“Ada apa, Bu? ” tanya Nisa kepada ibunya, entahlah tiba-tiba saja wanita polos itu dipanggil oleh ibunya, seperti akan membicarakan sesuatu yang sangat penting sekali.
“Jadi begini, kemarin siang Bu Wawat ke sini, katanya kamu mau gak dikenalkan dengan keponakannya, anak dari adiknya Bu Wawat,” ucap Ibu kepada Nisa langsung saja, tanpa basa-basi lagi mengatakan maksud dan tujuannya.
Nisa masih terdiam, ia masih belum bisa mencerna apa yang dimaksudkan oleh ibunya.
“Jadi, keponakannya Bu Wawat itu sedang mencari istri, katanya, orangnya baik, kalem, dan juga sudah haji, jadi udah pasti dia sangat taat agamanya.” Ibu menjelaskan lagi, kini sudah fahamlah dengan apa yang dimaksudkan oleh ibunya itu, ternyata hendak berniat menjodohkan.
Bagaimana bisa Bu Aisyah itu mengatakan bahwa lelaki yang akan dijodohkan dengan Nisa adalah orang yang taat beragama hanya karena sudah naik haji? Padahal sudah jelas pada zaman saat ini gelar haji hanya dijadikan sebagai gengsi saja, bukan tanda bahwa orang itu mempunyai ilmu agama yang tinggi.
“Kamu mau cari yang bagaimana lagi, Nisa? Keponakan Bu Wawat itu sangat baik, terlebih lagi kita semua tahu bahwa keluarga Bu Wawat cukup terpandang, dan banyak uangnya, setidaknya nanti kamu akan ada yang bantu untuk membiayai kuliah kamu seperti apa yang dijanjikan oleh mereka, dan dapat dipastikan bahwa adik Bu Wawat yang ada di kota ini berbeda jauh dengan keluarga besarnya yang ada di kampung kita,” tutur bapak Nisa.
Kalimat bapaknya Nisa memang tidak memaksa, akan tetapi kalimatnya yang serasa mengintimidasi, yang tentunya ia pun tahu dengan akibatnya jika Nisa sampai menolak perjodohan tersebut, mungkin ia akan diusir seperti kakaknya beberapa tahun silam lalu.
“Bagaimana? Kamu mau, kan? Kalau kamu mau, ibu akan segera memberi jawaban kepada Bu Wawat,” desak Ibu lagi kepada Nisa.
Entahlah Nisa sendiri tidak habis pikir, kenapa pula ibu dan bapaknya mudah percaya begitu saja pada orang yang belum dikenalnya sama sekali.
Meskipun memang lelaki yang akan dijodohkan dengan Nisa adalah keponakan dari tetangganya sendiri, akan tetapi tetap saja bukan menjadi rahasia umum lagi, bahwa keluarga besar Bu Wawat sangat songong dan sombong, karena kekayaan yang tak seberapa dan tidak dibarengi dengan ilmu pengetahuan, dan pendidikan yang bagus, terlebih karena tinggal di kampung. Maka semakin jadilah!
Nisa masih diam saja, tidak langsung menjawab pertanyaan dari Ibunya, sedangkan bapaknya sudah mewanti-wanti tidak sabar menunggu jawaban Nisa. Nampak keras wajahnya.
Ia sendiri nampak terkejut ketika kedua orang tuanya kini malah akan menjodohkannya, apa memang ia harus menerima perjodohan ini? Siapa tahu bisa lepas dari Dani untuk selamanya, lebih tepatnya bisa lepas dari perasaannya kepada lelaki beristri itu.
“Sudahlah, Nisa! Kamu mau cari yang bagaimana lagi memangnya? Jarang sekali ada orang kaya seperti mereka mau menjadikan ibu dan bapakmu ini sebagai besannya,” timpal Bapaknya Nisa yang sudah begitu percaya sekali kepada keluarga tersebut.
Nisa meringis dalam hatinya, padahal sudah jelas dengan pendidikannya saat ini, ia bisa mencari calon suami seperti apa yang ia inginkan, tanpa melihat keluarganya yang memang sangat sederhana.
Terlebih lagi bagi orang berpendidikan dan faham akan ilmu tentu saja tidak menjadikan harta dan warisan sebagai pembeda, justru hanya ilmu dan tingkat ketaqwaanlah yang membedakan semuanya.
“Ya sudah, Bu! Nisa mau.” Nisa terpaksa dan mengalah juga, sebab bagaimana pun untuk saat ini ia belum bisa membantah kepada orang tuanya meskipun itu adalah hal keliru, entahlah apa mungkin karena ia yang selama ini terlalu lama tinggal di pesantren sehingga menjadikan dirinya seperti katak dalam tempurung?
