“Apa maksud Bu Siti berbicara seperti itu kepada saya?” tanya Dani kepada Siti penuh dengan tanda tanya besar, tak menyangka jika ada seorang wanita single yang terang-terangan menawarkan untuk menjadi kekasih gelapnya Dani.
“Kan saya sudah jelaskan tadi bahwa saya bersedia untuk menggantikan posisi Nisa di hati Pak Dani,” jawab Siti dengan begitu percaya dirinya, berbeda dengan Dani yang malah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja.
“Saya juga menaruh perasaan kepada Pak Dani, dan yang jelas, saya akan lebih setia dari pada Nisa, karena saya mencintai Pak Dani dengan sepenuh hati saya,” sambung Siti lagi menegaskan, bahkan ia sudah menyatakan cintanya.
Meski ada pepatah yang mengatakan bahwa tidak ada kucing yang menolak dikasih ikan, akan tetapi ikan seperti apa dulu yang diterima oleh kucing tersebut, sama halnya dengan lelaki, wanita mana pula yang akan diterimanya meski wanita itu datang sendiri menawarkan dirinya.
“Maaf, Bu Siti, sepertinya pembahasan kita sudah terlalu jauh, mohon maaf, saya harus segera masuk ke kelas, anak-anak kasihan sudah terlalu lama ditinggal, dan pasti mencari-cari saya,” ucap Dani seraya melangkahkan kakinya, melewati Siti begitu saja, tanpa peduli tawarannya tersebut.
Siti masih mematung dengan wajah dan perasaan kesal, berkecamuk, sekaligus malu.
“Ishhh! Sombong sekali kamu, Dani! Apa salahnya dengan aku? Kenapa kamu malah mengabaikan penawaranku ini? Padahal aku dan Nisa tentu saja masih lebih baik dan lebih cantik aku,” cerocosnya bersungut-sungut kepada dirinya sendiri, penuh dengan rasa dongkol karena secara tidak langsung pernyataan cintanya pun ditolak oleh Dani.
Entahlah, apa yang ada di dalam pikirannya Siti kali ini, di usianya yang hampir menginjak kepala tiga, malah lebih memilih untuk menjalin hubungan gelap dengan lelaki yang sudah memiliki istri.
“Awas, kamu Dani! Aku sudah punya bukti bahwa kamu tadi berkirim pesan dengan Nisa memakai ponsel anakmu, aku tidak akan tinggal diam setelah penolakanmu ini, aku akan melaporkan tindakanmu itu kepada istrimu, agar tahu rasa!” cerocosnya lagi dengan mata yang berkilat, penuh amarah.
Untung saja Dani menolaknya, karena menurutnya adalah hal bodoh jika ia sampai mempedulikan ucapan Siti baru saja. Ahh, cinta, lagi dan lagi memang selalu membuat orang gila, tidak bisa menggunakan akal sehatnya dengan sempurna.
Sementara itu, Dani pun masih tidak habis pikir dengan apa yang dikatakan oleh Siti kepadanya, bagaimana mungkin ia akan menerima Siti, yang jelas sama sekali tidak menarik mata dan hatinya Dani.
Ah, lelaki memang umumnya lebih suka kepada wanita muda, dibanding yang dewasa, Nisa tentunya 6 tahun lebih muda dari pada Siti, bahkan Siti pun lebih tua dari pada istrinya, tentu saja Dani menolaknya mentah-mentah.
“Gila aja kalau aku sampai menerima cinta Bu Siti, memangnya aku lelaki apaan? Bagaimana pun aku masih normal, yang tentunya tidak akan tergoda sama sekali olehnya.” Dani berbicara pada dirinya sendiri seraya bergidik ngeri ketika ia teringat kembali dengan pernyataan cinta dari Siti.
“Amit-amit deh, jangan sampe aku suka sama perawan tua itu! Semoga aja dia cepat nikah, biar gak ganggu rumah tanggaku lagi,” ucap Dani lagi meyakinkan dirinya, dan mengakhiri lamunannya itu karena buyar oleh suara muridnya yang bertanya.
“Pak, itu nomor 10 gimana? Adel gak ngerti!” tanya anak kelas 6 kepada Dani.
***
“Kenapa? Siapa itu?” tanya Riri penasaran, begitu juga dengan Deden, yang masih ada di ruangan tersebut, menunggu Nisa untuk menjawab pertanyaannya.
