"Pak Dani, udah dengar cerita tentang Bu Nisa belum, yang katanya mau menikah?” tanya Siti kepada Dani sekenanya saja kepada Dani, yang mana sekelilingnya ada beberapa guru lainnya pula, yang secara tidak langsung dapat didengar pula oleh rekan guru yang lainnya juga.
Dani terkesiap ketika mendengar pertanyaan dari Siti yang tiba-tiba saja membahas Nisa di depan banyak orang, dan hal itu tentu saja menjadikan Dani teringat kembali kepada Nisa, padahal sudah satu bulan lebih tidak saling komunikasi.
Kali ini Dani sudah benar-benar insyaf dan tidak lagi menjalin hubungan dengan Nisa setelah untuk kedua kalinya tertangkap basah oleh Rika.
“Kok Pak Dani diam aja? Kayaknya udah tahu, ya?” tanya Siti lagi terus menerus kepada Dani, yang sengaja ingin menggoda lelaki itu, yang kini wajahnya nampak pias.
“Saya gak tahu apa-apa, Bu. Lagi pula saya juga tidak ingin ikut campur dengan urusan orang lain seperti Bu Siti,” celetuk Dani sekenanya saja, bahkan Dani tak segan-segan menyinggung Siti.
Wajah Siti kini ikut pias juga setelah Dani menyinggungnya demikian di depan orang banyak, akan tetapi hanya berlangsung beberapa detik saja, wajahnya kembali normal, karena memang sebagai orang tukang gossip, tentu saja ia sudah tidak aneh lagi jika dikatakan demikian.
Dani lalu kini pergi begitu saja meninggalkan Siti dan temannya di kantor, Dani pergi ke ruang kelas.
“Hayo loh, Pak Dani ngambek kan? Makanya jangan asal aja kalau ngomong, Bu Siti!” seru Bu Maya ikut berkomentar, guru yang usianya jauh lebih tua dari Dani dan Siti.
“Dasar Pak Daninya aja yang memang sensitive,” sahut Siti lagi membela dirinya sendiri
Sementara itu, ternyata Dani bukan pergi ke kelas, melainkan pergi ke ruang perpustakaan yang memang saat itu ruangan tersebut sepi, lengang, hanya ada buku-buku saja yang tersusun rapi di lemari kayu susun sejauh mata memandang, karena semua muridnya sedang ada di kelas.
Perlahan Dani mulai mengeluarkan Ponsel dari saku celananya, lelaki itu nampak mengotak-atik screen keyboardnya.
“Hallo, Nisa, ini aku, Mas Dani, aku pakai nomor anakku dulu, aku hanya ingin bertanya, apa benar kalau kamu mau menikah? Syukurlah jika memang begitu, aku ikut bahagia, itu artinya kamu sudah mendapatkan lelaki yang akan menjagamu, dan aku pun akan pergi selamanya dari kehidupan kamu, sesuai dengan apa yang aku janjikan,”
Dani mengirimkan pesan kepada Nisa saat itu juga, seraya ia ingin mendapatkan jawaban langsung dari Nisa bahwa memang kabar tentang pernikahan dirinya adalah benar.
Dani menunggu dengan perasaan tidak sabar untuk mendapat balasan dari Nisa, sebab bagaimana pun lelaki itu masih punya perasaan kepada Nisa, hanya saja memang ia tidak punya keberanian untuk menjadikan Nisa sebagai wanita keduanya lagi.
Ting Nong
Suara pesan masuk, dan lelaki itu langsung saja membuka isi pesan tersebut, yang tadi sebelumnya ia alihkan kepada buku yang ada di hadapannya itu selama lima menit.
[Iya, Mas, aku mau menikah, dijodohkan lebih tepatnya dengan keponakannya Bu Wawat yang di kota, aku terpaksa menerima perjodohan ini karena memang aku gak bisa menolaknya, dan juga sebagai jalan yang tepat untuk bisa melupakan kamu.]
Balasan pesan yang dikirimkan dari Nisa kepada Dani, yang membuat lelaki itu kini tersenyum datar saja setelah tahu bahwa ternyata perasaan Nisa tak pernah berubah kepadanya, bahkan demi melupakan dirinya, Nisa rela menerima perjodohan dari kedua orang tuanya.
“Kamu bisa, Nis. Aku yakin setelah kamu menikah nanti, kamu akan bisa melupakan aku,” balas Dani lagi melalui pesan singkat tersebut, yang sebenarnya keduanya saat itu bisa saling melakukan panggilan video atau suara.