“Alhamdulillah, syukurlah jika memang kamu mau menerima perjodohan ini, Ibu akan segera memberi kabar Bu Wawat, agar Bu Wawat pun segera memberi kabar adiknya yang ada di kota itu.” Ibu mengelus d**a, merasa lega ketika Nisa menerima perjodohan itu dengan suka rela saja, tanpa penolakan.
Epi, bapaknya Nisa pun kini merekahkan senyum setelah mendengar persetujuan dari Nisa bahwa ia menerima perjodohan tersebut.
“Ya sudah, Pak, ibu akan ke rumah Bu Wawat dulu, ya sebentar, mau ngasih kabar kalau Nisa mau,” ucap Aisyah dengan wajah gembira dan penuh kebahagiaan.
“Bukannya Bu Wawat sendiri yang akan ke sini besok untuk mendapatkan jawabannya, Bu?” tanya Epi kepada istrinya yang saat itu sudah tidak sabar lagi ingin memberikan kabar bahagia ini kepada Bu Wawat.
Ya, bagi seorang ibu yang memang pendidikannya tidak terlalu tinggi, lalu tinggal di kampung, terlebih lagi tidak tidak mau belajar untuk mengikuti zaman, tentunya akan bahagia sekali jika anak perawannya akan dinikahi oleh lelaki dari keluarga yang cukup terpandang.
“Oh, iya, ya, Pak. Ya sudah deh, benar kata Bapak, lebih baik besok saja,” balas Aisyah yang kini teringat kembali dengan ucapan Bu Wawat, ya meski rumah keduanya hanya berjarak sekitar 500 meter saja, tetap saja akan menghabiskan waktu, dan terkesan ngebet.
Jadi lebih baik memang Bu Aisyah dan keluarganya menunggu saja Bu Wawat datang ke rumahnya besok pagi.
“Bapak yakin kalau pilihan kami kali ini sangat tepat untuk kamu, Nisa! Jadi kamu pun harus ikut bahagia, sebab bagaimana pun semua teman-teman kamu yang ada di sini sudah pada menikah, bahkan sudah punya anak…
“hanya kamu saja satu-satunya yang masih perawan, bapak gak mau kalau kamu dicap sebagai perawan tua oleh tetangga di sini dan dibilang gak laku,” tutur Epi bersungut-sungut kepada Nisa memberikan nasihat.
Memang sudah dapat ia tebak hal itu akan keluar dari mulut kedua orang tuanya, padahal usianya baru saja menginjak angka 25 tahun, akan tetapi sudah hampir dicap sebagai perawan tua, ah memang hidup di kampung itu penuh dengan tetangga julid.
“Seharusnya Bapak dan Ibu gak usah dengerin omongan tetangga, kalau didengerin gak akan ada habisnya,” sahut Nisa yang kini menimpali ucapan bapaknya.
“Ya, tetap saja toh Nis! Meski gak didengarkan, tetap aja kedengaran sama kita, dan itu tentunya lebih menyakitkan! Lagi pula, sudahlah! Toh memang usia kamu juga sudah pantas untuk menikah, Nis!” Ibu kini menimpali, membela suaminya.
“Nah, benar dengan apa yang ibumu katakan itu, Nisa! Setidaknya bapak pun kini bisa tenang karena anak kami sudah ada yang jaga, kamu juga nanti merasakan bagaimana was-wasnya punya anak perempuan, takut kebablasan,” timpal Epi.
“Karena perempuan itu bawa perut, Nisa! Kamu harus ingat akan hal itu, jadi ketika kamu nanti sudah menikah, maka ibu dan Bapak akan lega dan tenang, karena sudah berhasil mengantarkan kamu pada lelaki yang akan menikahimu, tidak bunting di jalan seperti anak tetangga,” sahut Ibu.
Ya kedua orang tua Nisa kini saling bersahutan memberikan wejangan kepada Nisa bahwa keputusan yang diambil oleh kedua orang tuanya itu adalah yang terbaik untuknya.
Padahal yang akan menjalani pernikahan ini adalah Nisa, bukan bapak ibunya, hal yang masih banyak sekali terjadi pada masyarakat dengan alibi untuk kebaikan sang anak.
“Iya, Bu, iya,”
“Assalamualaikum,” terdengar kalimat salam dari luar sana terdengar, seketika Nisa dan kedua orang tuanya pun menoleh ke asal suara tersebut. Entah siapa yang datang pada malam hari seperti ini.