begitu, Ayah. setidaknya kita gak akan terlalu khawatir meninggalkan anak kita di sana meski hanya satu malam saja.”
Toni tak lagi menimpali ucapan istrinya, ia tetap focus kepada jalan di depan, bersama dengan anak keduanya di jok belakang, Anggi, yang sepertinya selalu asyik bermain di dunia maya melalui ponselnya.
“Tapi, Yah, kita salah gak sih kalau gak ngundang teman-teman kita?” tanya Eneng lagi kepada Toni.
“Kan kata Bunda mereka gak usah diundang, karena memang jalan menuju rumah Nisa rusak, kan, kita gak mau menyusahkan teman-teman kita, dan kita juga yang malu karena jalannya rusak,” jawab Toni.
“Iya, sih, Yah, padahal kan ini pernikahan anak pertama kita, yang seharusnya berlangsung dengan sangat meriah. Seharusnya juga keluarga Nisa mau pestanya diadakan di gedung aja, coba kalau di gedung, yang pasti kita akan mengundang semua teman kita,” tutur Eneng penuh dengan rasa kecewa.
Keluarga Nisa memang menolak tawaran keluarga Reza untuk melangsungkan pesta pernikahan di gedung, karena sesuai dengan adat yang berlaku di kampungnya, resepsi pernikahan tetap harus dilakukan di kediaman mempelai wanita.
“Ya, kita harus memaklumi aja, Bun, kan mereka orang kampung.” Toni mencoba untuk menenangkan hati istrinya agar tidak lagi berlarut-larut dalam kekecewaan.
“Iya, memang orang kampung itu begitu, ya Yah, susah majunya kalau terus menerus mengikuti adat, padahal apa salahnya pesta di gedung, yang tentunya lebih hemat dan efisien, gak ribet harus masak-masak tetangga,” cerocos Eneng lagi yang sempat kesal juga dengan keputusan keluarga Nisa.
“Biarkan aja, Bun, yang penting untuk saat ini Nisa dan Reza sudah menikah, dan mereka berdua akan lebih dekat dengan kita, karena mereka harus tinggal bersama kita kan.” Toni masih focus ke jalanan yang ada di depannya seraya sesekali menoleh ke arah istrinya.
“Dan tadi juga Bunda sempat kecewa karena ibunya Nisa sama sekali gak dikasih make-up, malah para dayang-dayang itu yang dimake-up in dan didandani, apalagi pas lihat bapaknya Nisa malah pake batik, astaga! Seharusnya pake jas hitam, menyesuaikan dengan kita, tapi malah pake batik, kayak parawali aja.”
Eneng semakin kesal saja jika ingat kembali dengan apa yang terjadi kepada keluarga besannya tadi pagi di acara pernikahan anaknya.
Eneng sendiri tahu jika memang ibu dan bapaknya Nisa orang kampung, akan tetapi seharusnya mereka mau sebentar saja memakai pakaian resmi sebagai orang tua mempelai.
“Iya, Ayah juga gak habis pikir deh sama Nisa, kenapa gak maksa orang tuanya buat pakai baju seragam sesuai dengan kita, ya!” Toni pun ikut menimpali juga.
“Iya, Bunda tadi malu banget sama Teh Lilis yang jauh-jauh datang dari Bogor, sampe koment katanya besannya ngasal aja pakai baju.” Eneng seraya menyandarkan tubuhnya di joknya sendiri, di samping suaminya, ia masih saja kesal.
“Iya, Bun, nanti besok ya kita sidang Nisa kenapa bapak dan ibunya sampai pake baju seperti itu,”
“Kalau memang Nisa itu keras kepala, bagaimana, Yah? Bunda takut dia akan melawan sama kita kalau diatur,” tanya Eneng lagi penuh rasa khawatir kepada suaminya tentang sikap menantunya itu.
Karena sebenarnya, mereka sengaja mencari menantu orang kampung pun, agar mudah diatur oleh keduanya, sesuai dengan keinginannya juga.
Berbeda dengan orang kota, yang nampak selalu lebih keras kepala, serta mau menang sendiri saja, katanya begitu.
“Gak akan, kok Bun, Ayah lihat sepertinya si Nisa itu cukup nurut orangnya, tenang saja, kita pasti bisa mengatur dia, apa lagi kan nanti dia akan tinggal di rumah kita selama tiga bulan ini,"
“Oh, iya, Bunda hampir aja lupa. Memang begitu kan alasan kita, agar Nisa nanti bisa tahu apa yang harus dia lakukan kepada Reza sebagai suaminya.”
Percakapan antara suami istri itu pun berakhir sampai di sana, karena memang mereka sudah sampai di rumahnya, dengan perjalanan yang hanya menghabiskan waktu sekitar dua jam saja.
***
“Bagaimana, Mas? Kamu tadi datang kan ke nikahannya Nisa?” tanya Rika kepada suaminya, ketika ia baru saja datang di rumahnya.
Sebenarnya, Rika pun diundang oleh Nisa untuk datang ke pernikahannya, dengan tujuan tentu saja agar Nisa bisa membuktikan kepada Rika bahwa dirinya sudah tidak akan lagi mengganggu Dani.
Akan tetapi, tentu saja Rika tidak datang, sebab mana ada pula wanita yang masih bersikap baik kepada wanita yang pernah menjalin hubungan dengan suamiya?
“Eh, iya, sayang, sudah kok, aku datang ke nikahannya Nisa barengan sama guru yang lain juga.” Dani menjawab dengan singkat dan padat kepada istrinya.
“Baguslah kalau dia sudah menikah, itu artinya dia tidak akan mengganggu kamu lagi, Mas. Dan aku pun berharap agar kamu tidak akan pernah lagi melakukan kesalahan untuk yang keempat kalinya.” Rika berkata penuh harap kepada suaminya itu dengan tatapan hangat.
“Iya, sayang, aku janji, yang kemarin itu adalah yang terakhir, aku tidak akan lagi melakukan kesalahan yang sama, aku janji. Lagi pula, sudah aku jelaskan juga kepada kamu, sayang, bahwa kamu tentunya lebih cantik dari wanita mana pun.” Dani menggoda Rika.
“Ah, kamu gombal, Mas! Kalau aku cantik dari wanita mana pun, kenapa kamu masih tergoda saja oleh wanita di luar sana?” tanya Rika yang kini tatapannya kembali datar.
DEG