Karena memang untuk beberapa saat tadi, Riri dan Deden hanya menyimak saja, menunggu Nisa untuk segera menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepadanya itu melalui pesan singkat, yang entah dikirimkan oleg siapa.
“Pak Dani,” jawab Nisa singkat dan padat.
“Cowok itu lagi? Mau apa lagi dia, Bu Nisa? Gak ada kapoknya, ya, datang dan pergi seenaknya aja!” cerocos Deden bersungut-sungut, yang kini langsung saja naik pitam, karena sebal pada Dani, masih saja mengganggu Nisa yang akan menikah, setelah satu bulan ini hilang begitu saja.
“Iya, ada apa lagi Pak Dani ngechat kamu, Nis?” Riri juga mengajukan tanya kepada Nisa, yang sudah tidak sabar juga ingin mendengar jawabannya. Riri dan Deden kini sama-sama mencondongkan tubuhnya menghadap Nisa, seolah gerak tubuh keduanya menggambarkan bahwa sangat antusias untuk menyimak.
“Dia hanya bertanya aja, gak lebih, apa iya katanya kalau aku mau nikah,” jawab Nisa lagi menjelaskan dengan pendek.
“Hanya itu? lalu kamu jawab apa?” Riri masih penasaran.
“Ya aku jawab seadanya aja, aku memang mau menikah, dan Pak Dani juga mengatakan bahwa katanya dia pun ikut bahagia dengan kabar gembira ini, karena itu artinya dia tidak akan menggangguku lagi, dia akan melepaskanku sepenuhnya,” tutur Nisa menjelaskan.
“Baguslah, memang seharusnya begitu! Kan dia sudah punya istri, dan gak ada keseriusan juga darinya, gak ada kejelasan, untuk apa juga lelaki seperti itu dipertahankan, percuma kalau Bu Nisa terus menerus menjalin hubungan dengan Pak Dani, sia-sia, gak akan pernah dinikahi,” timpal Deden yang masih saja ikut sebal jika mendengar nama Dani disebutkan.
Karena menurutnya, Dani tidak hanya menyakiti istrinya saja, akan tetapi ia pun menyakiti hatinya Nisa, gadis polos yang tidak tahu menahu dengan dunia percintaan sebelumnya, kini malah masuk dalam jeratan buaya tersebut.
“Iya, aku juga setuju dengan apa yang dikatakan sama Pak Deden, bagaimana pun kamu juga berhak bahagia, Nis, dengan lelaki yang memang utuh untuk kamu, tidak harus berbagi,” sahut Riri lagi menimpali Deden.
Nisa tersenyum datar, ketika mendapati bahwa kedua orang yang ada di hadapannya itu sangat peduli kepada dirinya.
“Iya, terima kasih, ya karena sudah peduli denganku,” ucap Nisa lirih kepada keduanya.
“Sama-sama, Bu Nisa. Kami berdua hanya ingin melihat Bu Nisa bahagia aja, dan maaf juga, ya kalau selama ini kami berdua selalu sewot dan ketus, bahkan melarang keras hubungan Bu Nisa dengan Pak Dani itu.” Deden memberikan penjelasan kepada Nisa.
Sehingga ketiganya pun kini hanya saling melemparkan senyum saja, terlebih dengan Riri dan Deden karena keduanya kini sudah merasa lega, karena pada akhirnya Nisa akan menikah juga, menyusul Firman, yang baru saja menikah satu minggu lalu dengan mantan kekasihnya.
“Wah, kalau Bu Nisa memang udah mau nikah, itu artinya saya pun harus memberi tahu kepada teman saya itu, agar tidak lagi berharap kepada Bu Nisa, he he he,” celetuk Deden begitu saja kepada Nisa yang tahu bahwa temannya itu menaruh harapan kepada Nisa, terlebih ketika sudah bertemu.
Ya, Nisa dan temannya Deden itu baru saja bertemu dua minggu lalu, dan setelah pertemuan itu pun, Nisa semakin yakin bahwa ia sama sekali tidak tertarik kepada lelaki tersebut.
“Iya, Pak, saya titip permohonan maaf saya, ya,” ucap Nisa lirih.
Meski di dalam hatinya pun kini ia sadar bahwa, hanya Dani lah yang mengisi hatinya untuk saat ini.
[Heh, Nisa! Kamu tuh harus sadar diri, udah mau nikah, jangan balas chat dari suami orang lagi!]
Sebuah pesan masuk pada ponsel Nisa.