"Mbah kok gak bilang-bilang sih sama saya kalau peletnya gagal pada target?” tanya Wahyu bersungut-sungut sebal kepada lelaki setengah tua, yang katanya adalah orang pintar.
Lelaki setengah tua itu sedikit terkejut dengan kedatangan Wahyu yang tiba-tiba saja tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, selonong boy begitu saja, tidak punya sopan santun karena saking kesal dan sebalnya.
“Kenapa gak mengetuk pintu dulu, Wahyu! Kamu ini kebiasaan sekali,” balas lelaki setengah tua itu yang bernama Mbah Mijan bersungut-sungut pula.
Wahyu dan Mbah Mijan memang sudah akrab, keduanya sudah sering kali bertemu, terlebih memang bahwa Mbah Mijan itu adalah salah satu keluarganya pula, keluarga jauh lebih tepatnya.
“Saya kesal karena pelet yang Mbah kirimkan untuk wanita yang saya suka itu ternyata gagal, bahkan dia juga tahu kalau saya udah memeletnya,” tutur Wahyu lagi menjelaskan kepada Mbah Mijan dengan wajah yang masih menampakkan rasa kecewa dan kesal.
“Mbah sudah katakan kepada kamu, kita hanya sebatas nyareat saja, ketentuannya ada pada yang di atas, gusti Allah!” Mbah Mijan merespon ucapan Wahyu.
“Dih, itu sih sama aja namanya, gak meski saya minta tolong sama Mbah Mijan kalau hasilnya tidak jelas,” sahut Wahyu lagi tidak puas dengan jawaban Mbah Mijan.
“Kamunya saja b**o sebagai lelaki, kenapa harus pake pelet segala untuk mendapatkan hati seorang wanita, apa kamu tidak bisa pakai otak kamu yang katanya sudah sarjana itu!” Mbah Mijan bahkan kini habis-habisan mencela Wahyu.
“Duh, bukan gitu, Mbah! Tapi kan saya udah ditolak mentah-mentah sama dia, itulah alasannya kenapa saya minta bantuan sama Mbah,” bantah Wahyu lagi, tidak terima jika disalahkan begitu saja, apalagi disebut b**o.
“Itu artinya kamu memang b**o, Wahyu! Menaklukan hati seorang wanita saja tidak becus!” Mbah Mijan masih bersungut-sungut, sedikit kesal kepada Wahyu, karena telah mengganggu waktu semedinya.
“Ya sudah kalau begitu, cabut saja lagi jampi-jampinya untuk Nisa, Mbah! Saya baru aja disidang oleh tiga orang sekaligus karena ketahuan memelet Nisa,” pinta Wahyu kepada Mbah Mijan, sehingga kalimat itu mampu membuat lelaki paruh baya tersebut tertarik.
Kepala lelaki itu tertutup dengan kain penutup yang dililitkan, dan baju lelaki setengah tua itu pun serba hitam, memang sudah cocok disebut dengan Mbah dukun.
“Lho, kenapa malah ditarik? Bukannya bagus? Itu artinya auranya akan tertutup, dan secara gak langsung wanita itu tidak punya pilihan lagi selain menikah dengan kamu,” ucap Mbah Mijan yang memang juga tahu jika pelet yang ia gunakan itu tidak berhasil kepada target, itu artinya hanya akan menjadikan target tersebut tertutup saja auranya.
Yang artinya tidak ada lelaki yang akan tertarik kepada Nisa untuk menikahinya, dan itu seharusnya diuntungkan juga bagi Wahyu, bukan? Sebab Wahyu akan menjadi opsi terakhir.
“Gak, Mbah! Masalahnya saya sudah ketangkap basah, saya juga sudah disidang oleh tiga orang sekaligus, gak bisa kalau dilanjutkan lagi peletnya,” bantah Wahyu menjelaskan kenapa ia ingin dicabut saja jampi-jampinya.
Mbah Mijan masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Wahyu, ia hanya diam saja beberapa saat, sehingga pada akhirnya Wahyu pun menjelaskan lebih detail lagi.
“Nisa tahu bahwa saya memelet dia karena ada yang memberitahunya ketika di kereta kemarin, katanya laki-laki juga, dia bisa menebak kalau sedang ada bayangan hitam menutup wajahnya.”
