"Jadi bagaimana, Bun? kapan Reza bisa nikah sama Nisa?” tanya Reza kepada Bundanya, ketika mereka tentu saja sudah sampai di rumahnya lagi, di kota, yang memerlukan waktu sekitar 2 jam lebih saja untuk ke rumah Nisa.
“Sabar dong, Za, kamu itu baru juga kenal dan ketemu satu kali, udah ngebet banget kayaknya pengin nikah,” celetuk Toni, Ayahnya Reza seraya terkekeh.
“He he he. Reza kan pengin cepat punya istri, Ayah, pengin cepat ada yang ngurusin juga,” jawab Reza lagi berkelakar.
Eneng masih diam saja mendengarkan suami dan anaknya itu berbincang, sesekali focus pada ponselnya, entah apa yang sedang wanita itu lakukan.
“Si Bunda sibuk banget sih, Za, lagi apa sih dia?” tanya Toni kepada Reza seraya mengangkat kedua alisnya, dan dengan penuh rasa penasaran pun, Reza mencondongkan tubuhnya ke arah bundanya, untuk mengecek apa yang sedang ia lakukan.
“Wah, si Bunda lagi stalking Face book Nisa, kayaknya, Yah,” jawab Reza kepada Ayahnya, lalu kembali menarik tubuhnya, akan tetapi kini ia malah pindah ke sofa panjang, dan merebahkan dirinya di sana.
“Iya dong, kan kita juga harus tahu bagaimana calon istri kamu, Reza!” sahut Eneng, seraya terus menerus men-scroll dari atas ke bawah. Yang mana memang Nisa sengaja menyetel akun Face booknya secara public, jadi bisa dilihat meskipun belum berteman.
“Bunda add Face booknya Nisa ahh, kalian udah pada add belum?” tanya Eneng kepada anak dan suaminya.
Anak dan suaminya kini hanya saling menggelengkan kepalanya saja, pertanda bahwa memang mereka belum melakukan apa yang ditanya oleh Eneng.
“Tapi lumayanlah, Nisa ini gak akan malu-maluin kalau dikenalkan sama teman-teman kerja kita, ya Yah, karena dia cukup bagus pendidikannya, dan juga dia cukup cantiklah, sesuai dengan keinginan kita, nyari calon istri buat si Reza orang kampung, tapi punya pendidikan dan juga enak dipandang,” tutur Eneng lagi pada suami dan anaknya.
“Iya, Bun, benar banget tuh! Ayah juga sama kalau ditanya mantunya apa, jadi gak malu jawabnya, kan?” sahut Toni kepada istrinya, dan Reza pun tentunya hanya mangguk-mangguk saja setuju dengan ucapan kedua orang tuanya itu.
“Meskipun orang kampung, tapi gak kampungan. Dari pada nyari calon orang kota, pasti banyak maunya dan juga pada mata duitan,” sahut Eneng lagi yang mengira bahwa orang kota tentunya akan lebih banyak menuntut Reza dalam segi ekonomi, tidak seperti orang kampung, yang menurut mereka akan menerima saja apa yang diberikan oleh suaminya.
“Dan jika dilihat dari sikapnya Nisa, dia kalem juga, gak akan macam-macam minta ini itu, yang pasti akan mudah diatur sama kita, gak kayak orang kota,” sambung Eneng lagi paa kesan pertamanya bertemu dengan Nisa.
Ya, Eneng dan Toni sudah sangat yakin untuk menikahkan Nisa dengan anaknya itu, karena dianggap akan mudah sekali diatur.
“Terus kapan, Bun? Reza udah gak sabar nih karena teman-teman Reza semuanya udah pada nikah,” tanya Reza lagi untuk kedua kalinya seraya menoleh ke arah Bundanya.
Eneng dan Toni hanya diam saja untuk sejenak, memikirkan waktu yang tepat untuk melangsungkan pernikahan.
“Benar juga tuh, Bun, harus segera dilaksanakan, biar Nisa gak berubah pikiran lagi, lagian kan Bunda juga katanya udah gak sabar pengin punya cucu.” Suaminya pun ikut memberikan saran juga.
“Iya juga sih, ya, mumpung ada yang cocok sama kita dan Reza, kan selama ini ada yang cocok sama kita, eh si Rezanya gak mau, kayak anaknya teman Ayah itu, bagus sih sebenarnya, hanya saja emang kurang cantik,” sahut Eneng menimbang-nimbang.
