"Waalaikum salam." Bu Aisyah − Ibunya Nisa pun segera bergegas menuju depan, membukakan pintu dan melihat pula siapa gerangan yang datang bertamu ke rumahnya.
“Bu Aisyah,” sapa wanita paruh baya yang usianya sekitar setengah abad.
“Eh, Bu Wawat, silakan masuk, ayok!” seru Bu Aisyah, ketika tahu bahwa yang bertamu ke rumahnya pada malam hari itu adalah Bu Wawat, orang yang memang ia sedang tunggu juga, bahkan awalnya, Bu Aisyah ingin langsung datang ke rumah Bu Wawat, hanya untuk memberikan kabar bahwa Nisa bersedia untuk dijodohkan dengan keponakannya.
Kedua wanita paruh baya itu pun langsung masuk ke dalam rumah, yang tentunya di ruang tamu sana ada Nisa dan juga bapaknya, Epi.
“Wah, kayaknya lagi kumpul juga, ya,” seru Bu Wawat ketika ia sampai di ruang tamu dan mendapati Nisa di sana, orang yang memang sedang ia tunggu juga jawabannya.
“Wah, iya nih, Nisa juga ada di rumah, pas sekali Bu Wawat datang ke sini,” timpal Pak Epi yang kini ikut berkomentar juga.
“Iya nih, Pak Epi! Kebetulan saya lewat rumah bapak, jadi sekalian aja mampir ke sini untuk menanyakan langsung kesediaan Nisa,” jawab Bu Wawat dengan senyum manisnya.
Entah senyuman itu tulus atau tidak, yang jelas ketika memang di depan orangnya, ia selalu bersikap ramah, entahlah jika berada di belakangnya, sebab memang sebagian keluarganya terkenal dengan sikapnya yang angkuh.
Bahkan tak jarang juga sering menghina orang lain di depan orang tersebut, atau bahkan ada yang bermuka dua. Entahlah semoga saja keluarga yang akan menjadi mertuanya itu memang berbeda dari saudaranya yang lain, bathin Nisa, yang sudah tidak aneh lagi, menjadi rahasia umum.
“Iya, niatnya saya mau tadi ke rumah Bu Wawat untuk memberikan jawaban dari Nisa, tapi kata si bapak, nanti aja katanya besok, takut ganggu Bu Wawat kalau malam,” sahut Bu Aisyah yang juga kini berkata.
“Wah, padahal saya sama sekali tidak pernah terganggu, Bu Aisyah tahulah bagaimana saya, kan tidak punya suami dan juga tidak punya anak kecil, jadi gak akan pernah repot kalau di rumah,” kelakar Bu Wawat seraya terkekeh.
“Jadi bagaimana jawabannya? Apa Nisa mau untuk dijodohkan?” tanya Bu Wawat langsung kepada Nisa.
Nisa terkesiap ketika ditanya langsung oleh Bu Wawat, ia hanya diam sejenak, dan belum juga ia menjawab, sudah dijawab terlebih dulu oleh bapaknya.
“Katanya, Nisa mau, Bu!” jawab Pak Epi yang menyerobot jawaban yang seharusnya dijawab oleh Nisa.
“Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu, saya sangat senang sekali, saya juga gak sabar untuk memberi kabar kepada adik saya, Haji Eneng. Pasti dia sangat senang karena akhirnya bisa punya mantu.” Bu Wawat berseri-seri yang selalu memakai gelar hajinya untuk memanggil nama saudaranya.
Dari semua saudaranya, Bu Wawat adalah satu-satunya yang tidak berhaji, katanya menurut kabar yang tersebar dulu, ketika diberikan jatah naik haji oleh orang tuanya, ia pakai untuk membuat rumah.
“Saya yakin bahwa si Haji itu orangnya baik dan juga agamanya baik, saya pastikan itu,” sambung Bu Wawat lagi seraya menepuk pundak Nisa dengan halus.
Nisa hanya tersenyum datar saja menanggapinya, sebab ia pun sama sekali belum pernah berhadapan langsung dengan orang tua dari pacarnya, karena pacar pertamanya itu adalah Dani, suami orang, tentunya Nisa sangat kikuk sekali meski hanya bertemu dengan Uwa dari calon suaminya itu.