[Iya, Mas. Aamiin.] Nisa menjawabnya dengan singkat dan padat, dan saat itu pula Dani memblokir nomor Nisa di ponsel anaknya yang tak sengaja ia bawa, di ponsel yang tidak diketahui oleh Rika, sebab tentu saja jika Dani masih nekat menghubungi Nisa melalui ponsel miliknya, yang ada Rika akan kembali marah.
Bahkan Dani sengaja meninggalkan Ponsel miliknya di kantor sekolah, ia khawatir CCTV yang dipasang oleh Rika akan bisa menangkap tingkah Dani yang hanya ingin sebatas memastikan Nisa.
Lelaki itu kini menghela nafas panjang, lalu mengembuskannya lagi, seolah ia sedang menahan beban yang amat berat, sebenarnya ia memang ingin memiliki Nisa juga, meski Rika pernah mengatakan pada Nisa bahwa sebelumnya Dani pun pernah menjalin hubungan juga dengan wanita lain.
Akan tetapi Dani dapat mengakui bahwa Nisa adalah satu-satunya yang bisa membuat dirinya nyaman, ada daya tarik tersendiri dari Nisa, hanya saja Dani tidak punya nyali untuk menikahi Nisa sebagai istri kedua, ia masih tetap lebih sayang kariernya dari pada Nisa.
‘Semoga kamu memang bisa bahagia, Nis,’ ucap Dani dalam hatinya lirih.
Lelaki itu pun kini melangkahkan kakinya kembali menuju kelas, akan tetapi ketika ia memasuki lorong sekolah, ia pun berpapasan kembali dengan Siti.
“Loh kenapa, Pak Dani? Wajahnya murung begitu? Abis memastikan langsung, ya pada Nisa kalau kabar yang saya katakan tadi memang benar?” tanya Siti menyeringai mengejek Dani yang nampakanya sedikit bersedih.
Dani hanya mengerutkan keningnya ketika mendengar ucapan dari Siti yang selalu saja ikut campur dengan urusannya.
“Itu bukan urusan Bu Siti, memangnya apa masalahnya kalau saya mau peduli atau gak dengan kabar pernikahan Nisa?” Dani bertanya balik kepada Siti dengan tatapan mata yang tajam.
Perlahan wajah wanita dewasa itu berubah, yang awalnya menyeringai, kini menjadi datar, tidak suka dengan ucapan Dani, yang begitu menohok.
“Ya, saya hanya ingin memastikan saja agar Pak Dani juga tidak perlu lagi mendekati Bu Nisa karena dia sudah menikah, itu saja tidak lebih,” sahut Siti lagi dengan lantangnya.
“Sekali lagi saya tegaskan kepada kamu, ini bukanlah urusan kamu!”
“Tentu saja ini menjadi urusan saya, karena bagaimana pun saya juga mengenal Bu Nisa dengan baik, jadi saya tidak ingin jika nanti pernikahannya itu gagal hanya karena Pak Dani.” Siti semakin ke mana-mana bicaranya, ngelantur.
‘Bicara sok peduli kepada Nisa, akan tetapi malah menusuk dari belakang, orang macam apa wanita ini?’ pikir Dani dalam hatinya, entahlah ia sendiri tidak mengerti betul dengan pola pikir orang yang ada di hadapannya itu.
“Jangan asal bicara, Bu Siti! Saya pun sudah punya istri, untuk apa juga menggagalkan pernikahan Bu Nisa!” Dani tidak terima, ia langsung saja mencela Siti dengan kalimatnya yang tajam dan tatapan sinis, akan tetapi tidak sekeras sebelumnya.
“Katakan dengan jujur! Apa sebenarnya yang Bu Siti mau? Karena terus menerus ikut campur urusan rumah tangga saya dan juga Nisa?” sambung Dani yang kini dengan tegas juga bertanya keinginan Siti yang selalu saja mengganggu dirinya.
Bukannya menjawab, akan tetapi Siti kini menyeringai kembali kepada Dani.
“Saya tahu hubungan Pak Dani dengan Nisa bagaimana, dan setelah kabar pernikahan Nisa akan berlangsung tentunya membuat Pak Dani sedih dan kecewa, akan tetapi Pak Dani tak perlu khawatir akan hal itu, - ” Siti menghentikan ucapannya sejenak.
“saya bersedia menjadi kekasih gelap Pak Dani, menggantikan posisinya Nisa!”
DEG
Dani terbelalak, terkejut, ketika mendengar penuturan dari Siti.