[Halo, Nisa sayang, kamu lagi apa, sayang?] tanya Reza kepada Nisa melalui pesan singkat yang dikirimkan oleh lelaki itu dengan tata bahasa yang selalu berulang kali digunakan double.
Nisa hanya tersenyum datar saja ketika mendapati pesan dari calon suaminya, ia sendiri sudah pasrah dengan apa yang terjadi kepadanya saat ini, mungkin dengan perjodohan ini akan menghilangkan perasaannya juga kepada Dani.
Sebab Nisa cukup yakin dengan dirinya sendiri bahwa ia akan setia kepada lelaki yang menjadi suaminya nanti.
Ia pasrah menerima begitu saja untuk menikah dengan lelaki yang baru saja ia kenal beberapa hari lalu, karena memang ibu dan bapaknya sudah percaya penuh kepada mereka. Biarkan saja dulu Nisa menyenangkan hati kedua orang tuanya dengan pernikahan tersebut.
Toh ini adalah pilihan mereka, yang dianggapnya tepat, katanya pilihan orang tua selalu tepat, begitu katanya.
“Aku lagi rebahan aja,” jawab Nisa singkat dan padat.
[Oh, ya kalau Aa lagi nonton TV nih, ada sinetron indosiar itu, bagus banget acaranya tahu,] ucapnya lagi lewat pesan singkat yang menyebut dirinya sendiri dengan panggilan ‘Aa.’
Nisa pun hanya mengernyitkan dahinya saja ketika membaca jawaban dari Reza sedang menonton TV, padahal dia sendiri sudah enggan sekali untuk menonton TV, bahkan dirinya tidak suka dengan acara sinetron, yang menurutnya hanya buat penasaran dan buang-buang waktu saja.
Ia lebih suka menonton film sekali tamat, yang ia sering dapatkan dari Google atau dari temannya.
[Lalu kamu maunya kapan pernikahan kita dilaksanakan? Aa tuh udah gak sabar banget buat kita menikah, karena Nisanya cantik,] tanya Reza lagi melalui pesan singkatnya.
Nisa menghela nafasnya pelan, ketika mendapati pesan demikian dari Reza, yang bertanya tanggal pernikahan. Ia sendiri masih bingung dengan apa yang harus ia lakukan saat ini, selain menerima perjodohan tersebut.
Terlebih dengan kedua orang tua Nisa yang selalu saja mendesaknya untuk segera menerima pernikahan itu, kebanyakan orang tua selalu ikut campur masalah anaknya, bahkan mengatur masa depan anaknya tanpa bertanya terlebih dulu kepada sang anak, apa ia suka atau tidak.
Berlindung dari kata, 'semuanya demi kebaikan kamu, dan kami selaku orang tua sudah tahu bagaimana yang namanya kehidupan.'
“Aku terserah bagaimana kalian aja di sana.” Nisa memberikan jawaban diplomatis kepada Reza, sehingga saat itu pula, ia pun tidak sadar, terjatuh pula, tidur.
[Okelah kalau begitu, Nisa sayang! Aa mau kasih tahu Bunda dan Ayah, ya kalau kamu menyerahkan semuanya kepada Aa,]
***
“Bagaimana, Nis? Sudah ada kabar dari pihak keluarga sana?” tanya bapak kepada Nisa pada pagi hari itu, ketika ia sedang sarapan sebelum pergi ke sekolah, sementara bapaknya tentu saja hanya di rumah saja.
Karena memang kedua orang tua Nisa dulunya pedagang yang cukup besar tokonya, dan memiliki sawah di mana-mana, akan tetapi saat ini habis, hanya tingggal tersisa satu atau dua petak sawah saja karena dipakai biaya sekolah Nisa dan lainnya.
“Belum ada, Pak,” jawab Nisa singkat seraya menyuapi nasi goreng buatannya sendiri ke mulutnya.
“Kamu harus menerimanya, Nisa, coba bujuk Reza bagaimana caranya agar dia mau mempercepat pernikahan kamu, sebab jujur bapak udah gak punya apa pun lagi, udah gak punya banyak uang untuk membantu membiayai kamu kuliah…”
“dan uang bapak pun memang udah habis untuk biaya sekolah kamu dulu selama di pesantren,” tutur bapaknya Nisa panjang lebar, seolah apa yang selama ini ia lakukan untuk Nisa, ingin dibayar.
Padahal jika boleh menimpali, uang bapaknya Nisa bukan habis oleh Nisa seorang, akan tetapi habis karena ditipu saudara bapaknya sendiri.
Biaya yang dikeluarkan untuk Nisa sekolah sama banyaknya dengan biaya yang dikeluarkan untuk kedua kakak lelakinya.
