"Eh, kemarin aku lihat ada mobil putih di depan rumahmu, siapa itu, Nis?” tanya Riri kepo kepada Nisa, tanpa memanggilnya dengan gelar ‘bu’ seperti yang lainnya, sebab memang Nisa ada di bawah Riri usianya, hanya selisih 2 tahun saja, terlebih keduanya sudah sangat akrab sekali, bahkan Nisa pun sering juga memanggil nama langsung kepada Riri.
Nisa terdiam sejenak, ia tak langsung menjawab, sebab ia pun masih enggan untuk menceritakan masalah perjodohannya tersebut kepada orang lain.
“Aku mau dijodohkan dengan keponakannya Bu Wawat yang di kota.” Nisa menjawab dengan singkat, akan tetapi sudah cukup membuat Riri terkejut mendengarnya, bahkan terkesiap, seraya matanya terbelalak.
“APA? DIJODOHKAN DENGAN KEPONAKANNYA BU WAWAT?” mulut Riri sedikit terbuka karena saking terkejutnya, menganga dengan mata terbelalak.
“Iya, katanya sih keluarga dia yang di Kota berbeda dengan yang di kampung kita, gak songong dan sombong,” ucap Nisa, seperti sudah tahu dengan maksud Riri, karena memang perihal sikap keluarga besar Bu Wawat sudah menjadi rahasia public di kampungnya.
“Ya semoga saja, terus gimana? Udah ketemu sama keponakannya itu?” tanya Riri lagi, bahkan kini tubuhnya lebih dicondongkan ke arah Nisa karena saking penasarannya.
“Udah, kan kemarin itu datang sama Bu Wawatnya juga diantar,”
“Terus?” tanya Riri lagi yang meminta Nisa untuk segera melanjutkan ceritanya, karena sebagai sahabat tentu saja ia pun ikut bahagia jika memang perjodohan ini juga diinginkan oleh Nisa, terlebih hal utamanya yaitu bisa lepas dari Dani.
“Terus apanya?”
“Duh, Nisa! Astaga, ya kelanjutannya lah, gimana? Kamu suka sama keponakannya Bu Wawat, ganteng gak?” tanya Riri yang kini memberondongi Nisa.
“Ya, biasa aja sih. Lagi pula ini perjodohan, yang namanya dijodohkan, mau gak mau harus tetap menerimanya, pasrah aja, dan semoga aja kalau memang pilihan kedua orang tuaku ini tepat,” jawab Nisa menjelaskan.
“Aamiin.” Riri mengamini.
“Dan bisa saling mengenal lebih dulu kan, Nis, gak langsung nikah juga.” ucap Riri lagi pada Nisa memberikan saran, seperti yang ia tahu pada umumnya, meskipun dijodohkan, akan tetapi masih diberi waktu untuk saling mengenal satu sama lain.
“Gak, Ri, masalahnya ini malah suruh langsung nikah aja,” bantah Nisa.
“Langsung nikah gitu? Gak perkenalan dulu? Wajib banget tahu untuk saling kenal terlebih dulu sebelum menikah, aku aja sama suamiku dulu pacaran hampir lima tahun, tapi masih belum cukup aja untuk tahu sikap aslinya,” cerocos Riri lagi, dan Nisa hanya menyimaknya saja.
“Emangnya kapan, Nis?” tanya Riri lagi, kembali pada Nisa.
“Ya, katanya sih ada bocoran dua atau tiga bulan lagi,” jawab Nisa.
“Astaga! Itu sih cepat banget, Nis. Tapi kalau memang udah yakin sih, gak apa-apa lanjut aja, nanti kalian pacarannya bisa setelah menikah, ta’aruf aja sekarang, dan untungnya juga kalau kamu nikah, yang pasti akan terlepas dari Pak Dani,” tutur Riri lagi menangapi ucapan Nisa.
Padahal dalam taa’ruf pun tentu saja harus didahului dulu dengan perkenalan satu sama lain, melalui perantara, sampai keduanya sama-sama cocok, barulah berlanjut.
“Ini bukan taaruf, Bu, tapi perjodohan.” Nisa menegaskan lagi untuk kedua kalinya.
“Iya juga sih, mau gak mau harus nikah,” sahut Riri seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Ada apa sih? Siapa yang dijodohin?” tanya Deden yang tiba-tiba saja datang dan ikut nimbrung.
“Ini nih, Pak Den, Nisa sekarang udah punya calon suami loh, bentar lagi nikah, he he he,” jawab Riri seraya tersenyum lebar.