“Nah, kan, mumpung ada yang cocok sama kita semua, Reza suka banget kok kalau sama Nisa, dia gak akan malu-maluin kalau diajak kondangan, Bunda, he he he!” Reza bersungut-sungut lagi.
“Bunda belum siap melepas Reza, tapi Bunda juga udah kepengin banget punya cucu, Yah,” ujar Bunda bingung sebab memang bagaimana pun sampai saat ini, ia lah yang menyediakan semua kebutuhan Reza, layaknya anak kecil.
Padahal Reza usianya sudah menginjak angka 27, hanya selisih dua tahun lebih tua dari Nisa saja, akan tetapi Eneng masih memperlakukan anaknya itu seperti anak kecil saja. bisa dibilang anak Mami.
“Masalah itu mah gampang, Bun, kan Reza sama Nisa bisa kita suruh tinggal di sini aja, atau kita kasih rumah yang lokasinya dekat dari rumah kita aja, Bun.” Toni menenangkan istrinya yang nampaknya sedih akan kehilangan anak lelakinya itu.
“Eh, iya juga sih, ya Yah, kita bisa minta Reza dan Nisa untuk tinggal dulu di sini 3 atau 4 bulan setelah itu mereka bisa pindah dari sini,”
“Dan cukuplah waktu tiga bulan ini itu mengajari Nisa bagaimana cara memperlakukan suaminya dengan baik, atau secara gak langsung apa yang biasa Bunda lakukan kepada Reza, akan digantikan oleh Nisa,” tutur Eneng bersungut-sungut lagi tiada henti.
Ia sudah punya rencana sendiri bagaimana agar menantunya itu bisa memperlakukan anaknya, Reza dengan baik, seperti halnya ia memperlakukan Reza sebagai anak kesayangannya.
“Nah, Ayah setuju banget dengan saran dari Bunda,” timpal Toni kepada istrinya seraya tersenyum manis kepadanya.
Sementara itu kini Reza sedang asyik rebahan di sofa panjang, menonton Televisi, yang juga tidak jauh dari Ayah dan Bundanya yang sedang duduk.
“Bagaimana, Reza? Kamu mau kan menerima saran Bunda yang tadi?” tanya Toni kepada anaknya.
“Iya, Ayah, Reza sih bagaimana Bunda aja, nanti Reza akan ngomong sama Nisa kalau setelah nikah nanti harus tinggal di sini,” jawab Reza enteng saja, tanpa menoleh.
“Kamu tuh kalau ngomong sama orang tua, yang benarlah, Reza! Jangan sambil rebahan dan focus sama TV aja, lagian ya kamu itu doyan banget sih sama sinetron, kayak cewek aja.” Toni kini malah mengoreksi sikap anaknya yang memang masih sering kali kekanak-kanakan.
“Eh, iya, Ayah.” dengan wajah masam, Reza pun bangkit dari tidurnya, dan ia kini duduk seraya menghadap orang tuanya seperti pertama kalinya berbincang beberapa menit lalu.
“Ih, si Ayah, biarin aja sih! Bunda gak suka kalau Reza dimarahin seperti itu!” Eneng sewot, tidak suka jika anaknya dimarahi, meski oleh ayahnya sendiri.
Reza kini tersenyum senang, ketika mendapat pembelaan dari Bundanya, yang tentu saja akan kalah pamor, sebab memang semua yang ada di rumah itu akan tunduk kepada Bundanya, termasuk ayahnya juga.
“Iya, Bun, Ayah minta maaf.” Toni meminta maaf kepada istrinya, tidak ingin membuatnya marah lagi, ah, entah bagaimana kondisi keluarga itu, terlebih peran sebagai kepala rumah tangga pun sepertinya tidak berfungsi baik bagi Ayahnya Reza, Toni.
‘Syukurin loh, Ayah! emangnya enak dimarahin gitu sama si Bunda,’ ucap Reza dalam hatinya seraya mesem-mesem.
“Kenapa kamu malah senyum-senyum gitu, Reza? Emangnya ada yang lucu?” tanya Eneng dengan nada tinggi kepada Reza.
DEG
Seketika Reza pun kini menghentikan senyumannya.