Nisa memiliki dua kakak laki-laki, dan satu kakak perempuan, ketiganya hanya lulusan SMP saja, karena memang enggan untuk melanjutkan sekolah mungkin merasa bahwa orang tuanya saat itu memiliki kekayaan yang cukup.
Padahal investasi terbesar adalah kepada pendidikan dan ilmu pengetahuan, karena harta tentu saja akan habis seperti saat ini.
‘Si bapak selalu aja itung-itungan kalau udah biayain aku sekolah, padahal yang lainya juga sama, udah ngabisin banyak duit,’ gerutu Nisa dalam hatinya.
Mungkin hanya kakak perempuannya saja yang tidak pernah menyusahkan orang tuanya, bahkan anak perempuanlah yag nyatanya lebih banyak berbakti dan memberi ketimbang meminta.
“Iya, Pak, iya, tenang aja, kan Nisa juga untuk kuliah yang ini pake biaya sendiri, dan sebenarnya meskipun tidak dibantu sama mereka, Nisa masih sanggup kok,” kilah Nisa membela dirinya sendiri.
Ia cukup yakin dengan dirinya sendiri, meskipun memang honor yang ia dapatkan dari sekolah tidak lebih dari 300 ribu saja perbulan, akan tetapi ia mendapatkan penghasilan dari bisnis onlinenya yang cukup laku keras.
“Iya, tapi tetap aja bapak gak tega lihat kamu kadang harus cape kerja keras banting tulang demi membiayai kuliah kamu,” sahut bapaknya Nisa lagi, entahlah mungkin hal itu pula yang dilakukan oleh bapaknya Nisa kepada kedua kakaknya.
Padahal jika mau mengambil hikmahnya, tentu saja hal itu akan menjadi pecutan dan pembelajaran sendiri, secara tidak langsung akan menjadikan Nisa menjadi orang yang mandiri dan kuat.
Ah, sebagian orang tua selalu bersembunyi dari kata kasihan kepada anaknya, padahal hal itu hanya akan menjadikan anaknya lembek saja, terus berpangku dan bergantung kepada orang tuanya.
“Tenang aja, Pak, rezeki udah ada yang ngatur,” jawab Nisa lagi sekenanya saja.
“Bukan hanya itu, Nis, kan kamu tahu, kalau kodrat kamu itu wanita, kamu harus ingat, jadi wanita itu rawan, dia bawa-bawa perut, kami berdua hanya khawatir aja kalau kamu nanti sampai kebablasan hamil di luar nikah.” Ibunya Nisa kini ikut nimbrung pula.
‘Astaga, kenapa sih si ibu ini selalu aja khawatir berlebih, ngomong itu lagi aja berulang kali! ’ keluh Nisa dalam hati, meskipun memang ia sendiri tidak yakin akan bisa menjaganya ketika dipertemukan dengan lelaki yang ia cinta.
Seperti Dani misalnya, untung saja ketika di perkemahan itu, Dani sendiri yang cukup sadar diri, sehingga ia mengendalikan dirinya sendiri untuk tidak terjerat lebih jauh lagi, dengan alasan karena lelaki itu sudah berjanji kepada Nisa untuk tidak merusaknya, padahal alasan utamanya mungkin saja karena ia takut kepada istrinya.
“Iya, Bu, tenang aja, kan mereka juga udah setuju tinggal menentukan tanggal. Lagi pula, udah sih ibu ini, jangan terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi.” Nisa menenangkan ibunya agar tidak terlalu mengkhawatirkan lagi.
“Kan sama aja, Nis, namanya manusia kita harus jaga-jaga, wajar khawatir itu,” sahut ibunya lagi membela dirinya.
“Tapi ibu terlalu berlebihan,” balas Nisa lagi yang kini nasi goreng yang ada di hadapannya itu sudah habis tak bersisa, hanya menyisakan sendoknya saja.
Ibu dan bapaknya Nisa hanya terdiam saja, tidak lagi menimpali ucapan Nisa, sebab mereka pun tahu meski Nisa agak pendiam, akan tetapi anaknya itu cukup keras kepala, tapi untungnya mereka selalu bisa mengendalikan.
“Ya sudah, Nisa berangkat ke sekolah dulu, ya Bu.” Nisa bangkit dari duduknya, lalu segera menyalami kedua orang tuanya, mencium punggung tangannya untuk pergi ke sekolah.
Yaa meskipun honor yang ia dapatkan dari sekolah hanya cukup untuk bensin saja, akan tetapi ia yakin semuanya akan menjadi berkah jika ia bersyukur.
“Oh, iya, kalau bisa nanti kamu langsung pulang ke rumah, ya Nis! Jangan lama-lama di sekolah,” pinta Ibu kepada Nisa ketika ia hendak menyalakan mesin motor maticnya.
“Ada apa, Bu?” tanya Nisa penasaran.