“Jadi nama keponakan Bu Wawat itu siapa?” tanya Pak Epi yang kini penasaran dengan nama calon menantunya.
“Namanya Reza, Reza Fahlevi, tapi kami sering memanggilnya haji, karena dia kan sudah berhaji juga,” jawab Bu Wawat menjelaskan kepada bapaknya Nisa.
“Wah, hebat sekali memang keluarga Bu Wawat ini, masih muda tapi sudah jadi haji,” sahut Pak Epi dengan mata bersorot-sorot, penuh dengan kekaguman.
Karena memang menurutnya bahwa orang yang sudah berhaji itu adalah orang yang tinggi ilmu agamanya, dan orang yang terpandang, padahal nyatanya gelar haji jika di kota, bukanlah apa-apa.
“Iya, makanya saya juga sayang banget sama si haji itu, anaknya baik banget duh, sayang banget kan kalau dia jatuh sama perempuan yang gak benar, kalau sama Nisa kan, saya yakin dan percaya bahwa anak Pak Epi dan Bu Aisyah ini sangat baik dan taat agamanya karena sudah mondok 8 tahun kan?” cerocos Bu Wawat bersungut-sungut yang tiada hentinya mengagungkan keponakannya itu.
“Jadi begini, Nisa! Saya tahu dari Erna, anak saya, kenal kan? Kan katanya Erna itu suka belanja produk kecantikan dari kamu, dan kebetulan sekali dengan bibinya itu yang sedang mencari calon menantu, kenapa gak katanya coba dijodohkan dengan Nisa,” tuturnya lagi.
Bu Wawat menceritakan dengan detail kenapa ia menjatuhkan hatinya kepada Nisa untuk dijodohkan dengan keponakannya itu, sebab tidak lain dari anaknya sendiri, Erna, yang memang beberapa minggu lalu keduanya saling dekat sebagai hubungan pembeli dan penjual.
Terlebih dengan Erna yang tahu betul dengan postingan sosial media Nisa, tentu saja ia pun yakin bahwa Nisa pantas untuk dijadikan sebagai istri dari sepupunya itu.
“Memang sudah jodoh mungkin, ya Pak Epi, Bu Aisyah, jadi semuanya dipermudah seperti ini, saya juga tidak menyangka kalau kita akan jadi besan,” ucap Bu Wawat lagi yang tiada hentinya merasa bersyukur.
Yaa meskipun memang Nisa berasal dari keluarga sederhana dan tinggal di kampung, akan tetapi ia memiliki pendidikan tinggi, saat ini ia sedang melanjutkan study S2 nya di Jakarta, siapa pula yang tidak ingin menjadikannya sebagai menantu?
Ditambah lagi dengan personal branding Nisa yang cukup bagus, umumnya lulusan pesantren selalu disangka baik saja oleh kebanyakan masyarakat di kampung, padahal sejatinya pendidikan pesantren pun tidak bisa menjadi jaminan seseorang itu taat agamanya atau tidak.
“Saya sih yakin kalau si Haji Eneng itu akan setuju kalau Nisa jadi mantunya, kalau di Haji Rezanya sendiri, tentu bagaimana orang tua aja, dia orangnya nurut banget, Bu, Pak,” ucap Bu Wawat lagi.
“Tapi beneran, Bu, kalau mereka akan menerima Nisa?” tanya Bu Aisyah khawatir, padahal Nisanya sendiri pun biasa saja.
“Tentu saja cocok, bahkan di Haji Eneng kemarin langsung bilang cocok ketika Erna mengirim photo Nisa dan juga biodata Nisa yang sekarang sedang lanjut S2, cocok sekali dengan keinginan adik saya itu,” jawab Bu Wawat menjelaskan juga.
Nisa kini sedikit tersentak ketika mendengar penjelasan dari Bu Wawat, kenapa malah calon mertuanya yang mempunyai kriteria tertentu, padahal yang akan menikah adalah anaknya, bukan dirinya, ah, entahlah!
Nisa kini malah mejadi ragu.
“Nisa kok kamu malah ngelamun begitu?” tanya Bu Wawat kepada Nisa sehingga membuyarkan lamunan Nisa.