“Wah, serius? Alhamdulillah kalau memang begitu,” ucap Deden yang juga ikut tersenyum seraya menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada di kantor tersebut.
Riri hanya menganggukkan kepalanya saja, nampak ia yang lebih histeris dan antusias dibanding Nisa sendiri.
“Siapa cowonya, Bu Nisa?” tanya Deden lagi kepada Nisa, kali ini ia mengajukan tanya langsung kepada Nisa, agar dijawab olehnya pula.
“Keponakannya tetangga saya yang tinggal di kota, Pak,” jawab Nisa singkat dengan wajah datar, dengan ekspresi biasa saja, sebab percuma saja dijelaskan detailnya karena memang rumah Deden berbeda desa dengan Nisa dan Riri, bahkan berbeda kecamatan.
“Wah, syukurlah kalau memang begitu, akhirnya memang benar, sepertinya jampi-jampi dari Pak Wahyu sudah dicabut, jadi Bu Nisa bisa langsung dapat jodoh,” celetuk Deden yang kini kembali mengaitkan Nisa dengan Wahyu.
Yang memang pada beberapa hari lalu sempat hangat karena Wahyu ketahuan menjampi-jampi Nisa agar ia tidak mendapatkan jodoh.
“Ada apa nih, Pak Deden bawa-bawa nama saya?” sambung seorang lelaki yang kini ikut hadir juga, nimbrung. Lelaki itu tak lain adalah Wahyu sendiri.
“Eh, ada Pak Wahyu, he he he. Gak ada apa-apa kok,” jawab Deden seraya nyengir lebar karena orang yang ia gosipkan malah ada di belakangnya sendiri.
“Ah, saya gak percaya! Pasti ada apa-apanya, kan?” Wahyu masih penasaran, ia tidak puas dengan jawaban singkat dari Deden, sementara kini Nisa dan Riri hanya diam saja, menutup mulutnya rapat-rapat.
“Ini Bu Nisa udah ada yang ngelamar, Pak Wahyu, jadi jampi-jampi yang baru aja dicabut langsung bereaksi bukan?” ungkap Deden lagi menjawab rasa penasaran Wahyu.
Sekilas, Wahyu nampak terkejut ketika mendengar kabar bahwa Nisa sudah ada yang melamar.
“Seriusan, dengan siapa, Bu?” tanya Wahyu menatap kepada Nisa, penuh dengan tanda tanya besar, sebab ia pun tidak menyangka bahwa Nisa akan secepat itu ada yang melamar.
Padahal harapannya sangat besar kepada Nisa, akan tetapi sepertinya saat ini ia harus benar-benar berhenti untuk berharap.
Nisa masih diam, tak menjawab pertanyaan dari Wahyu. Nisa nampak menghela nafas panjang, seolah ia sedang mengendalikan dirinya sendiri, mungkin karena ia masih ingat betul dengan apa yang lelaki itu lakukan kepadanya.
“Kepo deh, Pak Wahyu! Yang jelas sekarang Bu Nisa udah ada yang punya, harus bisa merelakan benar, gak usah berharap lagi, ya sama Bu Nisa, he he he.” Deden ikut menimpali, bahkan meledek Wahyu.
Nampak wajah Wahyu yang sepertinya sangat tersinggung sekali dengan apa yang dikatakan oleh Deden.
“Iya, saya juga tahu kok,” balas Wahyu, lalu pergi begitu saja meninggalkan ruangan tersebut dengan raut wajah kecewa.
“Wah, ada yang patah hati kayaknya tuh,” celetuk Riri lagi seraya terkekeh.
Nisa hanya menatap Riri dengan tajam saja, tidak suka ia menyinggung dirinya.
“He he he. Iya, maaf, maaf, udah sih gak usah sensi gitu tahu,” balas Riri lagi kepada Nisa sambil tersenyum kikuk.
“Udah memang seharusnya ditegaskan sama Pak Wahyu, Bu Nis, sebab memang dia kalau belum ditegaskan begitu tetap aja ngeyel, udahlah sepertinya memang Bu Nisa harus segera menikah juga, biar cepat bebas dari Pak Wahyu dan Pak Dani,” tutur Deden lagi.
Nisa terdiam, lengang sejenak. Ia memang satu pendapat dengan Deden. Ia harus segera menikah agar perasaan cinta yang ia miliki kepada Dani hangus juga.
Ting Nong
Bunyi pesan singkat yang masuk pada ponsel Nisa. Entah dari siapa.