“Itu artinya wanita itu memang cukup kuat bathinnya, Wahyu! Maka pelet Mbah pun tidak mempan padanya, entah amalan apa yang ia gunakan, dan ini salah satu contohnya, tiba-tiba saja ia dipertemukan dengan lelaki yang bisa menebak dirinya jika sedang berada dalam hal buruk,” tutur Mbah Mijan menjelaskan kepada Wahyu.
“Iya, Mbah, makanya saya mau mencabut saja, sebab saya sudah diancam juga,” ucap Wahyu lagi memelas.
“Makanya kamu itu, jangan asal aja main-main pelet sama wanita! Kalau memang suka sama wanita, ya usaha pake otak dan akalmu, bukan pake jalan pintas seperti ini, yang malah akan membuat wanita itu semakin benci dan mati rasa kepada kamu,” tutur Mbah Mijan lagi.
Ya lelaki itu malah memberikan nasihat kepada Wahyu, padahal kepada orang lain, tentu saja mendukungnya agar meminta jasa kepadanya.
“Iya, Mbah, maaf, maaf, makanya sekarang tolong cabut, ya jampi-jampinya,” pinta Wahyu lagi, sehingga kini lelaki setengah tua itu pun hanya menganggukkan kepalanya saja.
***
“Saya gak nyangka kalau Pak Wahyu sampai melakukan itu kepada Bu Nisa,” ucap Firman, kembali membahas masalah itu dengan Wahyu, sebab memang ketika ia bertanya di sekolah kemarin, Firman mendapatkan telephone dari bapaknya, agar segera pulang.
“Ya bagaimana lagi, udah buntu, kan katanya cinta ditolak, dukun bertindak,” sahut Wahyu santai saja kepada Firman, tanpa rasa bersalah sama sekali sudah melakukan hal di luar batas kepada Nisa.
“Ha ha ha.” Firman hanya terkekeh saja mendengar jawaban dari temannya itu.
“Lagian kenapa sih si Nisa itu malah lebih suka jadi istri kedua dari pada sama saya? Memangnya seganteng apa lelaki itu dibandingkan saya?” cerocos Wahyu lagi yang kini ke mana-mana ucapannya.
“Coba saja tengok sana! Bagaimana seleranya Bu Nisa,” sahut Firman yang masih terkekeh saja melihat respon Wahyu.
“Tapi kata Bu Riri, cowok yang disukai Nisa itu PNS, tinggi, dan kekar badannya,” ucap Wahyu mulai sadar diri.
“Nah, itu mungkin salah satunya, makanya jangan banyak malas, olah raga yang benar,” celetuk Firman lagi sekenanya saja bicara, padahal dirinya pun sama saja malas untuk berolah raga. Sebagai lelaki tentu saja olah raga sangat penting sekali untuk menambah kekuatan.
“Udahlah, diam! Yang penting Pak Firman nanti jangan sampai tertarik sama bu Nisa, awas, ya! Semoga aja nanti setelah dia gak punya pilihan lagi, maka dengan otomatis akan lari kepada saya.” Wahyu mencoba untuk percaya diri.
“Eh, katanya sekarang banyak yang ngejar-ngejar Bu Nisa, gimana sih itu! berarti orang yang ketemu di kereta sama bu Nisa juga gak pintar, katanya auranya tertutup, itu buktinya malah ada aja cowok yang suka sama dia.” Firman menjelaskan, ia tahu dari obrolan Deden dan juga Riri.
“Bahkan Pak Deden aja mengenalkan temannya kepada Bu Nisa, hanya saja katanya Bu Nisa yang selalu nolak untuk diajak ketemuan,” sambung Firman lagi.
“Seriusan? Pak Deden malah mengenalkan temannya juga sama bu Nisa?” tanya Wahyu tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Firman, lelaki itu pun hanya mengangguk saja.
“Kok kenapa pada gak mendukung saya untuk mendapatkan bu Nisa sih? Memangnya saya ini kenapa, gak pantas gitu buat dia?” tanya Wahyu bersungut-sungut.
Lelaki itu terlalu percaya diri sehingga ia lupa untuk introspeksi pada dirinya sendiri bahwa masih banyak sekali kekurangan dalam dirinya, termasuk rasa tanggung jawabnya yang miris sekali.
“Coba mulai dari tanggung jawab dulu, Pak Wahyu!” Firman memberikan saran, seketika Wahyu langsung membelalakan matanya kepada temannya itu yang juga menganggapnya tidak punya rasa tanggung jawab.